Kompetensi Utama

Layanan


Pesawat N-219 Bakal Diproduksi 2017
Penulis : Neneng Zubaidah • Media : Koran-sindo.com • 16 Jul 2016 • Dibaca : 6251 x ,

JAKARTA- Pemerintah berupaya membangkitkan kejayaan dirgantara Indonesia melalui pesawat N-219. Direncanakan pesawat ini akan diproduksi pada 2017-2018.

Kepala Bagian Humas Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Jasyanto mengatakan, pesawat N-219 direncanakan akan diproduksi pada 2017-2018 oleh PT Dirgantara Indonesia (DI) bekerja sama dengan Lapan. Dia menjelaskan, saat ini pesawat tersebut sedang dalam proses mendapatkan sertifikat layak terbang dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

”Sesuai dengan rencana, pesawat N-219 akan dipabrikasi pada 2017-2018. Bentuk fisik pesawat yang akan dipasarkan sudah didesain,” katanya saat konferensi pers Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) 2019 di Kantor Kemenristek Dikti kemarin. Menurut Jasyanto, ada penundaan proses sertifikasi meski dia tidak mengungkapkan apa kendalanya. Sertifikat yang sedang diproses itu untuk bagian sayap dan landing gear .

Namun pada Juli ini pemerintah sudah menargetkan sertifikat layak terbang sudah bisa dikeluarkan. Semua tim yang terlibat dalam pembuatan pesawat dari PT DI dan Kemenhub, menurutnya, bisa mempercepat proses sertifikasi tersebut. Dia menekankan, semua sertifikat yang dikejar akan disesuaikan dengan standar penerbangan internasional.

Dia menerangkan, pada acara puncak Hakteknas di Solo 10 Agustus nanti akan disiarkan secara langsung bagaimana proses pengujian pesawat yang dilakukan di Kantor PT DI Bandung. Siaran ini rencananya akan dilihat langsung oleh Presiden Joko Widodo. ”Hakteknas yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus ini jadi tonggak sejarah kebangkitan teknologi Indonesia.

Pada 10 Agustus 1995 lalu Hakteknas diawali dengan penerbangan perdana pesawat N-250 Gatot Kaca,” urainya. Jasyanto menegaskan, tidak ada insinyur asing yang terlibat dalam pembuatan pesawat ini. Pesawat asli buatan tenaga ahli lokal ini, menurutnya, sudah dipesan 200 unit. Pesawat ini sangat cocok dipakai di bandara dengan landasan pendek.

Pesawat bisa menjadi penghubung warga antarpulau terpencil. Dia menuturkan, pesawat N-219 memakai teknologi sederhana, tetapi bisa menjawab tantangan ke depan. Sementara itu Direktur Sistem Inovasi Ditjen Penguatan Inovasi Kemenristek Dikti Ophirtus Sumule mengatakan, akan ada Ritech Expo yang akan memamerkan hasil riset dan inovasi di bidang teknologi.

Pameran ini menyajikan berbagai produk unggulan dari berbagai lembaga riset di berbagai sektor yang didukung elemen akademisi, pemerintah, dan industri. ”Akan dipamerkan inovasi di bidang pangan, kesehatan, transportasi, energi dan material maju, maritim dan hankam,” paparnya.

Dipilihnya Jawa Tengah (Jateng) sebagai lokasi Hakteknas, menurutnya, karena tahun kemarinJatengmendapat penghargaan Budhipraja. Dipilihnya Solo sebagai lokasi penyelenggaraan adalah suatu bentuk usaha untuk mendorong terwujudnya iklim inovasi teknologi tepat guna yang siap diimplementasikan dalam kehidupan seharihari.

”Kita harapkan inovasi dapat menjadi budaya dan solusi berbagai masalah yang ada di masyarakat,” sebutnya. Berdasarkan data, pesawat N-219 dengan kemampuan dua mesin ini akan menjadi pesawat perintis di daerah terpencil dengan kapasitas 19 penumpang. Harga satu pesawat sekitar USD5,6 juta hingga USD6 juta. PT DI menjanjikan bisa memproduksi 3 pesawat dalam 1 tahun.

Sumber :
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=9&date=2016-07-16








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL