Kompetensi Utama

Layanan


Momentum 2019 Harus Dimanfaatkan untuk Membenahi Dirgantara Nasional
Penulis : Teuku Wildan A/ Andy Abdul Hamid • Media : aktual.com • 25 Oct 2017 • Dibaca : 9276 x ,

Jakarta, Aktual.com – Dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) Chusnul Mar’iyah menyatakan, stakeholder kedirgantaraan dan keantariksaan di tanah air harus memanfaatkan momentum tahun politik dua tahun mendatang, untuk membenahi lintas udara Indonesia.

Chusnul beranggapan, sudah saatnya pemerintah berorientasi pada udara untuk menyatukan nusantara. “Pemilu 2014 dulu itu simbol ikonnya adalah poros maritim, mulai sekarang sampai 2019 berbicara ‘Dirgantara, Now and Then’, kan keren toh?” ujar Chusnul kepada wartawan dalam seminar gelaran Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang bertajuk ‘Kebijakan dan Regulasi Kegiatan Penerbangan dan Antariksa Menuju Kemandirian Nasional’ di kawasan Taman Mini Indonesia Indonesia (TMII), Jakarta Timur, Rabu (25/10).

Menurutnya, hal ini bukan tanpa dasar sama sekali. Pasalnya, kawasan udara Indonesia merupakan kawasan yang belum tersentuh dengan maksimal. Terlebih dengan luas negara yang terbilang luas, sambung Chusnul, kawasan udara RI seharusnya menjadi potensi yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk kepentingan nasional.

Sayangnya, Indonesia belum menguasai teknologi di bidang keantariksaan sehingga hal-hal yang strategis yang dapat tercipta karenanya pun menjadi luput. Ia pun berpesan kepada LAPAN agar memanfaatkan momentum 2019 untuk sedikit ‘menjual’ kedirgantaraan dan keantariksaan Indonesia agar hal tersebut nantinya dapat menjadi program strategis nasional.

“Itu menurut saya harus jadi ikon LAPAN dan harus diberikan kepada politisi, jadi siapapun presidennya nanti, beli itu mimpi-mimpi yang luar biasa,” jelasnya.

Lebih lanjut, Chusnul menyatakan bahwa kemandirian dalam keantariksaan bukanlah mimpi belaka bagi Indonesia. Terlebih, sektor ini sudah ditentukan dalam Undang-undang No 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan dan Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan Tahun 2016-2040.

Ia menambahkan, dengan penguasaan teknologi, nantinya Indonesia dapat mandiri dalam sektor antariksa sehingga dapat bermanfaat langsung untuk rakyat. Sebagai contoh, ia menyebut jika nelayan serta petani di Indonesia akan sangat terbantu jika Indonesia memiliki satelit tersendiri yang dapat mengamati cuaca dan tempat berkumpulnya ikan di perairan.

Di tempat yang sama, mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal (Purn) Cheppy Hakim memprediksi bahwa udara merupakan masa depan manusia di bumi. Oleh karenanya, ia menyatakan bahwa belum terlambat bagi pemerintah Indonesia untuk berpaling pada udara.

“Orang cari di daratan, cari di lautan, lama-lama habis (areanya). Daratan sama lautan selesai, kalau kita bicara udara itu adalah barang baru karena tidak ada yang tahu batasannya, artinya ini masa depan,” jelasnya.

“Negara yang selama perang dingin berseteru, Amerika Serikat dan Rusia pun sekarang bekerja sama untuk mencari lahan baru di antariksa,” tandasnya.



Sumber : http://www.aktual.com/momentum-2019-harus-dimanfaatkan-untuk-membenahi-dirgantara-nasional/








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL