Kompetensi Utama

Layanan


Gerhana Matahari Total, Lintasi Sulawesi (Palu, Gorontalo, Manado, Mamuju, Kendari dan Makassar).
Penulis : Redaksi • Media : korem143.kodam-wirabuana.mil.id • 16 Mar 2016 • Dibaca : 36643 x ,

KENDARI (korem143) – Pada 9 Maret 2016, sebagian besar Pasifik, meliputi Indonesia, Malaysia, dan negara-negara lainnya di Asia Tenggara dan benua Australia akan dapat menyaksikan gerhana matahari parsial. Gerhana matahari total dianggap sebagai salah satu fenomena alam paling mengesankan yang terjadi di Bumi. Di Timur Samudera Pasifik, gerhana matahari total akan terjadi selama lebih dari 4 menit. Sebagian besar India dan Nepal akan mengalami gerhana matahari parsial. Sementara itu, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Papua Nugini akan dapat menyaksikan lebih dari 50% gerhana parsial. Sedangkan Kamboja, Myanmar, Vietnam dan Thailand akan melihat sekitar 50% gerhana matahari parsial. Sementara Australia, China, Jepang dan Alaska akan mendapatkan kurang dari 50% gerhana parsial.

Menurut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, Gerhana matahari total ini pernah terjadi sebelumnya di Indonesia, yaitu pada 1983, 1988, dan 1995. Gerhana matahari total akan terjadi lagi pada 9 Maret 2016 dan diperkirakan Gerhana matahari total ini baru akan terjadi lagi pada 2023.

Gerhana matahari total ini akan bisa disaksikan dengan jelas di 12 provinsi dari Indonesia bagian barat sampai timur. Untuk wilayah Indonesia bagian barat, waktu puncak terjadinya gerhana adalah pada pukul 07.20 WIB. Untuk Indonesia bagian tengah, puncak gerhana matahari total akan terjadi pada pukul 08.35 WITA. Sedangkan untuk Indonesia bagian timur, puncak gerhana ini akan terlihat pada pukul 09.50 WIT.

Provinsi yang penduduknya bisa melihat gerhana matahari total adalah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat. Selain itu, wilayah lain, seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah, serta Maluku Utara.
Wilayah Indonesia lain yang tidak berada di 12 provinsi tersebut akan tetap bisa menyaksikan gerhana matahari meski hanya sebagian yang terlihat. Menurut LAPAN, gerhana matahari total itu hanya akan terlihat selama 1,5-3 menit.

Gerhana matahari total pernah melintasi Sulawesi Tenggara 33 tahun silam tepatnya 11 Juni 1983. Ketika itu, masyarakat dilarang menyaksikan fenomena langka itu karena masih terbatasnya ilmu pengetahuan. Butuh siklus waktu 350 tahun untuk gerhana matahari total (100 persen) melintasi daerah yang sama. Hanya beberapa daerah tertentu saja yang berada di posisi garis khatulistiwa bisa dilintasi gerhana matahari total dalam kurun waktu lebih singkat.

Kepala Stasiun Geofisika Kendari, Rosa Amelia mengatakan peristiwa alam ini bisa disaksikan warga Kendari mulai pukul 07.28 Wita atau saat kontak pertama matahari mulai tertutup bulan. Namun puncak gerhana baru terjadi pada pukul 08.40 Wita dengan posisi gerhana mencapai 0,921 magnitudo. Hanya sebagian kecil matahari akan terlihat. Setelah berlangsung beberapa menit, posisi matahari perlahan-lahan akan terlihat. Pada pukul 10.02 Wita, matahari akan bersinar normal kembali.

Karena berbatasan dengan daerah gerhana matahari total, lanjut Rosa, fenomena alam ini lebih terasa. Apalagi status gerhananya mencapai 0,942 magnitudo. Berdasarkan pengamatan satelit, gerhana mulai terlihat pada pukul 07.27 Wita. Namun warga Lasusua, bisa menyaksikan puncak gerhananya lebih duluan satu menit. Sebab posisi maksimum matahari tertutup bulan pada pukul 08.38 Wita sementara di Wanggudu baru pada pukul 08.39 Wita. Sedangkan moment terakhir matahari tertutup bula pada pukul 09.59 Wita di Lasusua dan pukul 10.02 Wita di Wanggudu.

“Untuk kegiatan pemantauan gerhana matahari, hanya dilakukan di kantor (Stasiun Geofisika Kendari, red). Sebab proses pemantauan gerhana memang telah dipusatkan di Palu. Makanya, kami tidak melakukan kegiatan khusus. Kami hanya melakukan pemantauan di Kantor dan merecord gerhana matahari di Kendari dan daerah lainnya di Sultra,” kata Rosa Amelia.

Gerhana matahari total merupakan sebuah fenomena langka yang tidak hanya ditunggu-tunggu oleh para ilmuwan, tapi juga masyarakat di seluruh dunia. Fenomena ini tidak terjadi setahun sekali, tapi belasan atau bahkan ratusan tahun lagi baru akan terlihat. Tak heran jika banyak orang yang kini bersiap-siap menyambut datangnya gerhana matahari total, 9 Maret 2016. Hanya saja, ia menyarankan warga yang ingin memantau gerhana harus menggunakan kacamata khusus. Sebab bila ditatap terlalu lama, bisa berimplikasi pada penglihatan. Sinar ultraviolet yang dipancarkan akan berpengaruh retina mata. “Mengamati gerhana matahari, memerlukan cara tertentu agar aman. Kalau bisa saya, sarankan untuk menggunakan kacamata matahari yang dilapisi filter khusus. Hal ini untuk mencegah kerusakan mata jika mengamati secara langsung tanpa alat bantuan. Apalagi lebar jejak gerhana ke muka bumi sepanjang 155 kilometer,” jelasnya.

Meski demikian, kata dia, gerhana matahari tidak harus ditakuti. Menurutnya, masyarakat bisa melihat langsung gerhana dengan mata telanjang. Hanya saja, tidak bisa lama-lama. Apalagi saat peralihan fase total ke fase sebagian, saat bulan mulai bergeser, cahaya matahari yang walau baru muncul sedikit sudah sangat kuat. “Kalau hanya sesaat dilihat dengan mata telanjang, tidak ada masalah. Namun kalau dipantau cukup lama bisa berpotensi kebutaan. Makanya, masyarakat diimbau untuk tidak melihat matahari terlalu lama terkecuali menggunakan kacamata khusus. Bukan kacamata riben ya ? Soalnya tidak bisa melindungi mata,” katanya.

Berbeda dengan pendapat Kabag Humas Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Jakarta, Jasyanto mengungkapkan gerhana matahari setengah yang akan melintas di Kota Kendari masyarakat dapat menatapnya langsung dengan menggunakan mata telanjang tanpa harus menggunakan kacamata gerhana. Menurutnya, cahaya ultraviolet tak akan menyebabkan kebutaan jika tak terlalu lama ditatap dengan rentang waktu dua detik sekali menatap saat gerhana berlangsung. “Tak perlu ditakuti masyarkat bahwa menatap gerhana matahari itu dapat menyebabkan kebutaan. Gerhana matahari ini sangat langka. Sangat disayangkan kalau diabaikan,” ujar Jasyanto saat dihubungi melalui telepon selulernya, Minggu malam (6/3/2016).

Jasyanto juga menjelaskan, daerah yang ada di Indonesia mengalami gerhana matahari rata-rata 60 persen. Untuk Kendari, kata dia, akan mengalami gerhana matahari setengah dengan prakiraan 80 persen bulan akan menutupi cahaya matahari. “Sebenarnya cahaya matahari saat gerhana tidak berbahaya. Hanya saja harus tetap berhati-hati. Yang dikhawatirkan adalah ketika bulan sudah mulai meninggalkan matahari. Sehingga cahaya matahari mendadak keluar dan retina mata saat itu tak mampu menahan cahaya ultraviolet dengan waktu yang lama. Boleh ditatap dengan rentang waktu satu atau dua detik saja dalam sekali menatap,” katanya.

Apa itu Gerhana Matahari ?

Gerhana adalah fenomena astronomi yang terjadi apabila sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Istilah ini umumnya digunakan untuk gerhana Matahari ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, atau gerhana bulan saat sebagian atau keseluruhan penampang
Bulan tertutup oleh bayangan Bumi. Gerhana matahari terjadi ketika matahari, bulan dan bumi berada pada suatu garis lurus. Sedangkan gerhana bulan terjadi matahari, bumi dan bulan berada pada suatu garis lurus. Gerhana matahari terjadi pada fase bulan baru (new moon), namun tidak setiap bulan baru akan terjadi gerhana matahari.

Pada peristiwa gerhana matahari yang terlihat dari suatu tempat di permukaan bumi, secara umum ada tiga tipe gerhana, yaitu gerhana matahari total, parsial dan cincin. Namun kalau kita tinjau gerhana matahari secara umum, ada enam tipe gerhana, yaitu

1. Tipe P atau parsial, yaitu ketika hanya bagian kerucut penumbra bulan mengenai permukaan bumi. Orang yang berada di daerah yang dapat menyaksikan gerhana, hanya akan melihat gerhana parsial.

2. Tipe T atau total, yaitu gerhana sentral yang mana kerucut umbra bulan mengenai permukaan bumi. Pada gerhana sentral, sumbu bayangan bulan mengenai permukaan bumi. Pada tipe gerhana total ini, ada yang disebut garis sentral, yaitu garis lurus yang menghubungkan titik pusat matahari, titik pusat bulan dan tempat di permukaan bumi. Saat dikatakan terjadi gerhana matahari total, hanya sebagian kecil saja tempat di permukaan bumi yang dapat menyaksikan gerhana total. Sebagian besar tempat yang lain hanya dapat menyaksikan secara parsial. Dan mayoritas tempat di permukaan bumi tidak dapat menyaksikan baik total atau parsial, entah karena di tempat tersebut matahari tidak berada di atas ufuk (waktu malam), entah karena matahari di atas ufuk.

3. Tipe A, atau annular (cincin), yaitu jenis gerhana sentral yang mana perpanjangan kerucut umbra bulan mengenai permukaan bumi.

4. Tipe A-T, atau gabungan cincin dan total. Pada tipe gerhana ini, gerhana dimulai dengan fase cincin, di tengahnya menjadi total dan diakhiri dengan fase cincin kembali.

5. Tipe (T), atau gerhana total tetapi tidak sentral. Ini terjadi di daerah sekitar kutub utara atau selatan. Maksudnya, sumbu umbra tidak mengenai permukaan bumi tetapi ada sedikit bagian umbra yang masih mengenai bumi (di daerah kutub).

6. Tipe (A), atau gerhana cincin tetapi tidak sentral. Ini juga terjadi di daerah kutub, dimana sumbu umbra tidak mengenai permukaan bumi, tetapi ada sedikit perpanjangan kerucut umbra yang masih mengenai bumi (di daerah kutub).

Tipe gerhana yang paling sering muncul adalah tipe P, T dan A.
Pakar Astronom Sultra, Dr Zamrun mengatakan, fenomena gerhana matahari tidak akan dilewatkan oleh para ilmuwan. Indonesia, khususnya di provinsi Sulawesi Tengah akan dibanjiri para ilmuwan mancanegara dalam menyaksikan gerhana total di daerah tersebut untuk keperluan riset. “Bulan yang kecil dapat menutupi cahaya matahari yang besar karena jarak bulan lebih dekat dengan bumi yaitu 384.400 kilometer. Sedangkan jarak bumi ke matahari adalah 149.680.000 kilometer,” ujar alumni Fisika Tohoku University Jepang ini.

Demikian informasi seputar Gerhana matahari yang akan terjadi pada tanggal 9 Maret 2016 nanti.

Sumber : http://korem143.kodam-wirabuana.mil.id/2016/03/07/732/








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL