Kompetensi Utama

Layanan


Teknologi Penerbangan dan Antariksa Harus Dikuasai untuk Memacu Peningkatan Produksi Satelit Indonesia
Penulis Berita : Humas/Sgd • Fotografer : Humas/Sgd • 30 Mar 2017 • Dibaca : 18189 x ,

Peserta Seminar Nasional Bidang Satelit menjawab tantangan pertanyaan Peneliti LAPAN untuk menerangkan kemustahilan bumi datar

Pertanyaan menggelitik diajukan Peneliti Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat), Sonny Dwi Harso. Sonny bertanya di hadapan para mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gunadarma, “Di sini ada yang percaya flat earth nggak? Coba kalau ada, saya pengen dengar.” 

Secara spontan celetukan tersebut disambut tawa riuh para mahasiswa yang hadir dalam sosialisasi hasil litbangyasa satelit LAPAN di Auditorium Universitas Gunadarma Kampus Simatupang, Jakarta, Kamis (30/03). Menanggapi pertanyaan tersebut, seorang mahasiswa mengatakan bahwa bumi datar itu mustahil karena satelit bergerak mengorbit ke bumi. Dari kutipan percakapan ini, terbangun komunikasi yang efektif dalam kegiatan Seminar Nasional mengenai perkembangan satelit produksi Indonesia. 

Sosialisasi juga mendatangkan narasumber dari Universitas Gunadarma, Purnawarman Musa. Ia mempresentasikan tentang kegiatan yang pernah diikuti tim Gunadarma saat mengikuti Kompetisi Muatan Roket dan Roket EDF serta Kompetisi Muatan Balon Atmosfer (Komurindo-Kombat). 

Pada sesi selanjutnya, Kepala Bidang Diseminasi Pusteksat, Iwan Faizal memaparkan Profil LAPAN, khususnya program dan kegiatan Pusteksat. Ia menjelaskan, satelit Indonesia buatan LAPAN yang pertama kali dibuat di Berlin pada 2007 (LAPAN-A1/LAPAN-TUBSat). Satelit ini merupakan tolak ukur sejarah kemandirian Indonesia di Bidang Satelit. Tidak hanya itu, proses alih teknologi juga terjadi sehingga produksi satelit mampu dilakukan dan pengujian juga berlangsung di dalam negeri. Hal ini dibuktikan dengan pembuatan satelit LAPAN generasi berikutnya (LAPAN-A2/LAPAN-Orari dan LAPAN-A3/LAPAN-IPB).

Sonny menjelaskan secara teknis mengenai satelit-satelit buatan LAPAN. Sonny memperlihatkan hasil citra satelit LAPAN, mulai dari LAPAN-A1 sampai satelit yang baru tahun 2016 kemarin diluncurkan, LAPAN-A3. Selain menunjukkan hasil citra satelit tersebut, Sonny juga menerangkan keunggulan satelit LAPAN yang mampu digunakan untuk radio amatir, pemetaan medan magnet bumi, pemantauan kapal asing, dan pengambilan citra menggunakan kamera Nir RGB untuk pemantauan vegetasi. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, LAPAN terus berupaya menyempurnakan capaian tersebut dan menerapkan pada satelit selanjutnya (LAPAN-A4). Sonny juga memaparkan sedikit mengenai satelit LAPAN-A5 yang nantinya dilengkapi dengan Synthetic Aperture Radar (SAR). Untuk membangunnya, LAPAN bekerja sama dengan Chiba University Jepang dan Prof. Josaphat 'Josh' Tetuko Sri Sumantyo.

Acara yang dipandu Yulisdin Mukhlis ini semakin seru karena antusiasme mahasiswa semakin besar dengan dibukanya sesi tanya jawab. Seusai narasumber memberikan paparan, para mahasiswa bertanya seputar satelit dan teknologinya. Acara ini ditutup dengan tukar-menukar cinderamata antara Pusat Teknologi Satelit LAPAN dengan Universitas Gunadarma.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL