Kompetensi Utama

Layanan


Konsep Penelitian Pelajar Indonesia Akan Diuji Coba di Stasiun Antariksa Jepang (KIBO)
15 Sep 2016 • Dibaca : 9501 x ,

Minat generasi muda Indonesia di bidang sains dan teknologi antariksa terus meningkat. Hal ini dibuktikan dengan terpilihnya proposal siswi SMAN I Batam, Ingrid Dewi Rucita Saragih oleh the KIBO-ABC. Kegiatan ini dalam rangka kerjasama Space Environment Utilization Working Group (SEUWG), yang di wadahi oleh Asia Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF).

Konsep penelitian yang diajukan Ingrid adalah eksperimen “Box in the Jar”, untuk menguji gaya apung tiga benda yang terdiri dari Kayu, Polimer, dan Aluminium berbentuk kubus dengan ukuran 30 mm. Ketiga jenis benda tersebut memiliki massa jenis yang berbeda dan dimasukan ke dalam suatu wadah berisi air, kemudian wadah tersebut diputarbalikkan arahnya, untuk melihat bagaimana gerakan ketiga balok tersebut di lingkungan dengan gravitasi nol (Zero G).

Eksperimen tersebut akan diuji coba di KIBO, yaitu sebuah modul eksperimen antariksa Jepang yang berada di Stasiun Ruang Angkasa (International Space Station, ISS) pada tanggal 14 September 2016. Sehubungan dengan eksperimen tersebut Ingrid diundang untuk menyaksikan langsung hasil penelitiaanya melalui video yang diputar secara live melalui Kibo Mission Control Room di JAXA’s Tsukuba Space Center (TKSC), Jepang.

Tujuan dibentuknya KIBO-ABC antara lain untuk mempromosikan pemanfaatan KIBO serta meningkatkan kapasitas negara-negara anggota melalui kegiatan-kegiatan yang memanfaatkan KIBO. Sedangkan Program Try Zero G dimulai sejak 2011. Program ini merupakan program edukasi bagi para pelajar, khususnya di wilayah Asia Pasifik untuk mengajukan proposal eksperimen sederhana dan kemudian astronot mendemonstrasikan eksperimen tersebut dalam modul KIBO. Dengan eksperimen tersebut, diharapkan para pelajar dapat lebih memahami hukum-hukum fisika yang berlaku di bumi dan di luar angkasa. Pada mulanya program Try Zero G ini hanya memiliki 1 kategori yaitu untuk kalangan pelajar sekolah menengah saja, tapi mulai tahun 2016 dibuat menjadi 2 kategori. Kategori pertama untuk kalangan pelajar sekolah menengah dengan usia di bawah 18 tahun, sedangkan kategori kedua untuk kalangan mahasiswa dan peneliti serta perekayasa muda dengan usia di bawah 27 tahun. 

Indonesia ikut serta untuk pertama kalinya pada tahun 2016. Jumlah proposal yang masuk adalah sebanyak 16 proposal yang berasal dari 7 Sekolah Menengah Atas dan 1 Perguruan tinggi. Berdasarkan penilaian LAPAN, maka ada 5 proposal yang diajukan ke Jepang untuk dinilai kembali, 3 proposal untuk kategori I dan 2 proposal untuk kategori II. Penilaian berdasarkan pada beberapa persyaratan, yaitu feasibility, keamanan, waktu yang diperlukan untuk melakukan eksperimen, dan keterkaitan dengan hukum fisika yang diuji yang tercantum dalam hipotesis dan teori dari masing-masing proposal. 

Prestasi generasi muda di bidang sains dan teknologi antariksa perlu mendapat perhatian dan apresiasi yang luas baik dari pihak pemerintah, sekolah, publik maupun media massa, untuk dapat membantu menumbuhkembangkan minat generasi muda di bidang sains dan teknologi antariksa untuk kesejahteraan dan kemajuan bangsa Indonesia. 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL