Kompetensi Utama

Layanan


Butiran Es di Langit Bandung
Penulis : ANWARSISWADI | ERWIN ZACHRI • Media : Koran Tempo • 26 Apr 2017 • Dibaca : 14129 x ,



Cuaca Kota Bandung, Rabu pekan lalu, seperti lagu Bing. Siang itu surya berapi sinarnya, selepas tengah hari tiba-tiba redup langit gelap. Awan putih tebal di sisi timur hingga selatan menjulang ke atas.

Tak lama kemudian, selama satu jam-sekitar pukul 13.00-14.00-hujan turun. Angin ngagelebug dan petir dar-der-dor.Akibatnya, pohon-pohon dan tiang reklame bertumbangan, sebagian menimpa mobil. Atap sebagian rumah dan gedung lepas serta beterbangan.

Menurut Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman Prasarana Sarana Utilitas Pertanahan dan Pertamanan (DPKP3) Kota Bandung, Arief Prasetya, lebih dari 60 pohon tumbang dan patah serta dua tiang reklame ambruk di berbagai jalan. Sebagian pohon tumbang menutup jalan, seperti di Jalan Dago, Lodaya, Tamansari, dan Jalan Badaksinga, serta menimpa delapan mobil dan empat rumah.

Tidak itu saja. Dalam hujan badai tersebut, butiran es berjatuhan dari langit. Di kitaran Jalan Dipati Ukur, misalnya, butiran es tampak menggunduk di pelataran parkir kampus Universitas Padjadjaran. Sebagian lagi memenuhi sepotong ruas jalan di sebuah perumahan.

Peneliti klimatologi di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di Bandung, Erma Yulihastin, mengatakan fenomena hujan badai ekstrem di Bandung tersebut dalam ilmu meteorologi disebut juga sebagai badai dalam sel yang tertutup.

"Badai ini terjadi karena ada pembentukan awan kumulus menara yang terjadi secara cepat, sekitar 20-30 menit, untuk mencapai kondisi matang," katanya, Rabu lalu.

Saat awan telah matang dan terjadi hujan, tercipta pula interaksi dengan udara di bawahnya yang lebih kering. Akibatnya, menimbulkan tiupan angin yang sangat kuat di bawah awan hujan.

Mengapa itu terjadi? Berdasarkan data prediksi hujan dan angin dari Satellite Disaster Early Warning System (Sadewa) Lapan, sel badai tertutup tersebut dipicu dua faktor.

Pertama, konvergensi atau pemusatan dari angin kuat berkecepatan 7 meter per detik dari selatan, yaitu laut selatan Jawa Barat, dan angin dengan kekuatan sedang yang mengalir 4 meter per detik dari utara.

Angin dari kedua arah yang bersifat lembap itu kemudian berinteraksi dengan udara kering dan dingin di atas wilayah pegunungan di sekitar cekungan Bandung.

"Sehingga terbentuk sel badai tertutup yang memproduksi banyak sekali es di dalam awan," kata Erma.

Faktor kedua adalah proses konveksi atau perambatan panas oleh gerakan udara secara vertikal. Proses itu memaksa udara naik secara cepat dan menghasilkan awan kumulus menara.

Pagi hari itu, awan terpantau banyak menggantung di atas laut selatan Jawa Barat. Namun, pada siang hingga sore, awan sudah banyak berkumpul di atas daratan.

Cuaca ekstrem seperti hujan badai es di wilayah tropis seperti di Bandung, kata Erma, biasanya terjadi di wilayah yang sangat lokal dan singkat sehingga sangat sulit diprediksi.

Untuk mengidentifikasi cuaca ekstrem di suatu tempat, para ahli cuaca menggunakan minimal empat parameter, yaitu kondisi awan, angin, tekanan, dan kelembapan udara, dengan memantaunya dari satelit dan peralatan yang diletakkan di stasiun meteorologi. Umumnya, kata Erma, cuaca ekstrem dapat terjadi jika ada awan kumulus yang tumbuh terus menjadi kumulonimbus.

Ketua Program Studi Meteorologi Institut Teknologi Bandung, Armi Susandi, mengatakan kondisi lingkungan di Kota Bandung menyokong pemanasan kota. Sebaran gedung dan perumahan yang meninggikan tutupan lahan mengakibatkan konduktivitas termal atau sebaran panas perkotaan menjadi semakin kuat.

"Kondisi tersebut menyebabkan Kota Bandung menjadi kian panas, yang dikenal dengan istilah urban heat island," katanya.

Kondisi cekungan Bandung dan fenomena panasnya kota menjadikan wilayah tersebut sering menjadi pusat tekanan rendah. Dampaknya, ujar Armi, aliran massa udara cenderung bergerak berkumpul di wilayah tersebut, yang dinamakan konvergensi.

Kota Bandung, menurut Armi, bukan kali ini saja mengalami bencana hidrometeorologi, seperti angin kencang, banjir, dan hujan es. Kondisi seperti itu perlu diwaspadai juga dengan penggunaan sistem informasi prediksi peringatan dini bahaya hidrometeorologi untuk mengantisipasi banjir, angin kencang, dan hujan lebat.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL