Kompetensi Utama

Layanan


Satelit Lapan-A3/Lapan-IPB Diluncurkan Hari Ini di India
Penulis : Irwan Kelana • Media : Republika.co.id • 22 Jun 2016 • Dibaca : 26277 x ,

REPUBLIKA.CO.ID, SRIHARIKOTA -- Setelah mengalami penundaan selama 12 hari, akhirnya pada hari ini, Rabu (22/6/2016), generasi terbaru satelit eksperimen Lapan-A3/Lapan-IPB diluncurkan dari Bandar Antariksa Sriharikota, India. Satelit Lapan-A3/Lapan-IPB ini diluncurkan menggunakan roket peluncur PSLV milik ISRO-India bersama-sama dengan 21 satelit lain yang berasal dari berbagai negara.

Satelit Lapan-A3/Lapan-IPB dikembangkan atas kerja sama Lapan dan Institut Pertanian Bogor dalam rangka meningkatkan pengetahuan, keterampilan, perancangan dan pembangunan satelit oleh bangsa Indonesia agar mampu menguasai teknologi keantariksaan, baik untuk tujuan eksperimental maupun operasional.

Lapan bertanggung jawab dalam desain, perancangan, produksi, pengujian, peluncuran, sampai penerimaan data satelit. IPB bertanggung jawab dalam pengembangan algoritma, pemanfaatan, dan aplikasi data satelit.

Menurut Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, desain, perancangan, produksi, dan pengujian Lapan-A3/Lapan-IPB dilakukan oleh ahli Indonesia dengan fasilitas di Indonesia. Produksi satelit memakai fasilitas yang ada di Lapan dan pengujian dengan fasilitas Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Thomas mengemukakan, Satelit Lapan-A3/Lapan-IPB memiliki fungsi utama melakukan pemantauan lahan pertanian pangan Indonesia melalui pencitra pushbroom empat kanal multispektral (Red, Green, Blue dan Near-infrared) dengan resolusi 18 meter dengan lebar cakupan 108 km dan kamera visibel dengan resolusi tinggi (3,5 meter).

Selain itu, seperti generasi satelit sebelumnya (Lapan-A2/Orari), satelit Lapan-A3/Lapan-IPB ini juga dilengkapi dengan teknologi Automatic Identification System (AIS) yang berfungsi memantau lalu lintas laut global.

“Bila Lapan-A2 mengorbit bumi di sekitar khatulistiwa, Lapan A3/Lapan-IPB mengorbit bumi melintasi kutub utara dan kutub selatan bumi (orbit polar), sehingga akan melengkapi data pantauan lalu lintas kapal laut dari satelit. Adapun misi ilmiah satelit ialah mengukur medan magnet bumi,” papar Thomas.

Dibandingkan dengan satelit eksperimen sebelumnya, Lapan-A3/Lapan-IPB ini berbobot 115 kilogram (kg) atau 39 kg lebih berat dari pada Lapan-A2/Orari. “Penambahan berat ini penting dalam pembuatan satelit operasional pengamatan bumi berbobot 1.000 kg,” tutur Thomas .

Thomas mengemukakan, program pengembangan satelit ini membuktikan kemampuan sumberdaya manusia Indonesia dalam merancang bangun satelit berukuran mikro (microsatellite) dengan berat 100 kg. Pengembangan satelit ini juga merupakan upaya mewujudkan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian.

Teknologi satelit, kata dia, akan mendukung akurasi data dalam perencanaan masa tanam lahan persawahan yang akan berimplikasi langsung pada peningkatan ketahanan pangan. “Hal ini tentunya akan membantu pemerintah dalam menentukan berbagai kebijakan terkait pangan, misalnya terkait impor beras,” ujar Thomas.

Setelah mengalami penundaan selama 12 hari, akhirnya pada hari ini, Rabu (22/6/2016), generasi terbaru satelit eksperimen Lapan-A3/Lapan-IPB diluncurkan dari Bandar Antariksa Sriharikota, India. Satelit Lapan-A3/Lapan-IPB ini diluncurkan menggunakan roket peluncur PSLV milik ISRO-India bersama-sama dengan 21 satelit lain yang berasal dari berbagai negara.

Kepala Kantor Hukum, Promosi dan Humas IPB Yatri Indah Kusumastuti mengungkapkan, setelah peluncuran satelit Lapan-A3/Lapan-IPB ini, pada tanggal 25-26 Oktober 2016 di IPB Bogor akan digelar simposium yang ke-3 dengan tema “The 3rd International Symposium on Lapan-IPB Satellite, For Food Security and Environmental Monitoring 2016”.

Simposium internasional ini akan fokus untuk meningkatkan penggunaan dari teknologi satelit di bidang pertanian, kehutanan, perubahan iklim, dan sumberdaya laut dalam hal ketahanan pangan “Ini akan terkait dengan estimasi lahan pertanian dan produktivitas sumberdaya laut serta sistem Monitoring, Pelaporan dan Verifikasi ( MRV ) dari program Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD),” tutur Yatri.

Selain itu, simposium ini untuk mempersiapkan dan melengkapi rantai pengolahan data satelit lingkungan yang ada serta pemanfaatan LISat - data dari hulu ke hilir lokasi yang dipilih sesuai dengan studi fokus.

“Ruang lingkup simposium ini mencakup empat domain (bidang area) mendukung ketahanan pangan dan pemantauan lingkungan sebagai berikut: pertanian, kelautan dan perikanan, hutan dan iklim dalam hal penggunaan yang bermanfaat dari teknologi satelit,” papar Yatri Indah.

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, berkesempatan “nonton bareng” peluncuran satelit bersama Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI Mohamad Nasir, Rektor IPB Prof Dr Herry Suhardiyanto dan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar.

Nonton bareng ini dilakukan sekira pukul 10:00 WIB sekaligus meresmikan pembukaan pengembangan sistem pemantauan maritim berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) penerbangan dan antariksa, di Pusat Teknologi Penerbangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), di Jalan Raya Lapan Rumpin, Bogor.

“Dengan teknologi ini kita seharusnya bisa menghasilkan hasil yang lebih cepat, lebih baik dan lebih murah,” ujar Wapres Jusuf Kalla.


Sumber : http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/16/06/22/o964je374-satelit-lapana3lapanipb-diluncurkan-hari-ini-di-india-bagian-1

http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/16/06/22/o964qm374-satelit-lapana3lapanipb-diluncurkan-hari-ini-di-india-bagian-2habis








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL