Kompetensi Utama

Layanan


Pengembangan Iptek Penerbangan dan Antariksa Menuju Indonesia Maju dan Mandiri
Penulis Berita : T.Djamaluddin • Fotografer : Dok.Humas • 28 Mar 2016 • Dibaca : 56479 x ,

Penampilan perdana pesawat N219 hasil kerjasama LAPAN dengan PTDI.

Dua teknologi yang saat ini tidak bisa lagi ditinggalkan dalam kehidupan manusia modern adalah teknologi informasi dan teknologi antariksa. Bukan hanya dalam skala besar negara dan korporasi, tetapi juga dalam skala mikro individual. Tulisan ini memfokuskan pada teknologi antariksa dan iptek yang terkait dengannya. Teknologi antariksa bukan lagi kebutuhan negara-negara maju, tetapi semua negara membutuhkannya untuk berbagai sektor kehidupan.

Telekomunikasi dan media massa saat ini sangat bergantung pada teknologi satelit. Sektor perekonomian juga sangat dipermudah dengan berbagai fasilitas komunikasi data yang mengandalkan satelit. Pertanian sangat membutuhkan data satelit terkait dengan prakiraan iklim dan fase pertumbuhan tanaman untuk pemantauan skala nasional. Sektor kehutanan tidak bisa lagi mengandalkan pemantauan konvensional, saat ini sudah sangat bergantung pada satelit penginderaan jauh. Sektor kemaritiman untuk Indonesia yang sebagian besar wilayahnya berupa laut, mutlak memerlukan satelit. Itulah beberapa contoh kehidupan manusia modern dalam skala besar. Untuk skala mikro individu, manusia modern sangat bergantung pada gadget yang secara operasional tidak bisa optimal tanpa penggunaan satelit.

Indonesia sejak 1976 menjadi negara pengguna satelit komunikasi, ketiga setelah Amerika Serikat dan Kanada. Sejak 1980-an pula Indonesia memanfaatkan data-data penginderaan jauh dari satelit internasional. Indonesia sudah lama menjadi negara yang bergantung pada teknologi antariksa. LAPAN, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, yang dilahirkan 1963 mempunyai misi untuk membangun kemandirian teknologi antariksa, juga teknologi yang terkait dengannya, teknologi aeronotika atau penerbangan. Cita-cita besar itu diperkuat dengan lahirnya Undang-undang Nomor 21 tahun 2013 tentang Keantariksaan. Di dalam undang-undang itu diamanatkan LAPAN menjadi lembaga penyelenggara keantariksaan.

Dalam menyelenggarakan tugas fungsinya, LAPAN membangun empat kompetensi: (1) sains antariksa dan atmosfer, (2) teknologi penerbangan, roket, dan satelit, (3) penginderaan jauh, dan (4) kajian kebijakan penerbangan dan antariksa. Untuk memberikan arah yang jelas, LAPAN mempunyai visi menjadi pusat unggulan penerbangan dan antariksa untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan mandiri. Sebagai pusat unggulan, dua indikator utamanya adalah unggul pada empat kompetensi tersebut dan unggul pada layanan informasi dan produk teknologinya.


Untuk memfokuskan program pengembangan iptek penerbangan dan antariksa, LAPAN mempunyai satu program besar, yaitu reformasi birokrasi, antara lain dengan membenahi tata kelola organisasi dan meningkatkan layanan publik. Untuk memfokuskan pengembangan kompetensi, LAPAN mempunyai tujuh program utama pengembangan: (1) Sistem pendukung keputusan (DSS) cuaca antariksa, (2) Sistem pendukung keputusan dinamika atmosfer ekuator, (3) teknologi pesawat transport dan sistem pemantau maritim berbasis pesawat tanpa awak, (4) teknologi satelit, (5) teknologi roket sonda menuju roket peluncur satelit, (6) bank data penginderaan jauh nasional, dan (7) sistem pemantau bumi nasional.


Berikut ini beberapa capaian yang telah diperoleh LAPAN

Cuaca antariksa adalah kondisi dinamis di lingkungan antariksa antara matahari dan bumi yang dipengaruhi oleh aktivitas matahari. Dalam bahasa awam yang kini sudah dikenal, cuaca antariksa terutama terkait kemungkinan badai matahari yang berdampak pada kala hidup satelit dan teknologi lain yang dipengaruhinya. LAPAN adalah satu-satunya lembaga di Indonesia yang memantau dan memberikan layanan informasi terkait dengan cuaca antariksa. Di situs web, LAPAN menyediakan informasi rutin harian terkait cuaca antariksa dengan sistem SWIFTs (Space Weather Information and Forcast Services).

Dinamika atmosfer dipantau dengan memanfaatkan satelit cuaca dan model atmosfer untuk memberikan informasi potensi cuaca ekstrem. Sebagai pelengkap informasi cuaca oleh BMKG, LAPAN mengembangkan juga SADEWA, (Satellite based Disaster Early Warning System). Sistem ini diintegrasikan dengan sistem lainnya, misalnya dengan informasi zona potensi penangkapan ikan, untuk memberikan informasi kepada para nelayan sebelum melaut. Dengan informasi itu, nelayan bisa menuju zona yang banyak ikannya dan melaut dengan memperhitungkan ada tidaknya cuaca ekstrem di laut.

Teknologi pesawat transport dikembangkan bekerjasama dengan PTDI. Saat ini telah dikembangkan pesawat N219 (bermesin ganda untuk 19 penumpang) yang telah diperkenalkan bentuk fisiknya dan direncanakan terbang perdana pada 2016 dan diproduksi 2017. Program selanjutnya adalah pengembangan varian N219 dan generasi berikutnya N245 dan N270 sesuai dengan kebutuhan pasar penerbangan di Indonesia. Kondisi geografis Indonesia yang khas, terutama di daerah terpencil, menuntut adanya pesawat yang bisa mengatasi kendala yang ada, antara lain landasan pendek dan berbukit-bukit.

Sistem pemantau wilayah maritim yang luas memang lebih efektif menggunakan satelit. Tetapi kondisi berawan sering menjadi kendala. Sementara pemantauan dengan pesawat terbang secara konvensional juga sangat mahal. Maka dikembangkan inovasi sistem pemantau maritim berbasis pesawat tanpa awak. Generasi ketiga pesawat tanpa awak (LAPAN Survaillance UAV, LSU-03) yang dikembangkan LAPAN telah memecahkan rekor MURI untuk terbang otonomus dari Garut menuju Pangandaran sampai Cilacap, pergi pulang dengan penerbangan terprogram. Jarak yang ditempuh 340 km dalam waktu 3,5 jam. Kendala bahan bakar dalam mempertahankan lama terbang akan dikombinasikan juga dengan energi matahari. Varian lebih besar LSU-05 disiapkan untuk membawa muatan lebih besar dan jarak jangkau yang lebih jauh. Sistem pemantau maritim berbasis pesawat tanpa awak sedang dikembangkan LAPAN.

Cita-cita untuk mempunyai roket peluncur satelit dikejar secara bertahap melalui pengembangan roket sonda, roket penelitian atmosfer. Fungsi ganda roket, untuk keperluan sipil dan militer, menjadi kendala dalam membangun kemampuan teknologi roket. Sungguh tidak mudah untuk menyekolahkan para peneliti/perekayasa untuk mendapatkan pendidikan lanjut bidang roket. Demikian juga untuk mendapatkan bahan baku tabung, nozel, dan bahan bakar roket (propelant) yang berkualitas tinggi sangat sulit. Capaian saat ini roket berdiameter 120 mm dan 220 mm dianggap telah mempunyai kinerja yang semakin baik. Roket berdiameter 320 mm dan 450 mm telah diuji terbangkan, sementara roket berdiamater 550 mm masih uji statik. Kestabilan trayektori roket juga terus ditingkatkan.

Kemampuan pengembangan satelit dimulai dengan satelit generasi awal hasil bimbingan TU Berlin (satelit LAPAN-A1/LAPAN-TUBSat) yang telah mengorbit sejak 2007 pada ketinggian 630 km. Walau kala hidup orbital bisa sampai 50 tahun, kala hidup operasionalnya sangat terbatas. Dari prakiraan kala hidup operasional hanya 2 tahun, ternyata LAPAN-A1 bisa bertahan selama 6 tahun, berkat kondisi cuaca antariksa yang tidak terlalu ekstrem sejak 2017-2013. Generasi satelit berikutnya murni dibuat di faslitas LAPAN, yaitu satelit LAPAN-A2/LAPAN-Orari, walau untuk peluncurannya masih menggunakan roket Inidia. Saat ini satelit LAPAN-Orari telah berada di orbit pada ketinggian 650 km dan semua missinya telah berfungsi dengan baik. Satelit berikutnya LAPAN-A3/LAPAN-IPB sedang diintegrasikan dan diuji untuk diluncurkan 2016.



Citra terbaru daerah Batam dari satelit LAPAN-A2 dibandingkan dengan citra lama dari Google


Bank data penginderaan jauh nasional dikembangkan dengan meningkatkan kemampuan akuisisi data dan sistem layanan datanya. LAPAN mempunyai dua stasiun bumi utama penerima citra satelit, di Pare-pare dan Bogor. Stasiun bumi di Pare-pare bisa mengakuisisi citra satelit sampai resolusi 1,5 meter. Untuk citra satelit resolusi sangat tinggi (sampai resolusi 0,5 meter) diadakan dengan pengadaan citra komersial. Untuk pembuatan rencana detil tata ruang diperlukan citra satelit resolusi tinggi dan sangat tinggi. LAPAN telah memberikan layanan data citra satelit kepada semua kementerian, lembaga, dan daerah secara gratis karena menggunakan lisensi pemerintah. Menurut Undang-undang Keantariksaan, pengoperasian dan pengembangan stasiun bumi hanya dapat dilakukan oleh LAPAN.

Sistem pemantau bumi nasional adalah sistem informasi penginderaan jauh yang memberikan layanan informasi kondisi lingkungan dan sumber daya alam. Dengan sistem tersebut, LAPAN memberikan layanan informasi tanggap darurat bencana berupa citra satelit resolusi tinggi pra- dan pasca-bencana letusan gunung, gempa, tanah longsor, dan banjir. Dengan informasi tersebut evakuasi korban dan pengendalian dampaknya dapat segera dilakukan. LAPAN juga memberikan informasi kebakaran lahan dan hutan untuk penanggulangannya. Informasi zona potensi penangkapan ikan juga diberikan rutin harian, sehingga bisa meningkatkan produktivitas penangkapan ikan. Informasi pertumbuhan padi juga diberikan kepada Kementerian Pertanian untuk membantu manajemen distribusi pupuk dan prakiraan panen secara nasional.

Itulah beberapa capaian LAPAN dalam mewujudkan Indonesia maju dan mandiri di bidang penerbangan dan antariksa. Dengan segala keterbatasan jumlah SDM dan anggaran, LAPAN bertekad menjadi pusat unggulan secara bertahap. LAPAN mempunyai slogan sebagai ungkapan visi, “LAPAN unggul untuk Indonesia maju, LAPAN melayani untuk Indonesia mandiri”.



Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL