Kompetensi Utama

Layanan


Siptekgan XX: Teknologi Penerbangan dan Antariksa Bangun Kemandirian Bangsa
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 11 Aug 2016 • Dibaca : 33272 x ,

Kepala LAPAN menjelaskan mengenai pentingnya pengembangan iptek penerbangan dan antariksa bagi bangsa.

LAPAN saat ini sedang menyiapkan rencana induk keantariksaan 25 tahun. Rencana induk ini merupakan implementasi dari Undang-undang nomor 21 Tahun 2013 Tentang Keantariksaan. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, saat membuka Seminar Nasional Iptek Penerbangan dan Antariksa (Siptekgan) XX di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Bogor, Jawa Barat, Kamis (11/8).

Siptekgan merupakan seminar dalam rangka meningkatkan sosialisasi hasil penelitian, pengembangan, dan rekayasa teknologi penerbangan dan antariksa. Seminar tahunan ini diikuti oleh peneliti, perekayasa, litkayasa, akademisi, dan berbagai fungsional lainnya. Tema seminar tahun ini taitu Iptek Penerbangan dan antariksa untuk Kemandirian Bangsa.

Kepala LAPAN melanjutkan, rencana induk tersebut akan menjadi pedoman dalam pelaksanaan kegiatan keantariksaan nasional. Kegiatan tersebut meliputi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sains antariksa dan atmosfer, penginderaan jauh, teknologi antariksa, peluncuran roket dan satelit, serta komersialisasi. Cita-cita besar rencana induk tersebut adalah adanya bandar antariksa yang dapat digunakan untuk meluncurkan satelit paling tidak untuk ketinggian 300 kilometer.

Satelit tersebut tentunya diluncurkan dengan roket pengorbit satelit buatan sendiri. Ia mengatakan, dengan memiliki bandar antariksa sendiri di ekuator, maka Indonesia bebas menentukan inklinasi orbit satelitnya. Selain itu, pengembangan teknologi satelit dapat lebih pesat.

Saat ini, Indonesia sudah menguasai teknologi satelit. Kepala LAPAN mengatakan, hal tersebut ditandai dengan keberhasilan diluncurkannya satelit LAPAN-A1, LAPAN-A2, dan LAPAN-A3. Saat ini, LAPAN sedang mengembangkan satelit generasi berikutnya yaitu LAPAN-A4 dan LAPAN-A5. Kemudian, berikutnya, LAPAN menuju satelit eksperimen seri B dan selanjutnya membangun satelit nasional yang bobotnya lebih dari 500 kilogram.

Satelit merupakan salah satu teknologi yang mempengaruhi kehidupan manusia selain teknologi informasi. Thomas menjelaskan, untuk itulah Indonesia harus mandiri dalam bidang tersebut. Ia mengatakan usia satelit sangat pendek sekitar tiga hingga lima tahun sementara itu, kebutuhan satelit sangat tinggi. Saat ini, upaya penguasaan teknologi satelit dimulai dari yang mikro.

Selain teknologi satelit, LAPAN juga mengembangkan teknologi aeronautika atau penerbangan. Program utamanya yaitu pengembangan pesawat tanpa awak dan pesawat transportasi. Pesawat tanpa awak dimanfaatkan untuk sistem pemantauan maritim. Pemantauan maritim berbasis pesawat tanpa awak ini sejalan dengan program Presiden RI. Sistem ini juga sekaligus menjadi salah satu program utama LAPAN dalam mendukung kemandirian bangsa.

Terkait pesawat transportasi, LAPAN dan PT Dirgantara Indonesia (DI) saat ini mengembangkan pesawat berpenumpang 19 orang yang bernama N219. Dalam pengembangan pesawat transportas, LAPAN berperan sebagai lembaga penelitian dan pengembangan sementara PT DI sebagai industri yang memproduksi pesawatnya. Target berikutnya, akan dikembangkan pesawat untuk kelas penumpang 50 orang yang bernama N245. Pengembangan pesawat tersebut merupakan tantangan dalam mewujudkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Kepala LAPAN menjelaskan, seluruh kegiatan penelitian LAPAN termasuk roket, satelit, dan penerbangan mengarah pada kemandirian bangsa. Ia berharap hasil Siptekgan dapat berkontribusi dalam pembangunan Indonesia.

Senada dengan Kepala LAPAN, Riza Muhida dari Surya University saat menjadi pembicara Siptekgan memaparkan mengenai pentingnya iptek penerbangan dan antariksa untuk kemandirian bangsa. Dengan adanya kemandirian dalam teknologi penerbangan dan antariksa, maka akan menjadikan negara ini sebagai bangsa yang kuat. Ia juga mengatakan bahwa dalan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, diperlukan usaha untuk melakukan riset teknologi agar Indonesia dapat unggul.

Dalam seminar tersebut, Riza memberikan beragam contoh pemanfaatan pesawat tanpa awak. Pesawat tersebut antara lain digunakan untuk pemantauan udara kebun kelapa sawit guna mendeteksi tanaman yang sehat dan yang tidak sehat. Selain itu, pesawat tanpa awak juga bermanfaat untuk pertanian misalnya dalam penyemprotan pestisida dengan biaya yang lebih hemat dan waktu yang lebih cepat.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL