Kompetensi Utama

Layanan


“Dark Sky” 6 Agustus 2016 Saatnya Memandang Keindahan Langit Gelap
Penulis : Eriyanti Nurmala Dewi • Media : Pikiran-rakyat.com • 04 Aug 2016 • Dibaca : 15653 x ,

LANGIT malam yang gelap (dark sky) saat ini sudah menjadi fenomena alam yang langka bisa dinikmati. Di banyak wilayah perkotaan dunia, polusi cahaya menjadi penyebabnya. Polusi cahaya adalah hamburan cahaya lampu perkotaan yang menyebabkan langit tampak terang sehingga mengalahkan cahaya bintang-bintang di langit. Masih dapatkah kita menikmati gelapnya langit malam bertabur bintang?

Menurut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, polusi cahaya telah mengakibatkan gemerlap cahaya bintang menghilang dari pandangan masyarakat di banyak kota besar. ”Sungai Perak — Gingga (bahasa Jepang)”, ”Jalur Susu — Milky Way (bahasa Inggris)”, atau ”Selendangnya Bima — Bima Sakti (nama galaksi kita dalam bahasa Indonesia), gugusan ratusan miliaran bintang yang redup tetapi indah dilihat dari daerah yang jauh dari perkotaan, menghilang dari langit malam. Rasi bintang terang pun banyak yang tak tampak lagi. Hanya beberapa bintang yang sangat terang, seperti Antares di rasi Kalanjengking (Scorpio) dan Betelgeuse di rasi Orion, serta beberapa planet terang seperti Venus dan Jupiter, yang masih terlihat di beberapa kota.

Menyikapi fenomena tersebut, Lapan mengajak kembali masyarakat untuk menikmati keindahan gelapnya langit malam dalam kampanye ”Malam Langit Gelap” pada Sabtu, 6 Agustus 2016. Kampanye ini digulirkan Lapan setiap tahun untuk memperingati Hari Keantariksaan ini yang jatuh setiap tanggal 6 Agustus. Pada saat itulah, tepatnya pukul 20.00-21.00 WIB masyarakat dapat mengajak seluruh keluarga juga tetangga untuk mematikan lampu luar dan lampu taman termasuk lampu jalan.



”Pada pukul delapan sampai sembilan malam itu, cahaya senja sudah hilang karena batas senja berakhir sampai isya sehingga langit secara astronomi sudah gelap total. Lagi pula, mulai Agustus ini sudah masuk kemarau walaupun dalam kondisi kemarau basah sehingga langit relatif cerah,” ujar Thomas.

Apabila hal itu berhasil dilakukan dan meminimalisasi polusi cahaya selama satu jam, maka manusia dari bumi dapat melihat Galaksi Bima Sakti dengan ratusan miliar bintang yang membentang dari Utara ke Selatan. Rasi Angsa (Cygnus) di langit Utara dengan Segitiga Musim Panas (Summer Triangle), tiga bintang terang di sekitar rasi Angsa: Vega, Deneb, dan Altair juga tampak terlihat. Sementara di langit Selatan, rasi Layang-layang atau Salib Selatan (Crux) yang sering digunakan sebagai penunjuk arah Selatan dapat terlihat. Bahkan tepat di atas kepala, kita menyaksikan rasi Kalajengking (Scorpio) dengan bintang terang Antares.


Gagasan dark sky (malam langit gelap) yang digulirkan tahun ini, kata Thomas, bertujuan untuk memberikan edukasi kepada publik agar mulai mengendalikan polusi cahaya. ”Jadi dengan mengampanyekan dark sky selama satu jam ini, sekaligus juga kita mengampanyekan hemat energi seperti dalam kampanye Earth Hour,” demikian Thomas.

Sebetulnya menurut Thomas, jika langit gelap dalam keadaan normal tanpa terpapar polusi cahaya, manusia dapat melihat secara normal dari kejauhan di bumi semua benda langit yang indah itu. Namun karena polusi cahaya, kesempatan melihat benda-benda langit yang indah itu menjadi eksklusif dan sangat langka.

Polusi Cahaya

Menyinggung polusi cahaya di kota Bandung, Thomas menjelaskan, dulu planetarium Boscha masih bisa memotret Galaksi Bima Sakti. Namun, sekarang sudah tidak mungkin lagi karena rekaman kamera lebih banyak terganggu oleh banyaknya hamburan cahaya dari kota Bandung. Bintang-bintang juga sudah tidak terlihat lagi. Kalau melihat ke langit, hanya dapat melihat beberapa bintang saja. Bila dibandingkan dengan perdesaan yang belum banyak memiliki lampu rumah juga lampu jalan, jumlah bintang yang dapat dilihat bisa lebih banyak.

Polusi cahaya, kata Thomas, bukan hanya berkaitan dengan indahnya malam atau untuk keperluan pengamatan, tetapi secara internasional sudah dianggap mengganggu kesehatan. Pola tidur masyarakat di kota terpolusi cahaya mengalami banyak gangguan. Padahal, bila tidur terganggu, maka akan berkaitan dengan kesehatan secara umum.


Singapura, Qatar, dan Dubai adalah kota-kota yang sudah terpapar polusi cahaya sangat buruk. Masyarakatnya sudah tidak dapat melihat lagi indahnya langit gelap di malam hari. Secara umum pola penggunaan malam dan siang rata-rata penduduk juga sudah berubah. Penglihatan siang hanya mengenal warna sedangkan penglihatan malam hanya gelap dan terang. Keadaan polusi cahaya kota besar seperti ini sudah tidak terkendali karena cahaya lampu yang digunakan bukan sekadar untuk penerangan tapi berlebihan.

Gagasan lain yang digulirkan pada Hari Keantariksaan adalah menjadikan daerah tertentu sebagai kawasan bebasa polusi cahaya yang disebut Taman Langit gelap (Dark Sky Park). Lapan mengusulkan kawasan sekitar Observatorium Nasional yang akan dibangun di Kupang sebagai kawasan Taman Langit Gelap.

Beberapa kawasan di Nusa Tenggara Timur menurut Thomas, sangat potensial untuk dijadikan Taman Langit Gelap. Di kawasan ini penggunaan lampu sangat dibatasi, hanya boleh untuk di dalam ruangan yang tidak memancar ke luar. Kondisi cuaca yang kering memungkinkan jumlah malam cerah paling banyak.



Kawasan seperti ini bisa menjadi daya tarik turis untuk wisata astronomi yang menarik. Apalagi Indonesia yang berada di wilayah ekuator memungkinkan manusia mengamati langit Utara dan langit Selatan. Di Amerika, Jepang, dan Eropa pengamat astronomi lebih banyak mengamati langit Utara. Sementara pengamat di Australia lebih banyak mengamati langit Selatan. Di Indonesia, kita bisa menikmati bintang-bintang di langit utara dan selatan lebih leluasa.

Nah, bila Anda sudah kangen dan ingin menikmati (indahnya) malam langit gelap, bersiaplah matikan lampu dan nikmatilah keindahan langit di atas sana.***

sumber :
http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2016/08/04/“dark-sky”-6-agustus-2016-saatnya-memandang-keindahan-langit-gelap-376592/page/0/3








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL