Kompetensi Utama

Layanan


Mengeksplorasi Stratosfer dengan Pesawat Tanpa Awak
14 Sep 2016 • Dibaca : 12811 x ,

Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang aeronautika kembali ditorehkan bangsa ini. Pada tanggal 27 Agustus 2016, sukses dilaksanakan misi ekspedisi menembus langit. Ekspedisi ini menggunakan wahana pesawat tanpa awak atau dikenal dengan istilah Unmanned Aerial Vehicle (UAV) yang diterbangkan menuju stratosfer. Pesawat UAV berjenis A1-X1 produksi AeroTerrascan diluncurkan menggunakan balon cuaca setinggi 30 kilometer. 

Momentum tersebut sebagai uji coba pertama, hasil kerja sama beberapa pihak. Inspirasi digagas oleh Tim AeroTerrascan, sedangkan AeroGeoSurvey sebagai tim operator, AeroVisualStudios sebagai tim dokumenter, Global Inovasi Informasi Indonesia sebagai supporting peralatan dan pabrikasi, Dengan Senang Hati sebagai konsultan komunikasi, Layaria sebagai video creators network, GDILab sebagai penyedia social media monitoring tools, dan Alitt Susanto sebagai video creator. Kegiatan kali ini difasilitasi LAPAN dengan lokasi kegiatan di Balai Uji Teknologi dan Pengamatan Antariksa dan Atmosfer LAPAN Garut, Jawa Barat. 

Ekspedisi tersebut bertujuan untuk mendukung eksplorasi stratosfer dan mengembangkan riset aeronautika Indonesia. Hasilnya, diharapkan dapat menjadi data acuan untuk mendukung penelitian lebih lanjut. Data meteorologi yang diperoleh dapat mendukung penelitian cuaca dan iklim Indonesia. Tahapan selanjutnya yaitu pendistribusian “Guide Book“ tentang eksplorasi stratosfer mulai dari riset awal, metodologi, cara kerja, serta pengoperasian sistem menuju stratosfer, untuk memberikan panduan ke khalayak, sehingga dengan disebarkannya informasi tersebut turut mendukung percepatan teknologi keantariksaan nasional. 

Fokus riset kali ini adalah pengembangan wahana ulang alik. Pesawat UAV dirancang dengan kemampuan kembali ke posisi awal sehingga dapat digunakan kembali. Hal ini untuk menyempurnakan riset yang pada umumnya dilakukan selama ini, yaitu tidak bisa kembali ke tempat awal diluncurkan. Wahana ulang alik yang diterbangkan mengangkut beban hingga 600 gram dengan muatan berupa sensor-sensor untuk memperoleh data stratosfer dan aeronutika. Pada uji terbang ini, pesawat dengan kemampuan autopilot dapat menjangkau telemetry hingga ketinggian 12,9 KM. 

Pada ketinggian 12,9 kilometer (daerah transisi menuju stratosfer), setelah lepas dari balon cuaca, pesawat terbang stabil dan mampu melakukan komunikasi (menerima sinyal dan mengirim data). Pesawat ini dilengkapi dengan fitur anti-icing untuk mengantisipasi temperatur yang bisa mencapai -70o C. Adapun sinyal dan data yang diperoleh meliputi kecepatan, posisi, ketinggian, maupun jarak.

Karena tidak hanya menjangkau lapisan troposfer saja, namun sampai dengan stratosfer, maka Badan pesawat dirancang sedemikian rupa, dibuat dari bahan fiber composite yang memungkinkan untuk tetap bertahan dalam kondisi suhu di lapisan tersebut. Dan ternyata, pada saat menembus stratosfer, badan pesawat masih mampu bertahan dalam kondisi sub-zero yang ditunjukkan dengan suhu mencapai -15oC. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan peluncuran final pada hari berikutnya, untuk memperlancar workflow dan metoda penerbangan. 

Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin mengatakan, hasil ekspedisi ini akan memberikan informasi mengenai dinamika atmosfer di stratosfer. Harapannya, kegiatan tersebut mempunyai prospek untuk mengembangkan teknologi High Altitude Long Endurance (HALE) yang tidak terganggu awan. Sehingga, UAV dapat bertahan lama dan mengumpulkan banyak data.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL