Kompetensi Utama

Layanan


Pusat Penelitian Antariksa Terbesar di Indonesia akan Dibangun di NTT
Penulis : Sugandi Afandi • Media : rri.co.id • 03 Apr 2017 • Dibaca : 4743 x ,

KBRN, Jakarta : Observatorium Bosscha di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dinilai sudah tidak representatif untuk lokasi observasi antariksa atau tata Surya. Rencananya Lembaga Penebangan dan Antariksa Nasional (Lapan) akan membangun pusat Observatorium terbesar di Indonesia dengan lokasi di Gunung Timau, Kecamatan Amfoang, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin mengatakan, keberadaan observatorium di NTT akan menganggantikan Observatorium di Bossha. Pengamatan tata surya membutuhkan pencahayaan yang bagus sehingga diperlukan cahaya gelap sementara di Bossha yang berada di Bandung, polusi cahaya tinggi.

"Dimaksudkan untuk menggantikan Bosscha di Lembang yang saat ini parah terkena polusi Bandung. Ini akan menjadi observatorium nasional. Kondisi langit di Gunung Timau , jelas masih relatif gelap dibandingkan dengan Bosscha yang terpengaruh oleh polusi cahaya Kota Bandung," kata Prof Thomas dalam perbincangan dengan Radio Republik Indonesia, Senin (3/4/2017).

Keputusan membangun observatorium di Kupang telah melalui kajian mendalam, diantaranya survei lokasi yang dilakukan oleh tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Pertimbangannya selain tidak ada polusi cahaya seperti di Bandung, juga Kupang memiliki cuaca cerah yang terpanjang di Indonesia. Sebenarnya selain Kupang, ada wilayah lain di Indonesia Timur menjadi pertimbangan lokasi pusat penelitian antariksa karena memiliki kualifikasi namun akses menuju lokasi observatorium sulit sehingga diputuskan di Gunung Timau.

Adapun untuk proses saat ini adalah pengurusan izin lahan gunung dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dan izin analisa dampak lingkungan (AMDAL). Sementara dari Pemerintah NTT telah memberi dukungan penuh.

"Semuanya sedang dalam proses. Semoga tahun ini akan selesai. Diharapkan infrastruktur mulai tahun ini. Peralatan secara bertahap tahun depan atau tahun berikutnya. Target selesai tahun 2019," terang Thomas.

Nantinya observatorium akan dilengkapi dengan teleskop ukuran 3,8 meter atau terbesar di Indonesia. Lalu fasilitas lain adalah teleskop radio. Prof Thomas menginginkan pembangunan observatorium di Kupang, akan mempercepat pengembangan IPTEK dan pendidikan di Indonesia bagian timur. Selain itu, observatorium akan menjadi sarana penelitian keantariksaan baik oleh Lapan, ITB, Universitas Nusa Cendana Kupang, perguruan tinggi dalam negeri termasuk kerja sama dalam penelitian internasional.

"Keberadaan observatorium di Indonesia timur, diharapkan mendorong perkembangan IPTEK dan pendidikan. Kunjungan akan bertambah, tidak hanya dalam negeri tetapi internasional. Diharapkan interaksi peneliti dapat memacu perkembangan IPTEK. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa science dan teknologi untuk praktek di lapangan. Ini dapat diakses oleh masyarakat, pelajar. Ini menjadi edukasi terkait keantariksaan," jelasnya.

Ia memastikan Bosscha tetap menjadi lokasi penelitian antariksa. Hanya saja disesuaikan dengan kondisi Bandung dengan polusi cahaya yang tinggi.

"Bosscha tetap menjadi lokasi observasi pendidikan. Kalau pengamatan yang terang di Bosscha. Kalau yang redup dan mendalam, terkait dengan keantariksaan, kita gunakan observatorium di Kupang," jelasnya.




Sumber : http://rri.co.id/post/berita/378743/teknologi/pusat_penelitian_antariksa_terbesar_di_indonesia_akan_dibangun_di_ntt.html








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL