Kompetensi Utama

Layanan


GMT, Mengubah Citra Menakutkan Menjadi Menakjubkan
Penulis Berita : Humas/EK-EP • Fotografer : Humas/AN • 08 Mar 2016 • Dibaca : 16932 x ,

Kepala Pusat Sains Antariksa LAPAN saat memaparkan mengenai GMT.

Gerhana Matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lebih kecil, namun bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya.

Hal tersebut dipaparkan Kepala Pusat Sains Antariksa LAPAN, Clara Yono Yatini dalam Sosialisasi Gerhana Matahari yang diselenggarakan oleh detik.com bekerja sama dengan LAPAN, Badan Keamanan Laut (Bakamla), BMKG, Kementerian Pariwisata dan Sriwijaya Air di Ternat, Maluku Utara, Selasa (8/3).

Detik.com berharap mampu mengubah image atau citra gerhana Matahari di mata masyarakat sebagai mitos yang menakutkan menjadi peristiwa ilmiah yang harus dipelajari, dilihat, serta dipahami dampaknya terhadap pengembangan potensi daerah yang dilewati oleh gerhana Matahari melalui sosialisasi, talk show, dan artikel-artikel.

Clara menambahkan bahwa masyarakat asli Indonesia sudah sejak lama menaruh perhatian pada langit, seperti Joko Belek adalah sebutan untuk Planet Mars. Mitos yang beredar di masyarakat Indonesia jangan dihilangkan karena di dunia astronomi juga banyak beredar tentang mitos, seperti Pleiades adalah tujuh bidadari (Maia, Electra, Alcyone, Taygete, Asterope, Celaeno, dan Merope), putri dari Dewa Atlas sang penyangga langit dalam mitos bangsa Yunani. Namun Clara mengimbau untuk memberikan pemahaman secara ilmiah kepada masyarakat secara berlahan hingga masyarakat dapat memahami peristiwa tersebut.

Gerhana Matahari yang melewati wilayah Indonesia dapat dipergunakan sebagai ajang pembelajaran tentang peristiwa ini secara ilmiah. Pembelajaran tersebut meliputi cara mengamati secara benar, misalkan dengan menggunakan kacamata filter Matahari. Pengamatan proses gerhana tidak disarankan dengan mata telanjang atau menggunakan pita film atau pita bekas kaset.

Hal ini disebabkan, paparan cahaya Matahari dengan intensitas tinggi dalam waktu yang lama akan menembus mata dan merusak retina sehingga berakibat pengelihatan kabur beberapa jam hingga minggu atau bahkan hingga mengakibatkan kerusakan permanen. Pengamatan dengan mata telanjang diperbolehkan pada saat gerhana matahari total (GMT).

Gerhana Matahari diawali dengan kontak pertama saat piringan Bulan pertama kali menyentuh piringan Matahari. Pada fase ini, filter Matahari wajib terpasang di depan lensa atau teleskop untuk mengurangi intesitas cahayanya agar dapat terfoto dengan baik dengan kamera yang kita gunakan. Beberapa detik sebelum fase total, matahari sabit sudah mulai dapat dilihat sekilas secara hati-hati tanpa menggunakan filter, secara bersamaan dengan Korona yang perlahan mulai menampakkan diri.

Kemudian, sabit dari piringan matahari dengan cepat mengecil dan menyatu bersama hingga akhirnya menampilkan Efek Cincin Permata (Diamond Ring Effect). Fenomena Efek Cincin Permata berlangsung dalam beberapa detik saja, seiring dengan semakin kecilnya cahaya pembentuk permata, sebelum akhirnya cahayanya terpecah menjadi beberapa titik cahaya terpisah berjajar yang membentuk efek manik-manik Bailey (Bailey’s Beads).

Efek manik-manik Bailey ini tercipta dari sisa-sisa sinar matahari yang terpecah oleh gunung-gunung yang ada di permukaan bulan dan menyisakan titik-titik cahaya terpisah yang memancar dari lembah-lembah dalam di bulan. Seiring dengan hilangnya titik cahaya terakhir dari Manik-manik Bailey, dimulailah fase Gerhana Matahari Total, dimana suasana sekitar akan diselimuti oleh cahaya senja, meskipun tidak segelap malam hari.

Proses penggelapan cahaya berlangsung sangat cepat. Planet dan bintang-bintang terang dapat terlihat dan seluruh cakrawala seperti saat matahari tenggelam atau terbit. Korona Matahari terlihat secara menakjubkan, namun jangan lupa bahwa fase setelah total akan kembali menampilkan Diamond Ring Effect dan Baily’s Beads.

Fenomena alam langka yang diprediksi terjadi di Indonesia pada 9 Maret 2016 diabadikan dengan diluncurkannya seri perangko gerhana matahari total 2016 oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) melalui PT. Pos Indonesia pada Sabtu (27/2) di Observatorium Bosscha, Lembang.

Bakamla pun turut mendukung pengamatan Gerhana Matahari di Ternate, dengan mengoperasikan kapal Bakamla yang berlayar di Laut Pasifik. Dan Laskar Gerhana Matahari yang hadir pada acara tersebut sangat antusias untuk mendapatkan penjelasan terjadinya gerhana dan dampak bagi negara yang dilewati.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL