Kompetensi Utama

Layanan


Paracita Atmaloka Sebagai Ajang Penyelamatan Lingkungan
Penulis Berita : Humas/AP • Fotografer : Humas/AP • 28 Apr 2017 • Dibaca : 7432 x ,

Peserta kegiatan Paracita Atmaloka sedang menyimak paparan pembukaan oleh Kepala LAPAN

Dalam rangka memperingati Hari Bumi Sedunia setiap 22 April, Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) menyelenggarakan open house bertajuk “Perayaan Cinta Atmosfer dan Lingkungan”, disingkat Paracita Atmaloka. Perayaan kali ini bertajuk “Apa yang Dapat Kita Lakukan untuk Memelihara Bumi?”. Kegiatan berlangsung Sabtu (28/04) di Kantor LAPAN Bandung, Jawa Barat.

Semarak open house yang dihelat tahun ini menampilkan berbagai macam acara mulai dari lomba desain meme, lomba reportase cuaca, workshop “Perubahan Variasi Monsoon di Indonesia”, Pameran Produk Unggulan LAPAN, Simulasi Fenomena Atmosfer, Bioskop Atmosfer, serta Games untuk pelajar tingkat dasar hingga tingkat atas.

Acara dibuka dengan laporan Kepala PSTA, Halimurrahman. Ia berharap, penyelenggaraaan acara yang telah berlangsung 2 tahun ini, dapat menumbuhkan kecintaan para peserta, yang mayoritas datang dari sekolah tingkat dasar hingga tingkat atas, dalam memelihara lingkungan di sekitar Jawa Barat. Seperti diketahui, perubahan kondisi lingkungan, mulai hujan es, banjir yang terjadi di Pasteur, serta banjir yang terjadi di Garut, mulai dirasakan khususnya masyarakat Jawa Barat.

Sambutan pembukaan disampaikan Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin di hadapan peserta workshop yang datang dari murid serta guru dari sekolah di sekitar LAPAN Bandung. Diawali dengan paparan mengenai Efek Rumah Kaca. 

Ia menjelaskan, bumi termasuk dalam habitable zone yang memiliki atmosfer layak hidup. Walaupun sebelumnya di awal masanya, bumi belum bisa ditempati karena memiliki kandungan karbondioksida yang sangat tinggi. Seiring perkembangannya, hadir tumbuh-tumbuhan yang menyerap karbondioksida. Tetumbuhan tertimbun sekian lama. Sekarang tumbuhan diambil sebagai bahan bakar (batu bara, minyak bumi, dan sebagainya). Kemudian karbon yang tersimpan diambil kembali dan dibakar. Karbondioksida lepas kembali ke atmosfer bumi. Sehingga bumi menjadi makin panas karena terciptanya Efek Rumah Kaca yang disebabkan tingginya intensitas karbondioksida di atmosfer.

Oleh sebab itu, ia menghimbau masyarakat untuk mulai sadar akan pemanasan yang terjadi. Aksi dapat dimulai dari diri sendiri dengan mengurangi penggunaan listrik yang sekarang pembangkitnya lebih banyak dari Pembangkit Listrik Tenaga Bahan Bakar Minyak serta Batu Bara. “Dengan borosnya kita memakai listrik, maka memaksa PLN lebih banyak menggunakan Bahan Bakar Minyak serta Batu Bara,” ujarnya. Lebih lanjut, penggunaan air pun disorotinya karena saat ini lebih banyak dipompa. Itupun menggunakan listrik, walaupun berasal dari PAM, tetap melalui proses yang menghasilkan karbondioksida. Ia juga menghimbau agar penggunaan kendaraan bermotor dikurangi. 

Di akhir paparannya, ia menghimbau agar para penerus bangsa yang hadir untuk menerapkan tiga R yaitu Reuse, Recycle, dan Reduce. Mulai dari reduce (mengurangi) hal-hal yang telah dipaparkan sebelumnya. Ia juga berharap kegiatan tahunan yang diselenggarakan LAPAN ini bisa mendorong kita untuk mencintai serta menghargai lingkungan, dan tentu menyelamatkan umat manusia. Generasi mendatang bergantung pada sikap bijak kita terhadap atmosfer dan lingkungan. 


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL