Kompetensi Utama

Layanan


Warga diimbau tidak lihat gerhana dengan "mata telanjang"
Penulis : Andilala • Media : Antaranews.com • 02 Mar 2016 • Dibaca : 10551 x ,

Kacamata Gerhana Matahari Total. Dua pekerja menyelesaikan pembuatan kacamata untuk melihat gerhana matahari total di Imah Noong TokoTeleskop, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Jawa Barat, Selasa (1/3). Kacamata yang terbuat dari bahan karton dan Plastik Netral Density (ND) 5 tersebut dijual dengan harga Rp. 12.500 - Rp. 25.000 dan didistribusikan ke beberapa daerah seperti Bangka Tengah, Belitung, Poso, Balikpapan dan Ternate sebagai alat untuk menyaksikan fenomena Gerhana Matahari Total. (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

Masyarakat hendaknya berhati-hati ketika melihat gerhana matahari nanti karena lidah cahaya matahari yang terpancar saat gerhana itu terjadi dapat merusak retina mata,"

Pontianak (ANTARA News) - Pemerintah Kota Pontianak mengimbau kepada warga kota itu agar tidak melihat gerhana matahari dengan "mata telanjang" tetapi menggunakan alat bantu, seperti teropong dan kaca mata khusus untuk menghindari kerusakan mata.

"Pemkot dan Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) akan menyiapkan fasilitas teropong dan kaca mata khusus di Komplek Masjid Raya Mujahidin bagi warga yang ingin menyaksikan detik-detik fenomena alam yang sangat langka ini," kata Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono di Pontianak, Rabu.

Alasannya, pada saat detik-detik gerhana matahari, ketika bulan mulai bergeser dan lidah cahaya matahari mulai terlihat, maka pancaran sinar itu dapat merusak retina mata.

"Masyarakat hendaknya berhati-hati ketika melihat gerhana matahari nanti karena lidah cahaya matahari yang terpancar saat gerhana itu terjadi dapat merusak retina mata," ungkapnya.

Ia menjelaskan, khusus di Masjid Raya Mujahidin juga akan digelar shalat sunnah gerhana matahari, 9 Maret 2016.

Menurut dia, Pemkot dan Lapan Pontianak akan menyiapkan dua titik lokasi pengamatan gerhana. "Kami memberi ruang kepada warga untuk dua titik pengamatan gerhana matahari, yakni di Kantor Lapan Pontianak dan Masjid Raya Mujahidin," ujarnya.

Edi mengajak para pelajar untuk mempelajari ilmu sains serta menggali informasi lebih dalam terkait gerhana matahari termasuk dampak yang ditimbulkannya bila dilihat dengan mata telanjang.

Sementara itu, Kepala Lapan Pontianak, Muzirwan menyatakan, pihaknya akan menyediakan sebanyak 180 kaca mata khusus untuk melihat kejadian yang hanya terjadi ratusan tahun sekali ini. Namun jumlah sebanyak itu akan dibagi untuk dua lokasi pengamatan, yakni di Kantor Lapan Pontianak dan Masjid Raya Mujahidin. "Mungkin sekitar 100 atau 90 kaca mata di Lapan dan 90 di Masjid Raya Mujahiddin," ujarnya.

Menurut dia, peristiwa gerhana matahari, terjadia ketika bulan menutupi matahari, memang tidak menimbulkan dampak yang berarti. Namun yang perlu diwaspadai adalah ketika matahari mulai muncul dan bulan bergeser, saat itulah sinar matahari bila dilihat tanpa bantuan alat dapat mengganggu fungsi retina mata manusia.

"Dampaknya memang tidak dirasakan pada saat itu juga tetapi dikuatirkan dalam jangka waktu beberapa minggu atau bulan kemudian baru terasa," ujarnya.

Oleh sebab itu, dirinya mengimbau masyarakat tidak terlalu terlena saat mengamati gerhana matahari sebab ada fase-fase tertentu yang harus diwaspadai seperti yang disebutnya.

sumber :
http://www.antaranews.com/berita/548060/warga-diimbau-tidak-lihat-gerhana-dengan-mata-telanjang








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2020 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL