Kompetensi Utama

Layanan


Kurang Dana Sebabkan Lapan Fokus Bangun Satelit Mikro
Penulis : Dody • Media : bangka.tribunnews.com • 01 Nov 2016 • Dibaca : 29868 x ,

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Ketidaksediaan anggaran dalam jumlah besar mengakibatkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) membuat satelit dalam ukuran kecil.

“Membangun satelit besar menelan biaya sekitar Rp 1,5 triliun, sedangkan anggaran di Lapan tak sampai Rp 1 triliun,” ujar Prof Dr Thomas Djamaluddin MSc, Kepala Lapan, Selasa (01/11/2016).

Berbicara dalam kuliah umum di Ruang Rapat Kecil UBB, Balunijuk, ketua Lapan menjelaskan strategi paling rasional yang diambil adalah membangun satelit ukuran kecil, tapi dalam jumlah banyak.

“Satelit kecil biayanya di bawah satu miliar, itu bisa kita produksi dua hingga tiga tahun,” ujarnya dalam kuliah umum berjudul “Program Unggulan Lapan untuk Mewujudkan Indonesia yang Lebih Maju dan Mandiri”.

“Tapi kalau anggaran ditambah, Lapan setiap tahun mampu memproduksi satu satelit,” tukas Thomas Djamaluddin usai penandatangan naskah nota kesepahaman (MoU) dengan UBB.

Thomas menegaskan, pengembangan teknologi satelit dan antariksa merupakan salah satu dari empat kompetensi Lapan. Namun lantaran keterbatasan dana, lembaga yang diidentikkan dengan NASA (National Aeronautics and Space Administration) -- lembaga pemerintah milik Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas program luar angkasa itu, mengawalinya dengan membuat satelit mikro.

“Di sisi lain, kita mulai dengan satelit mikro karena teknologinya cepat kita kuasai!,” ucap Thomas.
Hingga 2016, Lapan telah meluncurkan tiga satelit ke ruang angkasa.

Semuanya menggunakan peluncur roket India. Tiga satelit itu adalah Lapan-A1/Tubsat (diluncurkan pada tahun 2007), Lapan-A2/Orari (diluncurkan pada 29 September 2015) dan Lapan-A3/IPB (diluncurkan pada Juni 2016).

“Sekarang ini kita sedang menyiapkan satelit Lapan-A4 dan Lapan A-5, di mana masing-masing satelit akan diluncurkan pada tahun 2018-2019, dan 2020-2021,” ujar Thomas.

Ditegaskannya, nama Indonesia di dunia industri satelit cukup dikenal. Sebab Indonesia adalah pengguna satelit untuk komunikasi ke tiga setelah Amerika Serikat dan Kanada.

“Tahun 1976 Indonesia meluncurkan satelit Palapa. Kini, tahun 2016, usianya sudah 40 tahun,” terang Thomas dihadapan dosen dan mahasiswa UBB.

Dalam konteks pengembangan sistem pemantau bumi nasional, kehadiran satelit dan penginderaan jauh sangat penting untuk merancang pembangunan, identifikasi kekayaan alam dan mendeteksi pemanfaatan kekayaan sumberdaya.

“Satelit bisa digunakan untuk berbagai aspek, seperti deteksi ladang ganja, identifikasi pajak di perkebunan, pergerakkan kapal dan lain sebagainya,” ujar Thomas.

Berdasarkan data Lapan, pergerakkan kapal di seluruh dunia berkisar 2,4 juta kapal. Sementara di Indonesia berkisar puluhan ribu unit kapal.

“Satelit juga bisa memantau kegiatan kapal yang mencurigakan,” ujar Thomas Djamaluddin.


Sumber :http://bangka.tribunnews.com/2016/11/01/kurang-dana-sebabkan-lapan-fokus-bangun-satelit-mikro








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL