Kompetensi Utama

Layanan


Waspada Saat Jelang Lebaran, Kemarau 2016 Merupakan Kemarau Basah
Penulis : Eriyanti Nurmala Dewi • Media : Pikiran-rakyat.com • 29 Jun 2016 • Dibaca : 19235 x ,

BANDUNG, (PR).- Hujan deras yang terjadi sepanjang 16-18 Juni 2016 lalu telah mengakibatkan banjir di Padang Sumatera Barat dan longsor di Kebumen serta Purworejo Jawa Tengah. Padahal, bulan Juni seharusnya cuaca sudah memasuki musim kemarau. Namun mengapa hal itu bisa terjadi? Bagaimana pula prediksi cuaca sampai menjelang Lebaran mendatang?

Tim Peneliti Lapan Bandung yang terdiri atas ErmaYulihastin, Eddy Hermawan, Haries Satyawardhana, dan Didi Setiadi telah melakukan analisis terhadap cuaca ekstrem tersebut. Menurut peneliti Erma Yulihastin, hujan deras yang mengakibatkan banjir di Padang dan longsor di Kebumen serta Purworejo merupakan suatu anomali.

Bila melihat data hasil pemantauan satelit menunjukkan, pada Mei sampai Juni awal 2016 menurut Erma, memang masih tampak adanya hujan tetapi terkonsentrasi di selatan. Kemudian bergeser ke tenggara tetapi dengan curah hujan yang sudah mulai berkurang dibandingkan sebelumnya. Namun pada 10-20 Juni terjadi peningkatan konsentrasi hujan yang sangat intens sehingga berakibat banjir dan longsor.

Penyebab

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab anomali tersebut. Awalnya menduga kondisi Samudera Fasifik yang baru saja mengalami Elnino. Namun setelah diamati ternyata kondisinya netral, aspek Samudera Pasifik kondisinya biasa-biasa saja belum terjadi La Nina. Walaupun prediksinya 55% La Nina akan terjadi pada bulan Juli dan puncaknya pada September.

Pengamatan lain diarahkan pada aspek lain yaitu angin Munson. Angin Munson adalah angin yang biasa terjadi di wilayah Indoesia. Pada musim kemarau seperti ini, angin Munson seharusnya dipengaruhi oleh angin dari benua Australia yang dingin dan kering. Namun ternyata angin Munson dari benua Australia ini justru mengalami pelemahan di wilayah selatan.

Sementara itu, bila pada Juni, Juli, Agustus di Indonesia sedang musim panas, maka di India sedang terjadi banyak hujan. Namun terjadi pembelokan angin dari samudera Hindia yang seharusnya mengarah ke utara malah ke selatan. Hal ini terjadi karena adanya Fortex yaitu pusaran angin yang terjadi di samudera Hindia barat daya yang lebih dekat ke Sumatera. Inilah yang menurut Erma, menjadi salah satu penyebab terjadinya anomali hujan kemarin.

Faktor lainya adalah awan. Data menunjukkan, awan masih banyak berkumpul di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Intinya, Indonesia bagian barat memang sedang banyak dilingkupi awan dingin yang berupa awan konvektif.
Anomali kedua terjadi karena IOD negatif. IOD atau Idian Ocean Dipole adalah perbedaan suhu permukaan laut. Suhu permukaan laut dekat Sumatera dan dekat Afrika berbeda sehigga terjadi perbedaan tekanan. Tekanan rendah dekat Sumatera dan tekanan tinggi dekat Afrika. Kondisi ini berkontribusi terjadinya awan-awan yang menuju Indonesia sehingga konvektifnya aktif terutama di bagian barat. IOD Negatif ini menurut Erma, berada pada posisi -0.8 dari semula -0.6. Akibatnya ada penguatan sehingga berpotensi basah.

Sementara, suhu permukaan laut di wilayah Indonesia meningkat sedangkan suhu permukaan laut di samudera Hindia dekat Afrika mendingin. Akibatnya, terjadi perbedaan tekanan. Angin berhembus dari Samudera Hindia ke Indonesia dengan IOD negatif sehingga suhu muka laut di Indonesia menghangat sehingga awan-awan datang.

Anomali lainnya dapat terjadi karena Madden Julian Oscillation (MJO) yaitu gelombang di astmosfer yang kondisinya sedang kuat. Kekuatan amplitudo MJO lebih dari dua dapat mengakibatkan potensi awan-awan raksasa menuju wilayah Indonesia. Padahal, bila banyak awan dapat terjadi konveksi sehingga turun hujan. “Jadi, kalau boleh disimpulkan ada tiga penyebab anomali hujan di musim kemarau kemarin yaitu adanya fortex, IOD negatif, dan MJO,” papar Erma.

Prediksi

Mengacu pada kondisi tersebut, Erma memprediksi, musim kemarau 2016 merupakan musim kemarau basah. Prediksi dari 11 model yang dirata-ratakan menunjukkan, di selatan akan masih terdapat banyak hujan, termasuk Jawa Barat. Saat ini kata Erma, MJO masih aktif. Malah kemungkinan akan berubah lokasinya dari samudera Hindia ke wilayah Indonesia. IOD negatif juga akan semakin kuat intensitasnya ditambah akan adanya gangguan di Pasifik dengan terjadinya La Nina. Alhasil, kedua gangguan itu akan mengakibatkan berpotensi hujan (lagi) pada musim kemarau.

Untuk periode pendek sampai Lebaran, Erma menegaskan, harus tetap mewaspadai samudera Hindia karena di Selatan Jawa terdapat perairan yang menghangat. Anomali suhu ini kemungkinan akan menyebabkan pusat tekanan rendah belum bergeser ke utara. Oleh karena itu, harus tetap diwaspadai terjadinya hujan sampai Lebaran.

Namun demikian, Didi menambahkan, untuk prediksi akurat pantauan curah hujan harus dilakukan dalam real time harian bahkan bisa kurang dari harian. Karena semakin lama pengamatan, tingkat errornya semakin tinggi. Kalau pengamatan ril setiap hari, tingkat akuratnya bisa mencapai 90 persen, dua hari 80 persen, demikian seterusnya terjadi penurunan keakuratan sehingga untuk mendapatkan akurasi yang tepat harus dipantau dalam skala harian. “Jadi sebaiknya pantau terus informasi cuaca dari BMKG,” ujarnya.

Eddy menambahkan, ada empat kawasan penting di Indoesia yang selalu berada dalam kodisi basah walaupun sedang musim kemarau. Keempat kawasan tersebut adalah Sumatera Utara bagian utara, Jawa Tengah bagian tenah, Papua bagian tengah, da Kalimantan bagian utara. Sepanjang tahun kata Eddy, keempat kawasan ini selalu berada dalam kondisi basah.

Khusus utuk Jawa Barat terutama Bandung, harus diperhatikan kondisi lokal Bandung sebagai kawasan cekungan. Sifat kawasan cekungan adalah menahan awan-awan besar sehingga kondisinya harus tetap diwaspadai. “Kalau di Sumatera masih bisa tertahan oleh Bukit Barisan, nah kalau di Jawa kita harus tetap waspada,” imbuhnya.

Selain melakukan pengamatan dengan menggunakan satelit, Lapan juga mengembangkan sistem pengamatan curah hujan dengan menggunakan radar. Sistem pengamatan radar ini digunakan untuk memantau kondisi curah ujan di Kabupaten Bandung. Hasil pengamatan radar ini digunakan LSM Garda Caah sebagai data antisipasi kepada masyarakat.


Imbauan

Untuk mengahadapi kondisi cuaca seperti itu, Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Hallimurahman, mengimbau masyarakat agar meningkatkan kehati-hatiannya. Pada saat pemudik akan melakukan mudik Lebaran sebaiknya mempertimbangkan keselamatan berkendara. Ban harus diperiksa jangan sampai gundul. Untuk para motoris harus disiapkan jaket dan jas hujan agar perjalanan aman dan nyaman.

Khusus bagi para pemudik yang akan menggunakan moda transportasi laut, harus waspada pula. Jika MJO mencapai fase 5 maka kemungkinan akan terjadi gelombang tinggi di laut Jawa. Saat ini saja, ketika kondisi MJO berada pada fase 3 hujannya sudah sangat deras sehingga kewaspadaan dan kehati-hatian harus terus ditingkatkan. Jangan lupa, pantau terus informasi cuaca dari BMKG mengingat up date cuaca hanya akan akurat dalam hitungan harian (real time)

Sumber :
http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2016/06/29/waspada-saat-jelang-lebaran-kemarau-2016-merupakan-kemarau-basah-373360








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL