Kompetensi Utama

Layanan


Anomali Basah di Musim Peralihan
Penulis Berita : Sumber PSTA LAPAN • Fotografer : Dok. psta.lapan.go.id • 23 May 2016 • Dibaca : 5350 x ,

Anomali basah terjadi pada musim peralihan dari musim hujan menuju kemarau tahun ini. Hal ini ditandai dengan curah hujan yang masih banyak turun di Indonesia bagian selatan dan tenggara selama bulan Maret dan April 2016. Curah hujan bahkan meningkat sejak awal hingga pertengahan bulan Mei.

Anomali hujan ini disebabkan oleh tiga faktor utama. Pelemahan El Nino menuju normal menyebabkan anomaly basah tersebut. Pelemahan El Nino sekaligus mengembalikan secara perlahan kekuatan sirkulasi Walker sehingga angin timuran kembali bertiup dari kawasan Samudra Pasifik ekuator menuju Indonesia. Angin timuran ini diperkuat dengan pembentukan sistem tekanan rendah di Samudra Hindia dengan keberadaan depresi tropis yang muncul selama musim peralihan.

Faktor penyebab lainnya adalah aktivitas MJO (Madden Julian Oscillation) yang menguat di atas Samudra Hindia (fase 2 dan 3). MJO fase 2 dan 3 secara klimatologis telah diteliti dapat menimbulkan anomali hujan di Indonesia bagian barat dan tengah (Hidayat and Kinzu, 2010).

Faktor lainnya lagi yaitu kekuatan monsun Australia yang lebih lemah dibandingkan klimatologisnya. Hal ini juga dapat berdampak pada pengurangan sifat kering pada angin tenggara-an yang bertiup dari Australia sehingga dapat menunda musim kemarau di Indonesia bagian selatan.

Sementara itu, hasil prediksi model atmosfer CCAM (Cubic Conformal Atmospheric Model) yang dikembangkan di Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN memperlihatkan selama bulan Juni wilayah Indonesia masih akan mengalami kondisi cukup hujan (Gambar 1). Penurunan hujan hanya terjadi di bagian tenggara Indonesia. Demikian juga pada bulan Juli dan Agustus, penurunan curah hujan di selatan Indonesia tampak tidak signifikan sebagaimana tahun lalu. Ini artinya, kemungkinan Indonesia akan mengalami anomali basah pada musim kemarau tahun ini.

Prediksi mengenai anomali musim basah di musim kemarau secara fisis berkaitan dengan dua faktor pemicu utama. Pertama, terjadinya proses penyeimbangan (reinforce) di kawasan Samudra Pasifik dengan terbentuknya upwelling Kelvin Wave di laut, sebagai pembangkit awal terjadinya La Nina. Hal ini dibuktikan dari hasil pemantauan tinggi permukaan air laut di Samudra Pasifik barat dekat wilayah Indonesia yang lebih tinggi dan menjalar menuju ke timur. Kedua, aktivitas MJO yang kemungkinan terus menjalar ke wilayah Indonesia (fase 4 dan 5) sehingga menimbulkan aktivitas konveksi yang tinggi melalui pergerakannya. (Sumber - Tim Variabilitas Iklim PSTA LAPAN)


Gambar 1. Prediksi CCAM dengan initial condition tanggal 1 Mei 2016 dan input data prediksi suhu permukaan laut POAMA untuk Bulan Mei (kiri) dan Juni (kanan) 2016.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2020 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL