Kompetensi Utama

Layanan


LAPAN Pantau Sampah Antariksa yang Jatuh di Sumenep
Penulis Berita : Humas/EN • Fotografer : dok. LAPAN • 27 Sep 2016 • Dibaca : 23622 x ,

Lintasan bekas roket Falcon-9 yang dapat diakses di website LAPAN.

Benda berupa tabung ditemukan jatuh di Sumenep, Jawa Timur, pada Senin, 26 September 2016. Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, saat konferensi pers di Kantor LAPAN, Jakarta, Selasa (27/9) mengatakan bahwa benda tersebut diduga kuat merupakan sampah antariksa pecahan bekas roket Falcon 9 R/B.

Kesimpulan ini berdasarkan adanya kesesuaian antara lintasan benda hasil pengamatan dan model dengan fakta di lapangan. Kepingan yang ditemukan adalah bagian dari roket tingkat atas yang digunakan untuk meluncurkan satelit komunikasi JCSAT 16 miliki Jepang pada 14 Agustus 2016. Roket miliki Space-X, Amerika Serikat, ini diluncurkan dari Cape Canaveral Air Force Station, Florida, Amerika Serikat.

Thomas mengatakan, LAPAN selalu memantau seluruh sampah antariksa yang melintas di wilayah Indonesia. Berdasarkan pematauan, pada 26 Agustus 2016 terdapat dua sampah antariksa yang melintas di wilayah Indonesia dan berpotensi jatuh, yaitu pecahan roket Delta 2 PAM-D dan Falcon 9. Delta 2 PAM-D melintasi Pulau Madura pada pukul 06.27 WIB. Sementara itu, Falcon-9 melintasi pulau itu pada pukul 09.21 WIB sesuai dengan kisaran waktu jatuhnya benda tersebut, yaitu antara pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.

Kepala LAPAN mengatakan, roket tingkat pertama Falcon-9 dapat mendarat kembali ke Bumi dan dapat digunakan kembali. Namun, roket tingkat dua yang mengantarkan satelit sampai ke orbit geostasioner tidak dapat kembali lagi. Setelag roket tingkat kedua melepaskan satelit, bekas roket tersebut akan mengorbit Bumi. Selama mengorbit, bekas roket yang sudah menjadi sampah antariksa memasuki atmosfer padat berulang-ulang sehingga mengalami pengereman. Dengan demikian, ketinggian roket semakin rendah.

“Pada 26 September 2016, bekas roket tersebut diperkirakan memasuki ketinggian kritis, sekitar 120 kilometer di atas permukaan bumi. Di ketinggian kritis tersebut, bekas roket belum mampu melawan gesekan atmosfer sehingga masuk ke atmosfer bumi, kemudian terbakar dan dalam beberapa menit jatuh ke bumi,” ujarnya.

Ia melanjutkan, Dalam beberapa menit jatuh. Itu yang terjadi pada roket Falcon. Lintasan awal pada pukul 09.00 masih di sekitar afrika dan berjalan sampai dengan pada pukul 09.21. kemudian roket tsb sudah berada disekitar Pulau Madura.

Ia menjelaskan, pada umumnya pecahan roket berupa logam. Menurut Thomas, sebagian besar sampah antariksa tidak mengandung radioaktif. Namun, ia mengimbau masyarakat untuk tidak memegang benda antariksa tersebut karena mungkin saja mengandung bahan kimia beracun, misalnya racun yang berasal dari sisa bahan bakar roket, meskipun pada umumnya bahan bakar roket sudah habis ketika jatuh ke bumi. Kemungkinan adanya bahan beracun ini masih harus diteliti lebih lanjut.

Hingga saat ini, LAPAN mencatat kejadian di Sumenep merupakan keempat kali sampah antariksa jatuh di Indonesia. Sampah antariksa yang jatuh pertama kali dilaporkan warga yang menemukan pecahan tabung bahan bakar roket Rusia di Gorontalo pada 1981. Kemudian sebuah tabung bahan bakar berbentuk bola dengan diameter satu meter jatuh di Lampung pada 1988. Pada 2003, juga ditemukan pecahan pecahan roket China di Bengkulu.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL