Kompetensi Utama

Layanan


Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB Sukses Meluncur, Wapres RI Resmikan Sistem Informasi untuk Pemantauan Maritim
Penulis Berita : Humas/And-Zk • Fotografer : Humas/RZ • 22 Jun 2016 • Dibaca : 36260 x ,

Dari Kiri ke Kanan: Menristekdikti, Wapres RI, Kepala LAPAN, dan Wagub Jabar memencet tombol sirine peresmian pengembangan sistem pemantauan maritim berbasis iptek penerbangan dan antariksa

LAPAN kembali mengukir sejarah pengembangan hasil litbang iptek penerbangan dan antariksa. Dua peristiwa penting berlangsung pada Rabu (22/06). Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB sukses meluncur dengan menggunakan roket peluncur satelit milik India dari Pusat Antariksa Satish Dawan, Sriharikota, India. Sebelumnya, Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla yang ikut menyaksikan siaran live kegiatan peluncuran tersebut, sekaligus meresmikan Pengembangan Sistem Pemantau Maritim Berbasis Iptek Penerbangan dan Antariksa. Kegiatan ini berlangsung di Kantor Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Rumpin, Bogor.

Tepat Pukul 10.55.00 WIB (03.55.00 UTC), Roket PSLV meluncur dengan membawa muatan 20 satelit. Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB, menjadi salah satu dari muatan tersebut. Satelit eksperimental generasi ketiga ini menjadi muatan ke-4 yang dilepas untuk melaksanakan misi menuju orbit. 

Dalam laporannya, Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menjelaskan, Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB mengorbit pada ketinggian 500 kilometer. Setelah sukses menempati orbit, satelit ini akan mengemban empat misi, yaitu pemantauan lahan terutama pertanian, muatan Automatic Identification System (AIS) untuk pemantauan maritim, muatan sains untuk pengukuran medan magnet bumi, serta muatan komponen satelit itu sendiri untuk menguji start sensor & reaction wheel untuk pengendalian satelit. 

Thomas berharap, 2 atau 3 tahun lagi segera diluncurkan Satelit LAPAN-A4, demikian selanjutnya Satelit LAPAN-A5, sampai dengan mengembangkan satelit operasional.

Pada kesempatan ini, Kepala LAPAN menyampaikan peresmian sistem pemantauan maritim yang merupakan salah satu fokus utama LAPAN untuk mencapai visi mewujudkan pusat unggulan penerbangan dan antariksa yang maju dan mandiri. Menurutnya, sistem pemantauan ini disebut pengembangan karena memang sudah ada sebelumnya, dikembangkan dengan melakukan integrasi beberapa sistem informasi, yaitu Sistem Embaran Maritim (SEMAR), AIS, Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI), dan Maritime Surveillance System (MSS).

Layanan informasi ZPPI dikembangkan berbasis analisis data satelit penginderaan jauh dari suhu permukaan laut, klorofil, arus, dan angin. Layanan ini telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat, melalui dinas-dinas perikanan di daerah. SEMAR merupakan layanan informasi terkait potensi cuaca ekstrim di laut. Kedua sistem ini dapat diintegrasikan untuk penggunaannya bagi nelayan ketika mencari ikan ke laut agar aman dan menghasilkan tangkapan yang maksimal.

AIS dikembangkan untuk memantau kapal-kapal yang dalam satu hari mencapai 2,4 juta kapal. Di perairan Indonesia sendiri terpantau puluhan ribu kapal. “Melalui AIS ini, bisa diidentifikasi kapal-kapal yang manuvernya anomali, artinya, menimbulkan kecurigaan terkait illegal fishing atau hal-hal mencurigakan lainnya,” ujarnya. Hasil analisis tersebut dapat dimanfaatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Badan Keamanan Laut (Bakamla).

LAPAN juga melakukan pemantauan maritim berbasis pesawat tanpa awak, terutama untuk mengukur garis pantai. Langkah ini dilakukan untuk mendukung pemantauan yang tidak bisa dilakukan menggunakan satelit. Selain itu juga, pemantauan dengan pesawat terbang berawak sangatlah mahal. “Sistem ini nantinya akan dikembangkan, termasuk menggunakan pesawat ringan. Kami sudah mempunyai LSA, yaitu pesawat yang masih menggunakan pilot, dan nantinya akan dikembangkan menjadi Midle Altitude Long Endurance (MALE), tanpa awak, terbang dengan ketinggian 2-7 kilometer. Pesawat ini bisa memantau di bawah awan dan menempuh jarak sampai dengan 20 jam,” paparnya.

Jusuf Kalla sangat antusias mengapresiasikan peningkatan hasil litbang LAPAN. Menurutnya, kemajuan teknologi menjadi alat pencapaian peningkatan produktivitas, dan tentu saja didukung dengan sistem yang lebih baik. Dengan adanya sistem yang dibangun oleh LAPAN, ia meyakini sarana tersebut dapat membantu peningkatan produktivitas bidang perikanan. 

Apalagi, Indonesia merupakan negara yang sangat luas yang terdiri dari kepulauan, dengan sekurangnya 75 persen adalah wilayah perairan. “Maka perlu pemantauan yang lebih baik agar tidak terjadi masalah bagi masyarakat dan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan negara lain. Maka, perlu suatu informasi yang cepat dan tepat waktu!” harapnya.

Sesuai arahan Presiden RI, Joko Widodo, dengan penguasaan teknologi satelit dan pesawat tanpa awak, biasa dikenal dengan drone, maka tinggal melaksanakan kegiatan dengan kasat mata. Artinya, berhasilnya pencapaian tahapan-tahapan teknologi tersebut akan mempermudah pemantauan dengan lebih detil dan teliti. 

Potensi ini, menurutnya, perlu dikembangkan ke institusi lainnya, mengingat negara ini sangat luas, sebaiknya setiap daerah dapat berintegrasi dalam mencapai visi bersama. “LAPAN dapat menggandeng universitas lain di berbagai daerah sesuai dengan potensi wilayah masing-masing”. 

Pemanfaatan potensi kekayaan alam Indonesia memang perlu penguasaan informasi yang lebik baik. Wapres JK mendukung sepenuhnya upaya LAPAN dalam membangun sistem informasi dengan teknologi canggih ini. Sehingga, masyarakat benar-benar dapat memanfaatkan dengan optimal kekayaan alam Indonesia ini. 

Di bidang maritim, ia berharap agar LAPAN menjalin kerja sama dengan TNI Angkatan Laut, KKP, Polisi Laut/Bakamla, dan instansi lain yang fokus di bidang maritim. Sistem ini perlu dibangun dan diatur oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Sistem yang sudah dibangun, perlu adanya koordinasi dan dibagi pemanfaatannya.“ 

Begitu juga dengan satelit yang dikembangkan LAPAN, meskipun ukurannya kecil namun manfaatnya sangat besar. “Jika selama ini hanya mengandalkan hal yang kasat mata, maka timbullah keributan nasional. Karena data yang diberikan pasti akan berbeda-beda, sehingga tidak pernah akurat. Hal ini pula dapat menjadi bahan rujukan dalam mengambil kebijakan pemerintah. Contohnya, perlu tidaknya melakukan ekspor atau impor sesuai dengan kebutuhan nasional,” Imbuhnya.

Sebagai penutup, Wapres JK berpesan, negara yang kaya akan sumber daya alam harus mengetahui potensi dan kekayaan alamnya sendiri, teknologi satelit dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Maka, sangat penting untuk memanfaatkan teknologi satelit demi kemajuan bangsa. Dalam setiap langkah, perlu adanya sesuatu hal yang baru, sehingga perkembangan teknologi ini tidak statis. Maka, hasil karya penelitian dan pengembangan teknologi merupakan gambaran suatu negara itu tidak tertinggal dari negara lain. Sedangkan Kemajuan terjadi karena persaingan, yang didasarkan pada tiga hal, yaitu lebih baik, murah, dan cepat.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL