Kompetensi Utama

Layanan


LAPAN Paparkan Kemajuan Teknologi Keantariksaan kepada Darma Wanita Persatuan LPNK Kemenristekdikti
Penulis Berita : Humas/And • Fotografer : Humas/And • 02 May 2017 • Dibaca : 39362 x ,

DeTeknologi sedang memaparkan kemajuan teknologi LAPAN di hadapan ibu-ibu DWP LPNK di Lingkungan Kemenristekdikti

Selasa (02/05), berlangsung sosialisasi hasil litbang LAPAN di hadapan ibu-ibu Darma Wanita Persatuan (DWP) LPNK di lingkungan Kemenristekdikti. Kegiatan bertemakan “Iptek Penerbangan dan Antariksa Mewujudkan Indonesia Maju dan Mandiri” diselenggarakan di Balai Pertemuan Dirgantara, Kantor LAPAN Pusat, Jakarta. Hadir dalam kegiatan, Ketua DWP, Hasbiyah Nasir.

Deputi Bidang Teknologi Penerbangan dan Antariksa, Dr. Rika Andiarti mengawali paparan dengan menyampaikan telah disahkannya Rencana Induk (Renduk) Penyelenggaraan Keantariksaan melalui Perpres Nomor 45 Tahun 2017. Renduk tersebut sebagai implementasi UU RI Nomor 21 tahun 2013 tentang Keantariksaan. 

Payung hukum tersebut menjadi acuan LAPAN dalam meningkatkan kegiatan riset penerbangan dan antariksa. “Dalam melaksanakan amanah, kami mengembangkan empat kompetensi utama, yaitu sains antariksa dan atmosfer, penginderaan jauh, teknologi penerbangan dan antariksa, serta kajian kebijakan penerbangan dan antariksa,” jelasnya. Untuk itu, ia berharap, agar pemerintah makin banyak memberikan perhatian ke LAPAN, terutama alokasi anggaran yang dibutuhkan dalam meningkatkan hasil litbang LAPAN.

Dalam penjelasannya, banyak sekali capaian riset LAPAN yang sudah bermanfaat untuk mendukung pembangunan nasional. Salah satunya, pengembangan riset bidang satelit, yang dimulai dengan pembangunan satelit berskala 100 kilogram hingga satu ton. Dengan semakin besarnya pembangunan tersebut, maka perlu tambahan fasilitas, salah satunya peralatan pengujian yang perlu dibangun juga. 

Kini, LAPAN telah mengembangkan satelit secara mandiri. Satelit eksperimen sampai generasi ke-3 telah berhasil diluncurkan dan memberikan manfaat. Gambar pencitraan satelit LAPAN-A2 telah membantu Kementerian Pertahanan dalam mengamati wilayah perbatasan. Muatan Sensor APRS berguna sebagai saluran komunikasi di seluruh wilayah di Indonesia. Selain itu, juga terdapat sensor yang berfungsi untuk mengamati pergerakan kapal yang melintasi perairan Indonesia.

Sebagai satelit klas mikro, LAPAN-A3 mampu melakukan pemantauan tutupan lahan, kelautan, serta riset keantariksaan lainnya. Satelit yang kinerjanya bergerak dari Kutub Utara menuju Kutub Selatan ini dapat mendeteksi kapal global. “Data tersebut kami sampaikan ke Kemenko Maritim untuk diambil kebijakan dalam penumpasan ‘kecurangan’ oleh pihak asing di wilayah perairan Indonesia,” imbuhnya. Sedangkan citra multispectral satelit ini digunakan untuk mengamati lahan hutan, sawah, dan permukaan bumi lainnya.

Tahun ini merupakan tahun ke-4 pembangunan pesawat transportasi N219. Pesawat ini untuk memenuhi kebutuhan di daerah terpencil, seperti Papua. Sehingga didesain khusus dapat melakukan landing dan take off di landasan pendek, tidak terlalu mulus, seperti berbatuan dan rerumputan. Hal ini diprediksikan dapat menjawab permasalahan di daerah tersebut.

Lain lagi, hasil litbang LAPAN berupa Pesawat Tanpa Awak yang bisa dikenal LAPAN Surveillance UAV (LSU). Kegunaannya hampir sama yaitu untuk mendukung pemantauan wilayah, seperti lahan persawahan, gunung berapi, pemantauan banjir, dan sebagainya. Terakhir, LAPAN bekerja sama dengan BIG melakukan pemotretan garis pantai di Indonesia. Kegiatan ini dilakukan karena tidak memungkinkan diperoleh melalui satelit. Mengingat, posisi pantai pasang dan surut terjadi pada saat-saat tertentu yang belum tentu tertangkap kamera satelit saat melintas.

LAPAN juga melakukan riset bidang peroketan. Meskipun hasil teknologi roket LAPAN belum sampai pada tahapan pengorbit satelit, namun peningkatan terus diupayakan. Tahapan-tahapan yang dilakukan, saat ini, LAPAN sedang mengkaji daerah yang akan dijadikan bandar antariksa. Kegiatan tersebut untuk mencapai cita-cita kemandirian di bidang satelit. Sehingga, tak sekadar sebagai negara pengguna satelit.

Di bidang penginderaan jauh, LAPAN memiliki beberapa Stasiun Bumi yang dioperasikan untuk menerima data satelit. Kita ketahui, makin banyak pengguna data penginderaan jauh yang harus dilayani LAPAN. Termasuk kebutuhan pemetaan sampai ke tingkat kota bahkan desa. “Tak hanya citra satelit resolusi rendah, menengah, tinggi, bahkan kini membutuhkan resolusi sangat tinggi,” paparnya. “Rencananya, tahun depan, LAPAN bisa membangun stasiun penerima data untuk satelit resolusi sangat tinggi,” tambahnya.

LAPAN juga memiliki sistem pemantauan bumi nasional. Dari aplikasi yang dibangun, bermanfaat untuk memantau kebakaran hutan, terumbu karang, areal persawahan, ZPPI, dan lain-lain. 

Karena letak wilayahnya, Indonesia menjadi pusat penelitian atmosfer ekuatorial. Riset di bidang ini salah satunya berguna untuk memprediksi cuaca antariksa yang bisa digunakan untuk prediksi hujan. Informasi-informasi tersebut diberikan LAPAN kepada pihak yang berwenang dalam mengambil keputusan atau kebijakan terkait kebencanaan (disaster). Di bidang antariksa, LAPAN juga melakukan pemantauan sampah antariksa. Saat ini, LAPAN sedang dalam proses pembangunan observatorium nasional di Kupang.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL