Kompetensi Utama

Layanan


Diskusi Panel Kompas Bahas Dampak Pemotongan Anggaran Penelitian LAPAN
Penulis Berita : Humas/Zk • Fotografer : Humas/Zk • 06 Sep 2016 • Dibaca : 35447 x ,

Dalam Diskusi Panel Kompas, Kepala LAPAN menyerahkan buku dan majalah sebagai media publikasi LAPAN

Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin tampil dalam diskusi panel yang diselenggarakan Dewan Redaksi Kompas pada Selasa (06/09) di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta Barat. Di dalam diskusi yang bertemakan “Masa Kini dan Masa Depan Riset dan Teknologi Indonesia” ini, Kepala LAPAN mengungkapkan dampak pemotongan anggaran APBN 2016 terhadap kegiatan riset di LAPAN. 

Diskusi tersebut diprakarsai Kompas untuk mengetahui kondisi terkini perjalanan riset tanah air, yang menurut sorotan salah satu media cetak besar di Indonesia ini masih terhitung lamban. Maka Kompas menyelenggarakan pertemuan dengan pimpinan beberapa lembaga riset untuk mengenal lebih dekat kendala dan permasalahan yang dihadapi lembaga riset nasional tersebut. 

Selain LAPAN, Badan Tenaga Nuklir (BATAN) dan Dewan Riset Nasional (DRN) turut memberikan pemaparan dalam diskusi. Apalagi dihadapkan dengan pasca pemotongan anggaran APBN 2016, pertemuan tersebut setidaknya menjadi media penelusuran informasi valid langsung dari pelaku riset. 

Dalam pemaparannya, Kepala LAPAN mengenalkan kegiatan riset LAPAN sebagai lembaga penelitian di bidang penerbangan dan antariksa. Untuk mendukung visi Presiden RI, LAPAN menetapkan visi menjadi Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa, untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan mandiri. Untuk mengimplementasikannya, LAPAN menyusun Sasaran Strategis periode 2015-2019 dengan menyusun tujuh program utama melalui empat kompetensi utama LAPAN. 

Berkaitan dengan pemotongan anggaran APBN 2016, LAPAN menyiasatinya dengan melakukan penjadwalan ulang beberapa program utama. Namun, pemotongan tersebut tetap berdampak, salah satunya dengan menurunnya kuantitas penyedian data citra satelit resolusi sangat tinggi untuk kementerian/lembaga/pemerintah daerah. Solusinya, LAPAN menyediakan data Satelit Spot (resolusi 1.5 meter) atau data hasil pembelian sebelumnya. Dampak lainnya, berkurangnya kegiatan sosialisasi ke masyarakat, survei lapangan untuk validasi data riset, dan sebagainya. Akhirnya, LAPAN melakukan penjadwalan ulang untuk beberapa program, seperti pembangunan Middle Altitude Long Endurance (MALE), modifikasi pesawat LAPAN Surveillance Aircraft (LSA) dari pesawat berawak menjadi pesawat tanpa awak, serta penundaan program roket sonda yang pembangunannya bekerja sama dengan RRT. 

Sampai saat ini, ada beberapa capaian penting LAPAN di bidang teknologi satelit, seperti Satelit LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT, LAPAN-A2/LAPAN-ORARI, dan LAPAN-A3/LAPAN-IPB, yang telah sukses meluncur dan data yang diperoleh sudah digunakan untuk berbagai kebutuhan. Di bidang teknologi penerbangan, LAPAN bekerja sama dengan PT. Dirgantara Indonesia akan melakukan peluncuran perdana Pesawat N219 pada November 2016. Di bidang teknologi roket, LAPAN akan melakukan uji terbang Roket Sonda RX-360 dan RX-450. Sementara, LAPAN telah mengelola Bank Data Penginderaan Jauh Nasional dan telah diakses oleh seluruh instansi terutama pemerintah daerah yang sangat membutuhkan data tersebut. LAPAN juga mengembangkan Sistem Pemantauan Bumi Nasional, sistem pemantauan cuaca ekstrim dengan Satelitte Disaster Early Warning System (SADEWA), pemanfaatan data Automatic Identification System (AIS) dan Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) yang dihubungkan dengan SADEWA dan Sistem Embaran Maritim (SEMAR), serta LSU yang diintegrasikan di dalam Sistem Pemantauan Maritim Berbasis Iptek Penerbangan dan Antariksa.

Beberapa pemaparan lainnya, Ketua DRN, Bambang Setiadi, menyoroti Nawa Cita berkaitan dengan daya saing nasional yang sangat lemah karena tidak didukung dengan kemampuan iptek dan inovasi untuk mendukung daya saing bangsa. Bambang menyarankan, pemerintah perlu melakukan kenaikan dana riset minimal 1% dari PDB setiap tahun, agar Indonesia mampu bersaing secara global. Sedangkan Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, akibat pemotongan anggaran, BATAN banyak mengalami kendala dalam pelaksanaan program, salah satunya pembangunan fasilitas penelitian. Kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM) juga semakin menurun dari tahun ke tahun, terlebih semakin banyak karyawan yang memasuki masa pensiun, sementara dana riset untuk pendidikan SDM sangat terbatas. 


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL