Kompetensi Utama

Layanan


Kepala LAPAN: Melihat GMT dengan Mata Telanjang Tidak Berbahaya
Penulis Berita : Humas/And • Fotografer : Humas/And • 26 Feb 2016 • Dibaca : 16295 x ,

Kepala LAPAN menjawab pertanyaan seputar GMT.

Amankah mengamati terjadinya gerhana matahari dengan mata telanjang? Apakah gerhana mempengaruhi gravitasi? Lalu dengan cara bagaimana kita dapat menikmati keindahan fenomena alam tersebut? Hal tersebut merupakan sebagian pertanyaan yang dilontarkan peserta diskusi ‘Selamat Malam, Pagi’ yang diselenggarakan Tempo di Planetarium dan Observatorium, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (25/02).

Kegiatan diskusi ini diusung guna menyambut terjadinya Gerhana Matahari Total (GMT) pada 9 Maret mendatang di sebagian wilayah di Indonesia. Acara dibuka dengan sambutan Staf Ahli Bidang Infrastruktur Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Hari Purwanto. Menurutnya, diskusi terbuka ini selain bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan para pecinta astronomi, juga sangat bermanfaat untuk menciptakan peluang di berbagai hal, salah satunya aspek ekonomi untuk meningkatkan potensi wisata di beberapa daerah di Indonesia. “Kita jangan sampai kalah dengan pihak asing yang lebih leluasa memanfaatkan potensi wilayah kita,” ia menegaskan.

Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin mengawali presentasi dengan menyampaikan sejarah pengamatan dan proses terjadinya GMT. Ia memaparkan gerhana sebagai peristiwa astronomi suatu obyek yang menghalangi obyek lainnya. Berdasarkan teori Albert Einsteins, cahaya dibelokkan oleh suatu masa yang besar. Pada saat itu, gerhana pernah menjadi pembuktian dari teori fenomenal.

“GMT kali ini akan terjadi di wilayah-wilayah tertentu yang kebetulan sebagian besar terjadi di daratan di wilayah Indonesia, seperti sebagian wilayah Sumatera, Bangka, Kalimantan, serta Sulawesi, yang nantinya akan berakhir di Hawai,” ujarnya. Wilayah lintasan terjadinya gerhana digambarkan dalam wilayah elips dengan jalur sempit sekitar 100 sampai dengan 150 Km.

Kejadian tersebut menyedot perhatian masyarakat dunia untuk mendatangi negeri ini melakukan pengamatan. Masyarakat modern saat ini sangat tertarik dengan fenomena tersebut, sehingga dari aspek ekonomi, hal ini menjadi salah satu daya tarik wisata.

Apakah benar untuk mengamati GMT itu harus menggunakan kacamata karena dapat membahayakan kesehatan mata? Kepala LAPAN mengatakan, yang benar adalah cahaya yang dipancarkan oleh matahari pada saat gerhana sama dengan cahaya yang dipancarkan sehari-hari, sehingga anggapan itu tidak benar. Namun, ia menyarankan untuk mengamati beberapa saat saja, jangan berlama-lama dan dipaksakan.

GMT hanya dapat diamati dari daerah yang dilintasi bayangan umbra bulan. Peristiwa GMT di sebagian besar wilayah di Indonesia dapat diamati dengan prosentase terjadinya gerhana mencapai 60-90 persen. GMT ini diperkirakan terjadi pada pagi hari dimulai dari Pukul 6.00 WIB.

Lain halnya dengan pendapat pakar dari ITB, Premana W. Permadi. GMT ini ia istilahkan sebagai peristiwa tertutupnya seluruh piringan matahari, sedangkan yang nampak justru korona atau mahkotanya, di mana mahkota tersebut biasanya tersembunyi. Bagaimana dampaknya bagi kehidupan di bumi? Yaitu defleksi atau pembelokan lintasan cahaya. Lalu apakah ada anomali grafitasi ketika GMT? Hal ini yang masih memerlukan penelitian dan kajian lebih mendalam, karena sejauh ini masih terjadi silang pendapat terkait hal tersebut. Namun GMT tentunya akan sangat berdampak bagi negara atau wilayah yang sangat bergantung sumber energinya menggunakan pembangkit listrik tenaga surya, salah satunya Amerika Serikat.

Ternyata, fenomena ini juga berdampak terhadap kehidupan hewan. Perubahan perilaku hewan akan sangat terlihat, antara lain burung berhenti berkicau, kehidupan menjadi sunyi, kelelawar keluar dari sarangnya, nyamuk juga semakin banyak mencari santapan, serta jangkrik yang mengeluarkan suara nyaringnya. Hal ini disebabkan, hewan-hewan tersebut mengalami kebingungan.

Sementara itu, Muhammad Rayhan, pengamatan gerhana, mengupas berbagai mitos yang membayangi peristiwa gerhana. Untuk itu, ia mengajak masyarakat berbagi pengetahuan untuk mengamati peristiwa GMT agar terbuka wawasan dalam memahami fenomena alam tersebut. “Dulu, orang beranggapan bahwa matahari adalah dewa, jika sampai matahari tertutup oleh kegelapan, berarti matahari sudah dikalahkan oleh makhluk jahat, dan sebagainya. Sehingga, orang-orang akan serempak menolak aura jahat tersebut dengan membunyikan kentongan, dan yang lainnya. Ini terjadi saat ilmu pengetahuan belum memberikan jawaban, lain halnya dengan sekarang.”

Bagaimana cara yang mudah untuk menikmati fenomena tersebut? Para pecinta astronomi biasanya menggunakan teleskop, atau alat semacamnya yang mempunyai fungsi kaca pembesar. Namun sederhananya, kita dapat menggunakan metode pinhole, yaitu dengan menggunakan barang/benda yang mempunyai celah atau sela-sela ruang, antara lain pohon rimbun, tangan, biskuit, dan sebagainya.

Diskusi yang dipandu oleh Gabriel Wakyu Triyoga dari Tempo ini berlangsung intensif dengan variasi pertanyaan menarik yang diajukan oleh peserta di mana sebagian besar berasal dari kalangan pecinta ilmu astronomi. Pertemuan ini sangat memberikan pencerahan bagi pemula maupun masyarakat awam yang berminat untuk terlibat dalam kegiatan pengamatan untuk mengabadikan peristiwa lanka ini.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL