Kompetensi Utama

Layanan


Indonesia Kembangkan Teknologi Radar Atmosfer Khatulistiwa
Penulis : NN • Media : Sainsindonesia.co.id • 07 Oct 2016 • Dibaca : 10183 x ,

Indonesia, melalui Lapan, terus mengembangkan teknologi radar untuk pemantauan wilayah atmosfer di atas langit khatulistiwa. Inovasi ini sangat penting untuk mengetahui perubahan iklim secara global.

Sebelumnya, Indonesia melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) telah sukses mengoperasikan perangkat bernama Equatorial Atmosphere Radar (EAR) untuk pengamatan atmosfer dan ionosfer di wilayah khatulistiwa. Kini, Lapan mulai mempersiapkan teknologi radar generasi selanjutnya dengan cakupan yang lebih luas, yaitu Equatorial Middle and Upper Atmosphere Radar (EMU).

Upaya pengembangan teknologi radar atmosfer khatulistiwa ini bukannya tanpa alasan. Para ilmuwan antariksa menilai wilayah equatorial merupakan penggerak dinamika atmosfer global yang berpengaruh besar pada perubahan iklim dunia. Wilayah khatulistiwa Indonesia sendiri merupakan salah satu dari tiga daerah dengan atmosfer equator paling aktif di dunia, selain Brasil dan Afrika Selatan.

“Sangat menarik untuk meneliti atmosfer global di Indonesia. Atmosfer di langit khatulistiwa Indonesia adalah yang paling aktif, sehingga memengaruhi atmosfer global. Ini tentu menarik peneliti di seluruh dunia. Beberapa master dan doktor nasional maupun internasional telah dihasilkan dari Kototabang ini,” papar Kepala Lapan Thomas Djamaluddin, kepada Majalah Sains Indonesia beberapa waktu lalu di Jakarta (4/8).

Kototabang, yang berada di Kabupaten Agam, Sumatra Barat adalah lokasi tempat beroperasinya radar EAR. Teknologi pemantauan atmosfer yang telah beroperasi sejak 2001 silam ini merupakan hasil rekayasa para peneliti Lapan bekerja sama dengan Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) Universitas Kyoto, Jepang. Kototabang diharapkan menjadi Pusat Unggulan Dinamika Atmosfer Equator.

Thomas Djamaluddin mengungkapkan hasil pemanfaatan EAR sampai saat ini berjalan baik. Radar berdiameter 110 meter itu mampu memberikan data atmosfer dan ionosfer secara lengkap dengan resolusi spasial dan temporal yang tinggi setiap 5 menit sekali. EAR mampu mengamati arah dan kecepatan angin tiga dimensi pada ketinggian 1,5 km sampai 20 km.

“Radar EAR juga mampu mengamati ketidakstabilan lapisan ionosfer pada ketinggian di atas 90 hingga 100 km. Radar ini memiliki 560 antena yagi -salah satu jenis antena radio atau televisi- yang beroperasi pada frekuensi MHz, dengan power puncak saat transmisi 100 kW,” papar pakar astronomi lulusan Kyoto University kelahiran Purwokerto, 23 Januari 1962 itu.

Dengan spesifikasi tersebut, EAR sudah mampu memberikan pemahaman mengenai dinamika atmosfer di equatorial kepada masyarakat di Indonesia dan dunia. Seperti konveksi, Madden Julian Oscillation (MJO), monsun, tropopause breaking, plasma bubble, ireguralitas ionosfer, dan lain sebagainya. Namun demikian teknologi radar tersebut masih terus dikembangkan Lapan bersama dengan RISH.

Sumber :
http://www.sainsindonesia.co.id/index.php/rubrik/penerbangan-a-antariksa/2602-indonesia-kembangkan-teknologi-radar-atmosfer-khatulistiwa








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2020 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL