Kompetensi Utama

Layanan


Gerhana Matahari Total Menarik 69 Peneliti Asing Datang Di Indonesia
Penulis : Galih - JP • Media : http://www.jakartapers.com • 16 Mar 2016 • Dibaca : 17369 x ,



Jakarta - Indonesia kedatangan 69 Peneliti dari 12 Negara akan melakukan penelitian pada saat Gerhana Matahari Total (GMT). Hasil penelitian tersebut bakal dibuka dan dibagi kepada Indonesia.

"Harapan kami ada banyak hasil penelitian terkait GMT yang akan berguna buat kami, seperti efek, atau fenomena lain yang dihasilkan," terang Kepala bagian Hubungan Masyarakat Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Jasyanto, Senin (7/3/2016).

Lapan, lanjut dia, bertugas di lapangan untuk mengkoordinasikan para peneliti asing, agar tidak mendapat kesulitan saat melakukan penelitian. Oleh karena itu, Lapan mengerahkan sumber daya di daerah untuk membantu para peneliti.

"Tim kami (Peneliti Lapan), tidak banyak. Oleh karena itu, sangat bagus ketika ada Peneliti asing yang melakukan penelitian di sini," imbuh dia.

Menurut Jasyanto, tim peneliti Lapan sendiri sudah disebar di lokasi-lokasi strategis yang akan mendapat pemandangan GMT secara penuh. Sehingga hasil penelitian akan berjalan maksimal.

Sebelumnya, Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan genomena gerhana matahari total tidak berbahaya. Namun, masyarakat perlu berhati-hati menyikapi fenomena ini.

Thomas tidak ingin kejadian pada 11 Juni 1983 terulang. Saat gerhana matahari muncul, masyarakat cenderung takut menyaksikan peristiwa langkah ini.

"Masyarakat cenderung ditakuti gerhana matahari itu berbahaya, jadi masyarakat hanya bisa berada di rumah," kata Thomas kepada Metrotvnews.com, Senin 7 Maret.

Dia mengatakan, pada zaman modern, peristiwa gerhana matahari total harus disikapi sebagai fenomena siklus alami pergerakan bulan dan matahari. Saat gerhana, tidak ada radiasi yang dipancarkan oleh matahari.

Lebih berbahaya bila masyarakat melihat matahari selain saat gerhana secara langsung. "Ketika melihat matahari, bahaya utamanya dari cahanya yang sangat menyilaukan itu," kata pakar astronomi ini.

Cahaya matahari bisa merusak retina. Meski gerhana matahari total tidak berbahaya, menurut Thomas, masyarakat perlu berhati-hati menyaksikan fenomena alam ini.

"Jika secara langsung (tanpa kaca mata) mungkin hanya bisa satu atau dua detik. Itu pun cahanyanya sangat kuat sekali, mata cenderung akan menutup secara alami. Jangan dipaksakan," ujarnya.

Thomas mengimbau agar masyarakat menggunakan lapisan yang dapat menghalangi mata kontak langsung dengan cahaya matahari. Cara-cara seperti membuat masyarakat bisa menyaksikan gerhana matahari total dengan leluasa. (Galih - JP)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL