Kompetensi Utama

Layanan


Ilmu Sains Berperan Penting
Penulis : Nur Hasan Murtiaji • Media : Republika.co.id • 25 Feb 2016 • Dibaca : 26882 x ,

JAKARTA -- Ilmu sains kerap dianggap sebagai pelajaran yang membosankan. Tidak semua orang gemar belajar sains karena pelajaran tersebut sering dianggap sebagai ilmu yang rumit dan tidak terapan.

Anggapan ini ingin ditepis oleh International Lunar Observatory Associaton (ILOA) melalui Galaxy Forum South East Asia yang terselenggara di Skyworld, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (24/2). Forum ini dilakukan rutin setiap tahun untuk mengedukasi masyarakat tentang ilmu astronomi dan ilmu antariksa.

Pembicara forum kali ini adalah Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, Founding Director ILOA Steve Durst, Director of National Astronomical Research Institute of Thailand (NARIT) Boonrucksar Soonthornthum, dan Rektor Universitas Ma Chung yang juga Board of Director ILOA Chatief Kunjaya.

Menurut Steve Durst, Indonesia punya peran penting dalam pengembangan ilmu astronomi dan antariksa. "Indonesia merupakan negara keempat terbanyak penduduknya di dunia dengan persebaran penduduk di 18.307 pulau. Para siswa mesti mendapatkan keuntungan dalam setiap ruang kelas mereka," kata Steve.

Steve kemudian menjelaskan tentang capaian teknologi antariksa, salah satunya pengiriman misi pesawat berawak Apollo 16 yang mendarat di Bulan. "Asia Tenggara memiliki posisi yang unik karena merupakan episentrum," kata Steve.

Kepala Lapan Thomas Djamaluddin mengatakan, edukasi tentang sains terus dilakukan Lapan. Misalnya, membuat space science festival dengan sasaran pelajar. Berbagai kompetisi di bidang astronomi juga digelar untuk meningkatkan minat siswa terhadap sains. Thomas pun menjelaskan pengembangan sejumlah satelit yang sudah diorbitkan Lapan.

Boonrucksar Soonthornthum menambahkan, antariksa menjadi salah satu bahasan yang menyenangkan untuk menarik minat masyarakat di bidang sains. Bagi siswa di Thailand, kata dia, membumikan astronomi bisa dilakukan dengan berbagai cara yang menyenangkan, mulai dengan membuat kemah astronomi hingga pelatihan guru-guru.

Dosen Prodi Astronomi ITB, Hakim L Malasan, mengatakan, kolaborasi antarnegara di ASEAN menjadi penting untuk pengembangan astronomi dan antariksa. "Kata kuncinya kolaborasi dan kerja sama," kata Hakim.

Menurut Chatief Kunjaya, astronomi bisa menjadi salah satu jembatan bagi anak-anak untuk mencintai sains. Bidang astronomi, kata dia, bisa menjadi salah satu alternatif belajar sains secara terapan. "Anak-anak takut sains sehingga tidak tertarik, lain dengan yang memang berminat. Meski sulit juga akan diterjang. Itulah yang kita cari dari Galaxy Forum ini," ujar Kunjaya.

Menurutnya, jika anak muda memiliki minat besar pada sains, Indonesia punya modal besar bagi kemajuan bangsa. "Kalau kita tidak melakukan pendidikan sains yang baik sekarang, 20 tahun lagi yang berminat sains akan tetap sedikit, sulit bagi kita untuk bersaing dengan negara lain," kata dia.

Presiden Direktur PT Rekreasndo Global Putra yang juga pengelola Skyworld, Arry Buchori, menyambut baik Galaxy Forum ini. Dia berharap ajang rutin ini bisa terselenggara rutin di Skyworld.

Menurutnya, pendidikan tentang keruangangkasaan penting dalam pengembangan sains dengan cara yang atraktif dan menyenangkan. Hal ini seiring dengan tujuan pembangunan wahana Skyworld di TMII untuk membawa lebih dekat ilmu astronomi kepada generasi muda.

Wahana yang dijadwalkan selesai dibangun pada tahun ini, nantinya menghadirkan berbagai simulasi luar angkasa. Pengunjung juga bisa berfoto ala luar angkasa sehingga antariksa bukan lagi menjadi sesuatu yang begitu jauh dari penduduk bumi. rep: Dwi Murdaningsih

Sumber :
http://www.republika.co.id/berita/koran/publik/16/02/25/o33a0813-ilmu-sains-berperan-penting








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL