Kompetensi Utama

Layanan


Jalan Panjang Namun Memungkinkan untuk Mengembangkan Satelit Sendiri
Penulis : Winny Tang • Media : thejakartapost.com • 13 Feb 2017 • Dibaca : 18887 x ,

Indonesia mengambil langkah perlahan untuk mengurangi ketergantungannya pada satelit telekomunikasi asing melalui transfer teknologi dan pengembangan mikro-satelit.

Bahkan, semakin banyak insinyur Indonesia yang telah dilatih di luar negeri untuk menguasai teknologi tersebut.
Seorang insinyur 27 tahun dari Telkom, Angga Risnando, misalnya, yang telah belajar teknologi pembuatan satelit Telkom 3S langsung dari produsen satelit Thales Alenia Space (TAS) yang berbasis di Cannes.

"Saya belajar selama satu setengah tahun khusus tentang muatan satelit. Saya belajar dari orang-orang yang ahli dalam merancang transponder," jelasnya kepada The Jakarta Post selama kunjungan media ke pabrik TAS di Cannes, Prancis, Jumat.
Telkom 3S satelit yang dijadwalkan akan diluncurkan minggu ini dari French Guyana di bagian utara Amerika Selatan ini akan mendukung layanan komunikasi suara dan data milik Telkom.

Untuk menyebarkan pengetahuan yang ia terima dari pengalaman magangnya di luar negeri, Angga menulis sejumlah buku yang diberikan kepada rekan-rekannya di Telkom.

Dengan banyanknya insinyur yang terlatih di luar negeri, secercah harapan timbul bahwa Indonesia bisa membangun satelit komersial sendiri untuk menyediakan layanan telekomunikasi bagi penduduknya yang berjumlah 250 juta orang.

"Indonesia saat ini membutuhkan 300 transponder, 140 di antaranya adalah milik kita sendiri sedangkan sisanya 160 buah yang disewa [dari pihak lain]." ujar Kepala kantor teknologi Telkom, Abdus Somad Arief di Cibinong, Jawa Barat, baru-baru ini.

Dia mengatakan Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terdiri dari 17.000 pulau, bisa sepenuhnya berdaulat dari satelit asing di masa depan karena badan antariksa Indonesia, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), telah berhasil meluncurkan satelit mikro buatan dalam negeri.

Sejauh ini, LAPAN telah meluncurkan tiga satelit eksperimental dari bandar antariksa India, yaitu LAPAN A-1 / Tubsat pada tahun 2007, LAPAN A2 / Orari pada tahun 2015 dan LAPAN A3 pada tahun 2016.

Satelit eksperimental LAPAN ini berbeda dari satelit operasional yang diluncurkan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI), operator telekomunikasi Indosat, dan Telkom dalam hal berat, harga dan fungsi.

Harga satelit-satelit mikro yang dikembangkan oleh LAPAN berkisar antara Rp 35 miliar - Rp 65 miliar masing-masing dengan berat kurang dari 100 kilogram. Satelit tersebut diposisikan di orbit rendah dan digunakan untuk pengamatan seperti pemantauan penggunaan lahan atau pergerakan kapal, jelas kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin kepada The Jakarta Post.

Sementara itu, satu satelit operasional yang menelan biaya sekitar Rp 3,5 triliun dengan berat 3,5 ton, dapat diposisikan di orbit geostasioner dan dapat digunakan untuk meningkatkan layanan telekomunikasi serta penyiaran.

Berdasarkan roadmap LAPAN, pengembangan satelit operasional akan memakan waktu sekitar 25 tahun karena keterbatasan anggaran.

Tahun ini, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp 698 miliar untuk LAPAN, turun dari Rp 777.000.000.000 di tahun sebelumnya. Pemotongan anggaran memaksa lembaga penerbangan dan antariksa tersebut untuk menunda pembelian komponen serta perluasan laboratorium dalam upayanya untuk mengembangkan teknologi satelit.

Menyadari kendala tersebut, Thomas mengatakan strategi LAPAN setelah selesai membuat dua satelit eksperimental, A4 dan A5 pada tahun 2020, LAPAN akan mulai membuat satelit operasional kecil dengan berat antara 500 sampai 1.000 kg.

"Strategi kami setelah membangun A5 adalah bahwa kita akan membuat satelit mikro operasional, karena itu adalah hal yang terbaik untuk dilakukan mengingat anggaran dan waktu untuk persiapan," katanya.

Terlepas dari keterbatasan anggaran, tantangan lain yang dihadapi oleh LAPAN adalah regulasi pemerintah tentang moratorium pemerintah tentang persyaratan pegawai negeri sipil. Moratorium tersebut membuat LAPAN kesulitan untuk menemukan insinyur yang berkompeten untuk mengembangkan satelit buatan dalam negeri.

Saat ini, LAPAN hanya memiliki sekitar 30 insinyur yang mengkhususkan diri dalam pengembangan dan pembuatan satelit yang bekerja di Pusat Teknologi Satelit di Rancabungur, Bogor.

Dengan demikian, untuk mempercepat proses pembuatan satelit sendiri, LAPAN secara teratur mengirimkan beberapa insinyur ke luar negeri untuk belajar tentang proses pembuatan satelit, seperti yang dilakukan Telkom.

"Tahun ini kami akan mengirimkan sekitar 10 insinyur ke Jepang, Korea dan beberapa negara di Eropa untuk mengembangkan ilmu pengetahuan mereka di bidang pembuatan satelit," kata Thomas.
<!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 10]> <style> /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} </style>








Related Posts
No Related posts
© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL