Kompetensi Utama

Layanan


Selain di Maninjau, Benda Antariksa dari Langit Pernah Jatuh di 4 Provinsi Ini…
Penulis : HS/Oneal • Media : halosumbar.com • 19 Jul 2017 • Dibaca : 12248 x ,

HaloSumbar.com– Peristiwa jatuhnya benda antariksa dari langit Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Selasa (18/7) sekitar pukul 09.30 WIB, ternyata bukan pertama kali terjadi di Indonesia.

Sebelum benda yang diketahui sebagai sampah antariksa milik Republik Rakyat Tiongkok itu jatuh, di depan kantor Pos Jorong Kubu, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, sampah-sampah antariksa dari negara lain juga pernah jatuh pada 4 provinsi lainnya di Indonesia.

Ini dibenarkan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Profesor Thomas Djamaludin ketika dihubungi HaloSumbar.com dari Bukittinggi, Sumatera Barat, Selasa malam (18/7).

Putra purnawirawan TNI Angkatan Darat itu mengatakan, jumlah sampah antariksa mencapai belasan ribu. Sampah antariksa yang ketinggianya kurang dari 600 kilometer akan akan jatuh dalam waktu sekitar 50 tahun.

Sementara, Ketinggian 400 kilometer akan jatuh dalam hitungan tahun. Ketinggian 300 kilometer akan jatuh dalam hitungan bulan.

“Jatuhnya bisa di mana saja di permukaan bumi, dengan kemungkinan terbesar jatuh di laut, hutan, atau gurun yang lebih luas daripada daerah berpenduduk,” kata Profesor Thomas Djamaludin yang jebolan Kyoto University dan Institut Teknologi Bandung itu.

Profesor Thomas Djamaludin menjelaskan, setiap sampah antariksa bisa diperkirakan jatuhnya. Tetapi tingkat ketidakpastiannya memang masih besar. Menjelang kejatuhannya, ketidakpastiannya makin kecil.

“Beberapa jam sebelum jatuh, ketidakpastian plus-minus beberapa menit. Tetapi ketidakpastian itu untuk titik jatuhnya berarti beberapa ribu kilometer,” jelas Profesor.

Di Indonesia, dirincikannya, sampah antariksa sudah jatuh pada 5 provinsi. Selain di Sumatera Barat, persisnya di tepian Danau Maninjau, Kabupaten Agam, sampah antariksa pernah jatuh pada 4 provinsi lainnya.

Pertama kali di Indonesia, sampah antariksa jatuh di Provinsi Gorontalo. Peristiwanya terjadi tahun 1981 silam. Waktu itu, sampah antariksa yang jatuh adalah pecahan roket Rusia.

Selang tujuh tahun kemudian atau tahun 1988, bekas roket negara berjuluk “Beruang Merah” itu juga jatuh di Provinsi Lampung.

“Kala itu, bagian roket Rusia yang jatuh di Lampung diketahui sebagai bagian dari roket Soyuz A-2 Space Launcher 4. Roket ini berfungsi sebagai peluncur satelit Cosmos 1938 yang merupakan satelit mata-mata militer,” terangnya.

Sedangkan sampah antariksa ketiga yang pernah jatuh di Indonesia, menurut Profesor Thomas adalah bekas roket Republik Rakyat Tiongkos (RRC).

Bekas roket negara “Tirai Bambu” itu pernah jatuh di kebun karet Desa Bukit Harapan V, Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara, 14 Oktober 2003.

Enam belas tahun kemudian, persisnya 27 September 2016, giliran bekas bagian roket Ameriksa Serikat yang jatuh di Indonesia.

Puing roket Falcon 9 itu jatuh di Desa Lombang, Kecamatan Gili Genting, Kabupaten Sumenep, Madura, Provinsi Jawa Timur.

Berdasarkan penelitian Lapan, puing Falcon 9 yang ditemukan di Madura itu adalah tiga tabung yang diberi nama composite overwrapped pressure vessel, berbobot 80-100 kilogram. Panel kontrolnya berbobot 5 kilogram.

“Tabung yang ditemukan dalam keadaan kosong itu berfungsi untuk menampung helium. Helium itu mengatur tekanan liquid oxygen yang ada dalam roket milik negeri Paman Sam tersebut,” tuturnya lagi.

Terakhir, sampah antariksa jatuh di di depan kantor Pos Jorong Kubu, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Dari penelitian sementara Lapan, benda misterius ini diyakini sebagai bagian tabung bahan bakar roket Longmach/Chang-Zheng 3 milik Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Roket RRT Longmach/Chang-Zheng 3 itu sendiri, menurut Kepala Balai Pengamatan Antariksa dan Atmosfer (BPAA) Lapan Agam, Syafrijon yang dihubungi secara terpisah, digunakan RRT untuk meluncurkan satelit navigasi Beidou M1 pada 13 April 2007.

Syafrijon memastikan, sampah antariksa kepunyaan RRT tersebut, masuk atmosfer Sumatera Barat sekira pukul 09.09 WIB.

“Asal ukurannya besar. Saat masuk atmosfer pecah. Sebagian mungkin jatuh di laut atau hutan,” tukasnya.

Sumber : http://www.halosumbar.com/2017/07/19/benda-antariksa-pernah-jatuh-di-4-provinsi-ini/








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL