Kompetensi Utama

Layanan


Kuliah Umum ISAST 2016: Teknologi Penerbangan dan Antariksa Berperan Penting bagi Manusia Modern
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 20 Sep 2016 • Dibaca : 40052 x ,

Kepala LAPAN (kiri) saat menyampaikan materi di kuliah umum didampingi Deputi Bidang Teknologi Penerbangan dan Antariksa.

Pengembangan teknologi penerbangan dan antariksa sangat penting bagi Indonesia. Untuk itu, LAPAN memiliki program utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) penerbangan dan antariksa untuk pemantauan sumber daya alam dan lingkungan nusantara. Fokusnya yaitu pengembangan sistem untuk mendukung program kemaritiman nasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, saat menjadi pembicara di kuliah umum dalam rangka, International Seminar on Aerospace Science and Technology (ISAST) ke-empat di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Selasa (20/9).

Thomas melanjutkan, untuk mendukung terwujudnya program tersebut, LAPAN memiliki tujuh program utama. Yang pertama yaitu pengembangan teknologi satelit. “Satelit sangat penting untuk dikuasi karena kehidupan manusia modern saat ini sangat bergantung pada teknologi antariksa, dan satelit adalah salah satu wahananya,” ujarnya.

Penggunaan satelit sangat penting, namun Indonesia hingga kini masih bergantung pada negara lain untuk pemenuhan kebutuhan teknologi ini. Kepala LAPAN mengatakan, Indonesia merupakan negara yang sangat luas sehingga sangat memerlukan satelit untuk memantau seluruh wilayahnya.

LAPAN telah berupaya untuk menguasai teknologi satelit melalui berbagai kerja sama. Thomas menjelaskan, satelit pertama, LAPAN-A1/LAPAN-Tubsat, yang merupakan hasil kerja sama dengan universitas di Jerman, berhasil dibangun dan diluncurkan pada 2007.

Satelit tersebut dapat berfungsi dengan baik hingga 2013 dan saat ini masih mengorbit. Satelit generasi berikutnya, LAPAN-A2/ LAPAN-ORARI selesai dibangun pada 2012 dan diluncurkan pada September 2015. LAPAN-A2 memiliki misi utama yaitu untuk pemantauan, komunikasi radio amatir bekerja sama dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI), dan pengamatan kapal laut. Menurut Thomas, satelit ini sangat efektif untuk komunikasi darurat saat terjadi bencana dan untuk pemantauan pulau-pulau terluar. Selain itu, satelit ini dapat memantau kapal-kapal yang melintas di wilayah Indonesia sehingga dapat mendeteksi adanya aktivitas illegal di perairan nusantara.

Satelit ketiga, LAPAN-A3/ LAPAN-IPB, merupakan hasil kolaborasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), diluncurkan pada Juni 2016. Selain memiliki misi seperti LAPAN-A2, satelit ini juga memiliki misi yang lebih baik yaitu untuk pemantauan lahan pertanian guna mendukung program ketahanan pangan nasional. Misi lainnya yaitu untuk kebutuhan sains, yaitu untuk pengukuran medan magnet.

Saat ini, fasilitas pengembangan satelit di LAPAN mampu membangun satelit dengan bobot maksimal 100 kilogram. Namun, Thomas menambahkan, LAPAN saat ini sedang menyiapkan fasilitas untuk dapat mengembangkan satelit hingga bobot 1000 kilogram.

Program kedua yaitu pengembangan pesawat teknologi aeronautika melalui pengembangan pesawat transport dan sistem pemantau maritim berbasis pesawat tanpa awak. Thomas mengatakan, program ini diwujudkan melalui kolaborasi LAPAN dengan PT Dirgantara Indonesia (DI). Kedua instansi bekerja sama membangun pesawat N219. Pesawat berpenumpang 19 orang ini dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan transportasi di wilayah terpencil Indonesia dan dengan topografi yang sulit. Pesawat ini memiliki kelebihan mampu lepas landas dan mendarat di landasan yang pendek sehingga tidak memerlukan lapangan udara yang besar. Ia melanjutkan, LAPAN dan PT DI juga akan mengembangkan pesawat generasi berikutnya yaitu N245 dan N270.

Terkait pemantauan maritim, LAPAN juga mengembangkan pesawat tanpa awak yang disebut dengan LAPAN Surveillance Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau LSU. Pesawat tanpa awak buatan LAPAN mampu terbang sejauh 300 kilometer. Menurut Thomas, pesawat tanpa awak dapat lebih efektif dan murah dalam pemantauan maritime. Hal ini disebabkan, biaya yang diperlukan untuk menerbangkan pesawat tanpa awak jauh lebih murah daripada menggunakan pesawat berpenumpang.

Program ketiga yaitu pengembangan roket sonda berdiameter 100 milimeter hingga 550 milimeter. Tujuan pengembangan teknologi ini yaitu untuk membangun roket pengorbit satelit di masa depan.

Program keempat yaitu pengembangan bank data penginderaan jauh. LAPAN memiliki data satelit penginderaan jauh yang diberikan secara gratis kepada instansi pemerintah dan perguruan tinggi. Pemberian data citra satelit ini sesuai dengan instruksi presiden yang menyatakan bahwa LAPAN sebagai penyedia data satelit penginderaan jauh nasional.

Program kelima yaitu pengembangan sistem pemantauan bumi nasional. Thomas mengatakan, sistem ini untuk pemantauan antara lain terkait perubahan iklim, penghitungan karbon berdasarkan luas hutan, informasi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI), pertanian, serta sumber daya alam dan lingkungan. Sistem pemantauan bumi nasional ini dapat diakses di website LAPAN dan aplikasi android.

Program keenam yaitu pengembangan sistem pendukung keputusan dinamika atmosfer berbasis satelit dan model atmosfer. Salah satu contohnya yaitu melalui Satellite Disaster Early Warning System (Sadewa) untuk memantau hujan dan cuaca ekstrem.

Program ketujuh yaitu pengembangan sistem pendukung keputusan cuaca antariksa dan observatorium nasional. Program ini beryujuan untuk memantau cuaca antariksa, benda jatuh antariksa, dan prediksi frekuensi. Saat ini, LAPAN bekerja sama dengan berbagai instansi berencana membangun observatorium nasional di Kupang, Nusa Tenggara Timur.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL