Kompetensi Utama

Layanan


Pembangunan Fisik Tahun 2018
Penulis : Redaksi • Media : timorexpress.fajar.co.id • 12 Apr 2017 • Dibaca : 6892 x ,

OELAMASI, TIMEX – Pembangunan fisik observatorium nasional di gunung Timau Kecamatan Amfoang Tengah, akan dimulai tahun 2018 mendatang. Tahun ini, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melakukan persiapan terkait perizinan, termasuk persiapan pelelangan pengadaan teleskop.

“Pembangunan fisik direncanakan tahun 2018. Kami sementara melakukan persiapan-persiapan seperti perizinan. Izin belum beres, kita belum bisa laksanakan. Rencana kami fisik tahun 2018 tergantung dari perizinan,” kata Deputi Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer LAPAN, Hafif Budiyono kepada Timor Express di Oelamasi usai rapat koordinasi pembangunan observatorium nasional bersama Bupati Kupang dan staf, Selasa (11/4).

Hafif menjelaskan, pembangunan infrasturktur jalan menuju gunung Timau yang akan menjadi tempat pembangunan observarotium pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian PUPR agar mengerjakan jalan tersebut.

“Kami akan berkoordinasi dengan Dinas PU supaya mereka yang membangun. Kami sudah mulai berkoordinasi untuk memulai pembangunan jalan. Karena tupoksi kami beda, bukan jalan. Jadi kami harus menggandeng Kementerian PU supaya mereka membangun jalan. Namun dari pemkab sendiri sudah mempersiapkan semua itu. Kami berharap tahun 2017 ini selesai perizinan,” katanya.

Dikatakan, pembangunan tahap pertama hingga tahun 2019. Tahun 2020 integrasi. Termasuk tahun 2020 diharapkan fisik observatorium sudah selesai dibangun. “Bangun teleskopnya sendiri tiga tahun. Kita butuh waktu yang panjang. Alatnya di integrasi di luar, dibuka lagi dan dibawa ke sini dipasang lagi. tahun 2017 kami persiapan pelelangan teleskopnya,” ujarnya.

Sementara, dalam pemaparannya, Hafif yang didampingi Kepala Pusat Sains Antariksa LAPAN, Klara Yonoyatini menjelaskan, observatorium astronomi Boscha yang berlokasi di Lembang Bandung Provinsi Jawa Barat, merupakan salah satu observatorium terbesar di Indonesia yang keberadaannya lebih dari 90 tahun. Kondisi lingkungan di Lembang semakin tidak sesuai dengan pengamatan astronomi skala riset lanjut.

Karena itu, diperlukan pengembangan sebuah observatorium astronomi dalam skala nasional yang mampu mewadahi fasilitas penelitian astronomi tingkat lanjut dan juga berperan dalam pengembangan keilmuan lintas disiplin serta berbagai aktivitas terkait lainnya.

Sehingga, dapat membentuk sinergi antardisiplin dan kerja sama lintas bidang yang produktif. Untuk dapat mewujudkan hal itu, maka observatorium astronomi dengan cakupan multi panjang gelombang merupakan pilihan yang sangat disarankan.

Hafif menjelaskan, pembangunan observatorium nasional adalah program pemerintah untuk pembangunan kawasan Timur Indonesia. Pembangunan observatorium nasional adalah bagian upaya mempercepat pengembangan iptek dan pendidikan di kawasan Timur Indonesia.

“Observatorium nasional turut memberdayakan masyarakat dengan pengembangan pariwisata khusus berupa, Taman Nasional Langit Gelap. Observatorium nasional adalah program pembangunan jangka panjang, tahap awal tahun 2017 sampai tahun 2019. Observatorium nasional tidak akan merusak lingkungan, bahkan berkepentingan dengan kelestarian lingkungan. Observatorium nasional di Amfoang dilengkapi dengan pusat sains di Tilong untuk edukasi publik,” katanya.

Karena itu, kata Hafif, pembangunan observatorium nasional perlu dukungan semua pihak. Pemerintah pusat, pemerintah daerah dan jajarannya, perguruan tinggi dan masyarakat agar tujuan observatorium nasional dalam meningkatkan kualitas iptek dan pendidikan serta pemberdayaan masyarakat bisa tercapai dengan baik.
Dikatakan, lokasi pembangunan observatorium nasional di kawasan hutan lindung gunung Timau Kecamatan Amfoang Tengah pada ketinggian 1.300 meter. Dipilihnya lokasi di gunung Timau karena dekat dengan khatulistiwa (lintang kurang dari 10 derajat), memiliki kondisi iklim dan cuaca yang cocok untuk pengamatan astronomi, jauh dari hunian dan permukiman penduduk serta berada dalam kawasan cagar alam atau kawasan lindung dan dibangun dengan izin khusus.
“Menempati kawasan inti 30 hektare dan kawasan buffer 300 hektare, mencakup kawasan hutan lindung,” jelasnya.
Hifif menjelaskan, jenis kegiatan yang dilakukan di observarorium nasional adalah pengamatan objek tata surya dan spektroskopi atmosfer planet, pengamatan eksoplanet, pengamatan fotometri dan spektroskopi bintang, pengamatan gugus bintang dan struktur galaksi serta pengamatan ekstragalaksi.
Ia merincikan, peralatan yang nantinya berada di lokasi observatorium adalah teleskop optik, teleskop dengan aperture 3,8 meter dalam dome, teleskop dengan aperture 1,2 meter dalam dome.
Array teleskop optik terdiri dari empat teleskop dengan diameter 50 cm dan empat teleskop dengan diameter 30 cm diletakkan dalam satu gedung, dengan atap geser. Teleskop surya terdiri dari tiga teleskop berdiameter 50 cm untuk pengamatan multi panjang gelombang dengan resolusi tinggi.

“Teleskop special purposes terutama untuk pengamatan patroli NEO mengikuti spesifikasi program, misalnya Atlas, Panstarss dan sebagainya. Semua teleskop dirancang dengan sistem robotik,” jelasnya.

Sementara teleskop radio yakni antena parabolik berdiameter 20 meter untuk keperluan pengamatan single dish serta berkemampuan VLBI. Rentang frekuensi yang ditinjau terutama dalam microwave mulai dari 1 GHz sampai dengan 45 GHz. Teleskop ini mengikuti jejaring pengamatan VLBI Asia Timur dan Australia.

“Array dipol frekuensi rendah merupakan array antena tak bergerak mengikuti standar LWA (Long Wavelength Array, USA) atau LOFAR (Low Frequency Array, Eropa), yang merupakan precursor dari array Low-SKA untuk dekade mendatang. Array antena parabolik linier merupakan interferometer radio dengan diameter kecil (kurang dari 10 meter) dengan jumlah antena sampai dengan 20 buah. Teleskop ini berguna untuk solar radio imaging serta berbagai objek langit lain,” kata Hafif.

Sementara itu, Bupati Kupang, Ayub Titu Eki dalam sepatah katanya mengatakan, kawasan yang akan dibangun observatorium nasional merupakan kawasan hutan yang tidak bisa diperjualbelikan. Karena itu, ia berpesan kepada tim dari LAPAN agar tidak mempercayai oknum-oknum yang ingin mencari keuntungan dengan menjual lahan di lokasi tersebut.
Ayub juga menekankan pada pembangunan infrastruktur jalan menuju lokasi pusat pembangunan observatorium nasional. Di mana pekerjaan lanjutan jalan poros tengah tahun ini hanya 1,6 km. Karena itu, ia telah melayangkan surat ke Kementerian PUPR agar tidak dibuat jalan hotmix, namun dana untuk pekerjaan jalan hotmix dialihkan untuk pekerjaan jalan perkerasan. Hal ini menurut Ayub karena jalan menuju pusat pembangunan observatorium sangat memprihatinkan.

“Pemkab sudah bersurat ke Kementerian PUPR agar pekerjaan jalan 1,6 km jangan di hotmix tapi dibuat perkerasan,” tegasnya.

Ayub menegaskan, untuk mendukung pembangunan observatorium nasional di gunung Timau, di lokasi sekitar gunung Timau akan dibuat kebun besar program Taman Eden. “Semua buah-buahan akan tersedia di kebun itu. Semoga saat kerja tidak beli buah jauh-jauh,” kata Ayub.



Sumber : http://timorexpress.fajar.co.id/2017/04/12/pembangunan-fisik-tahun-2018/








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL