Kompetensi Utama

Layanan


Kepala LAPAN Sosialisasikan Pembangunan Observatorium Nasional di Kupang
Penulis Berita : Humas/Christine • Fotografer : Dok. PSA • 21 May 2016 • Dibaca : 12994 x ,

Kepala LAPAN berfoto bersama pembicara lainnya dalam sosialisasi Observatorium Nasional di Kupang

Observatorium Bosscha di Lembang, dikenal sebagai salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia, bahkan di tingkat Asia Tenggara. Namun sejak Kota Lembang tumbuh pesat menjadi kota bisnis, maka fasilitas observasi bidang astronomi di observatorium tersebut menjadi terganggu. Tingginya tingkat polusi, terutama polusi cahaya, menghambat para peneliti dalam melakukan observasi untuk memandang langit yang selalu diharapkan Nampak cerah. 

Kondisi ini membawa pemikiran beberapa instansi dan komunitas pecinta bidang astronomi untuk membangun fasilitas yang lebih memadahi. Untuk mengenalkan rencana pembangunan tersebut, LAPAN bersama beberapa instansi dan komunitas astronomi melakukan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat setempat. Kegiatan diselenggarakan di Kecamatan Amfoang Tengah, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (21/05). Kegiatan tersebut juga untuk membentuk komunitas pecinta astronomi di lingkungan setempat, serta memperoleh dukungan masyarakat untuk berpartisipasi mewujudkan rencana pembangunan observatorium tersebut.

Dalam pemaparannya, Kepala LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin mengisahkan kondisi Observatorium Bosscha, sebagai observatorium nasional terbesar di Indonesia yang dibangun sudah lebih dari 90 tahun silam. Saat ini, kondisi lingkungan di sekitar lokasi tersebut sudah tidak mendukung bagi kelancaran kegiatan observasi para peneliti maupun pecinta bidang astronomi. “Lingkungan di sekitar Lembang saat ini menjadikan observatorium bosscha tidak masuk kriteria lingkungan sebuah observatorium untuk pengamatan astronomi skala riset lanjut,” ungkapnya. 

Menurutnya, perlu adanya pengembangan sebuah observatorium astronomi dengan skala nasional yang mampu mewadahi, serta berperan dalam pengembangan keilmuan lintas disiplin, dan berbagai aktivitas terkait lainnya. Observatorium yang akan dibangun diwujudkan dapat memenuhi syarat, salah satunya cakupan multi panjang gelombang. 

Dari hasil survey, maka diperoleh lokasi di kawasan Hutan Lindung Gunung Timau, Amfoang Tengah, Kupang, NTT, dengan posisi ketinggian 1300 meter di atas permukaan laut. Keunggulan yang diperoleh antara lain daerah tersebut dekat dengan lintasan garis khatulistiwa, kondisi iklim dan cuaca yang cocok untuk pengamatan astronomi, serta kondisi lingkungan yang jauh dari hunian atau permukiman penduduk, karena berada di dalam kawasan cagar alam atau kawasan hutan lindung lindung.

Diharapkan, observatorium tersebut juga bermanfaat untuk mengembangkan potensi masyarakat setempat, teutama untuk wisata astronomi. Pembangunan fasilitas di dalamnya, dapat mendorong potensi pendidikan sains dan teknologi, memfasilitasi Pusat Sains (Science Center) yang akan dikembangkan kemudian di Kupang, serta mengembangkan potensi wisata bidang astronomi.

Saat ini, sudah jarang ditemui langit malam yang gelap (dark sky), karena wilayah perkotaan yang sudah terkena polusi cahaya cukup parah. Untuk itu, wilayah di sekitar lokasi dibangunnya observatorium nasional tersebut akan dijadikan Taman Nasional Langit Gelap, agar masyarakat dapat berpartisipasi untuk menjaga wilayah tersebut bebas dari polusi cahaya. 

Beberapa pembicara juga tampil dalam kegiatan sosialisasi kali ini. Perwakilan Universe Awareness (UNAWE), Premana W Premadi, yang juga dikenal sebagai dosen Ilmu Astronomi ITB, memaparkan program pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan. Dekan FISIP Universitas Nusa Cendana, DR. Frans Gana, memaparkan hasil penelitiannya tentang tanggapan masyarakat terhadap rencana pembangunan Observatorium Nasional di Amfoang Tengah dan Pusat Sains di daerah Tilong. 

Kegiatan ini dihadiri Bupati Kupang, Ayub Titu Eki. Ia meyakini, pembangunan observatorium dan fasilitas terkait lainnya di Kupang akan bermanfaat bagi kehidupan warganya, apabila masyarakat menyiapkan diri sejak dini. Salah satunya di bidang perekonomian, pemerintahannya dapat mempersiapkan diri dalam mengelola seluruh fasilitas pendukung untuk menerima kedatangan wisatawan. Untuk itu, ia berpesan, agar masyarakat tetap menjaga dan mempertahankan budaya dan nilai-nilai adat setempat. Untuk mewujudkannya, Bupati mengajak masyarakat untuk berperan aktif, menjaga lingkungan langit Amfoang tetap gelap, tidak terkena polusi cahaya sampai ratusan tahun mendatang.

Pertemuan ini dihadiri oleh sekurangnya 200 peserta, yang terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh adat, aparat daerah, serta pelajar setara SLTA, SLTP, dan SD. Beberapa organisasi dan instansi pemerintah bekerja sama menyukseskan kegiatan tersebut, di antaranya Observatorium Bosscha, Indonesian Institute for Energy Economics (IIEE), dan pemerintah daerah setempat.


Peserta Sosialisasi Rencana Pembangunan Observatorium di Kupang


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL