Kompetensi Utama

Layanan


Misteri Korona Akan Terungkap : Gerhana Selanjutnya pada 2023, 2042, dan 2049
Penulis : (K41,H73,rtr,cnn,dtc,viva-59) • Media : Suaramerdeka.com • 10 Mar 2016 • Dibaca : 39262 x ,

MABA- Gerhana matahari, Rabu (9/3), disambut euforia masyarakat seantero Nusantara. Fenomena langka itu juga menjadi bekal para ilmuwan untuk mengungkap misteri sang surya.

Namun demikian, pengamatan gerhana matahari total (GMT) oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di Maba, Maluku Utara, tak berlangsung sempurna karena langit tertutup awan.

Padahal, Maba digadang-gadang sebagai lokasi terbaik untuk mengamati GMT tahun ini. Data yang bisa diambil saat terjadi GMT bisa digunakan untuk mempelajari cuaca matahari. Sebaliknya, Lapan mengklaim berhasil mengumpulkan data korona matahari.

Peneliti NASA Nelson Reginald menyatakan, teleskop dan kamera polarisator yang mereka gunakan tak bisa mengumpulkan informasi korona. “Kami sama sekali tidak mendapatkan data. Kami butuh langit yang benarbenar bebas awan,” ujarnya.

Korona adalah bagian paling luar dari atmosfer matahari. Korona tidak terlihat secara langsung dari bumi, kecuali pada saat terjadi gerhana matahari total atau dengan bantuan teleskop. Selama tiga jam proses gerhana, awan terus menggantung di atas langit Kota Maba. Cahaya korona matahari hanya berpendar dari balik awan. Reginald mengatakan, NASAakan terus mengejar data korona matahari.

Dia berencana mengamati GMT berikutnya yang berlangsung di Amerika Serikat pada 2017. Sementara itu, peneliti Lapan Emanuel Sungging Mumpuni menjelaskan, data spektrum yang dikumpulkan selama 60 detik itu akan menjadi informasi yang bisa dipakai untuk menyibak misteri korona matahari. “Data korona masih bercampur dengan kromosfer matahari.

Tapi campuran ini nanti bisa dipisahkan,” ujarnya. Sungging menambahkan, teleskop dan kamera yang digunakan dapat merekam data korona. Data tersebut berupa pita cahaya yang diselingi garis gelap. Garis-garis gelap itulah yang akan dipakai untuk mempelajari komposisi korona.

Dibutuhkan waktu untuk mengolah analisis data spektrum. Sungging berharap bisa melaporkan analisis awal ini pada simposium internasional tentang bumi, matahari, dan kehidupan, yang diselenggarakan Lapan pada Mei mendatang.

Gerhana Hibrida

Kepala Lapan Thomas Djamaluddin menginformasikan, kejadian serupa akan terulang tujuh tahun lagi. Namun, tidak seperti yang terjadi kemarin, gerhana itu nanti hanya bisa dinikmati di kawasan Indonesia bagian timur.

“Nanti akan ada GMT lagi tahun 2023 di Indonesia bagian timur, melintasi Papua.” Kawasan Indonesia bagian barat harus menunggu sampai 2042 untuk bisa menikmati kembali pemandangan matahari tertutup bulan. “GMT2042 hanya akan melintasi Sumatera dan Kalimantan,” jelasnya.

Pada 2049, menurut peneliti Lapan Rhorom Priyatikanto, akan ada peristiwa istimewa lainnya, yaitu gerhana hibrida. ‘’Artinya gerhana total terjadi berbarengan dengan gerhana cincin,” terang Rhorom.

Gerhana cincin, lanjutnya, sama seperti gerhana total, namun pinggiran penampakan matahari masih tersisa. “Bulan menutupi piringan matahari, namun kita bisa melihat pinggiran matahari yang berbentuk lingkaran itu. Jadi, pemandangan yang didapat adalah sinar sang surya yang menyerupai bentuk cincin,” paparnya.

Wakil Direktur Ilmiah pada Divisi Ilmiah Heliophysics yang tergabung dalam Goddard Space Flight Center NASAAlex Young mengungkapkan, area di pinggiran matahari memproduksi fenomena cuaca matahari atau solar weather, seperti kilatan api atau letupan massa korona.

Area itu juga menjadi lokasi terbentuknya angin matahari atau solar winds. Young menyebut, fenomena-fenomena itu penting untuk dipahami karena bisa berdampak pada sistem tata surya lainnya, termasuk bumi. Cuaca matahari dan letupan di permukaannya bisa berdampak pada satelit dan bahkan menciptakan radiasi berbahaya bagi astronaut di luar angkasa.

“Itulah mengapa sangat penting untuk memahami mengapa hal-hal seperti ini terjadi. Mungkin suatu hari, kami bisa memprediksi (cuaca matahari), sama seperti kami memprediksi cuaca di bumi,” ujar Young.

Selain dapat disaksikan di Indonesia, gerhana matahari total juga bisa dilihat di Australia, Hawaii, Singapura, dan Thailand. Kepala Bidang Zoologi Pusat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hari Sutrisno menjelaskan pengaruh GMT terhadap beberapa satwa yang menjadi bahan amatannya.

Beberapa satwa mengalami perubahan perilaku. “Seperti kalong atau kelelawar sebelum gerhana sangat berisik. Namun saat matahari tertutup, hening. Babi pun begitu, saat ada sinar seperti mau tidur. Perilaku ini kami amati penangkaran di Kebun Raya Bogor,” ujarnya.

Masuk ke Tanah

Adapun serangga umumnya menyangka fenomena gerhana sebagai tanda pergantian siang ke malam. Misalnya, tongeret saat gerhana mengeluarkan bunyi lebih rendah. Lain halnya dengan kumbang kotoran, pada pagi hari dia terlihat aktif, dan begitu matahari mulai tertutup serangga ini masuk ke tanah.

“Mungkin dikira kehidupan siang sudah berakhir. Tentu saja respons ini mungkin tak jauh berbeda dari satwa yang ada di alam liar.” Peneliti mamalia LIPI Wartika Rosa Farida mengatakan, dari riset ini bisa disimpulkan satwa yang beraktivitas pada siang hari tidak terlalu terpengaruh dengan perubahan gerhana.

“Mamalia yang paling sensitif atau menunjukkan respons positif di penangkaran adalah kukang. Saat cahaya terang dia tidur, namun saat gerhana kembali beraktivitas,” katanya. Adapun jenis reptil tidak terpengaruh cahaya.

Reptil terpengaruh suhu. Di Bangka Belitung, yang merupakan salah satu lintasan GMT, pengamat gerhana dari Institut Tehnologi Bandung (ITB) Dian Puspita mengatakan, gerhana serupa di daerah itu akan kembali terulang 300 tahun lagi.

Memang, gerhana matahari di Indonesia akan terjadi lagi 2023, tapi tidak terlihat di Bangka Belitung. Di Solo, gerhana berlangsung sesuai prediksi. Kondisi langit yang cerah mendukung penampakan gerhana, sehingga warga bisa menyaksikan dengan leluasa.

“Pukul 06.20 terlihat bulan menyentuh bayangan matahari. Penghitungan astronomi yang kami lakukan sebelumnya terbukti,” tegas Kepala UPT Perpustakaan Laboratorium dan Astronomi Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam, AR Sugeng Riyadi, di Observatorium PPMI.

Menurut Sugeng yang juga Ketua Umum DPP Asosiasi Maestro Astronomi dan Ilmu Falak Indonesia Merdeka (Astrofisika), pihaknya menyiarkan langsung fenomena alam itu melalui internet.

“Di Jateng, lokasi live streaming yang difasilitasi Kementerian Komunikasi dan Informatika hanya di sini. Kota lain di Jawa yang juga menyiarkan adalah Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta,” jelasnya.

Sumber :
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/misteri-korona-akan-terungkap/








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL