Kompetensi Utama

Layanan


Lapan Rilis Hasil Penelitian GMT pada Juni
Penulis : (Hde/Ric/Pro/X-8) • Media : Mediaindonesia.com • 10 Mar 2016 • Dibaca : 18867 x ,

GERHANA matahari total (GMT) yang melewati 12 provinsi di Indonesia sudah berakhir. Namun, para peneliti justru baru memulai pekerjaan penting mereka untuk mengungkap dampak peristiwa langka tersebut.

Bagi Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), GMT di Indonesia menjadi ajang uji coba teleskop baru mereka. Teleskop itu nantinya digunakan untuk mengamati gerhana matahari besar (GMB) Amerika pada Agustus 2017.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin menyatakan data hasil penelitian (GMT) akan dirilis pada Juni 2016, bertepatan dengan seminar internasional yang digelar Institut Teknologi Bandung (ITB).

"Tidak akan ada hasil penelitian yang baru karena pada dasarnya penelitian GMT bersifat pembaruan. Jadi, apa yang sudah diteliti pada GMT sebelumnya akan disempurnakan dengan instrumentasi yang lebih baik lagi di GMT sekarang," terang Thomas saat dihubungi, kemarin (Rabu, 9/3).

Penelitian itu, lanjutnya, lebih pada penyempurnaan morfologis korona yang sebelumnya sudah diprakirakan Lapan. Selain itu, tambah Thomas, ada penelitian terkait dengan pembelokan cahaya bintang serta magnet bumi yang terpengaruh oleh GMT. "Jadi bentuk laporannya nanti, sebelum dan setelah GMT," ujarnya.

Astronom ITB, Suhardja D Wiramihardja, mengatakan GMT tahun ini diharapkannya akan dapat menghasilkan penemuan baru di bidang astronomi. "Tidak hanya yang berkaitan dengan antariksa, tetapi juga berbagai pengaruhnya bagi lingkungan bumi," ujarnya.

Di sisi lain, pakar matahari NASA, C Alex Young, mengatakan para peneliti sedang bekerja keras untuk mengungkap dampak dari tertutupnya matahari oleh bulan selama sekitar 4 menit. NASA, lanjut Young, mengamati GMT dari Pulau Woleai di Mikronesia.

Menurutnya, para peneliti NASA memasang peralatan di jalur gerhana matahari untuk mengungkap atmosfer luar matahari (korona) yang normalnya sekitar 1 juta kali lebih gelap dari sang surya.

"Bagian dari atmosfer matahari itu sangat penting. Di situlah semua kejadian berlangsung. Dari situlah semua bagian yang menyusun cuaca matahari berasal," jelas Young kepada <>Space.com, kemarin.

Menurutnya, saat gelap total orang bisa melihat bintang dan merasakan penurunan suhu. Bagi hewan, mereka mengira itu malam dan tiba-tiba diam.

Sumber :
http://www.mediaindonesia.com/news/read/33266/lapan-rilis-hasil-penelitian-gmt-pada-juni/2016-03-10









Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL