Kompetensi Utama

Layanan


LAPAN Bahas Kebijakan dan Regulasi untuk Menguasai Antariksa
Penulis Berita : Humas/And • Fotografer : Humas/And • 26 Oct 2017 • Dibaca : 85270 x ,

Suasana pemaparan keynote speech dalam Seminar Nasional Kebijakan dan Regulasi Penerbangan dan Antariksa di Hotel Santika, Jakarta, Rabu (25/10)

LAPAN menyelenggarakan seminar nasional bertemakan “Kebijakan dan Regulasi Kegiatan Penerbangan dan Antariksa Menuju Kemandirian Nasional”. Acara ini berlangsung di Hotel Santika Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (25/10). Kegiatan tersebut untuk memasyarakatkan hasil riset LAPAN serta menampung masukan dalam mendukung kebijakan dan regulasi kegiatan penerbangan dan antariksa.

Sebagai pembicara kunci, hadir Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, Pakar Penerbangan, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, Guru Besar FH Universitas Atma Jaya Jakarta, Prof. Dr. I.B.R. Supancana, Wakil Dekan – Riset dan Inovasi FEB UNDIP, Firmansyah, serta Chusnul Mar’iyah (FISIP UI) yang dikenal sebagai sosok aktivis pejuang hak perempuan. 

Kepala LAPAN menyampaikan, LAPAN mempunyai lima tema kegiatan yang diwujudkan dalam perencanaan jangka panjang. Tema kegiatan tersebut adalah sains, penginderaan jauh, penguasaan teknologi, peluncuran, dan komersialisasi.

Hal tersebut akan diwujudkan sesuai dengan amanat Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan yang mengatur tugas dan fungsi LAPAN. Kemudian dijabarkan dalam Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksan Tahun 2016—2040.

Menurutnya, amanat tersebut diwadahi LAPAN dalam struktur organisasi agar bisa dilaksanakan dengan baik. Untuk itu LAPAN punya mimpi besar yang akan diwujudkan, yaitu bandar antariksa, observatorium nasional (obnas), Bank Data Penginderaan Jauh Nasional (BDPJN) dan Sistem Pemantau Bumi Nasional (SPBN), serta pengembangan teknologi. 

LAPAN bekerja sama dengan ITB dan pihak pemerintah daerah terkait akan membangun obnas di Kupang, NTT. Di lokasi tersebut akan berdiri fasilitas riset sains antariksa terbesar di Asia Tenggara, dengan fasilitas teleskop berdiameter 3,8 meter. 

“Untuk mewujudkan bandar antariksa secara mandiri, target tahun ini sudah ditetapkan lokasi, sehingga tahun depan dilakukan visibilitas studi,” ungkap Thomas. Tantangan besar bagi LAPAN saat ini adalah penguasaan teknologi roket dan mewujudkan bandar antariksa. Rencananya, Indonesia dapat meluncurkan satelit sendiri dengan Roket Pengorbit Satelit (RPS) secara mandiri. Adapun LAPAN sedang mengkaji dua lokasi sebagai bandar antariksa, yaitu Biak dan Morotai. 

Sementara, Chappy Hakim mengungkapkan berbagai permasalahan yang terjadi di dunia penerbangan. “Jika kita membahas tentang permasalahan di dunia penerbangan, maka juga akan terkait dengan udara dan antariksa,” jelasnya. Ia berpendapat, untuk dapat mencapai penyelesaian yang komplit dan komprehensif, diperlukan kerja sama yang baik secara nasional dengan melakukan koordinasi lintas sektor dan institusi.

Supancana menyampaikan, Indonesia harus maju dalam menguasai antariksa. “Untuk melakukan peluncuran wahana antariksa, program-programnya sangat perspektif bagi Indonesia yang maju dan mandiri,” ujarnya. Maka, kebijakan harus dikembangkan dalam bentuk regulasi. Satu hal lagi, komersialisasi sudah menjadi suatu kegiatan. Maka di dalam menyusun regulasi, hal tersebut juga menjadi salah satu pertimbangan.

Teknologi roket memang tidak mudah dikembangkan. Hal ini menjadi kunci pembahasan pertemuan kali ini. Yang menjadi titik paling penting adalah wahana dan peluncuran. Sehingga dalam mempersiapkan pengembangannya perlu dikaji mulai dari aspek politik, ekonomi, hukum, dan sektor pendukung lainnya.

“Jika semua kajian tersebut tidak punya political will, maka LAPAN tidak mempunyai dana yang cukup. Sehingga swasta yang akan menguasai. Kemudian kesejahteraan rakyat akan sangat jauh, maka kedaulatan dan keamanan negara terancam!” tegas Chusnul dalam paparannya.

Maka, ia menyarankan, untuk mencapai mimpi-mimpi besar LAPAN, harus dibuat kisi-kisi program yang sangat penting untuk dicapai dengan alasan kepentingan nasional. Hal tersebut sangat penting dari segi politis untuk menyentuh kebijakan pemerintah. 

Sedangkan Firmansyah memandang, untuk mempertahankan kedaulatan, dilihat juga dari sejauh mana bangsa ini mempertahankan lingkungan. Bahkan, menurutnya, ada peluang bisnis sebagai dampak dari hasil pengembangan dan penguasaan teknologi keantariksaan.

Kepala Pusat Kajian dan Kebijakan Penerbangan dan Antariksa (KKPA), Agus Hidayat menyampaikan, seminar ini memaparkan berbagai makalah dan tampilan poster terkait beberapa bidang. Antara lain pengembangan peroketan, penyelenggaraan satelit di Indonesia dan kegiatan antariksa lainnya di sektor ekonomi, serta peran RI di forum Internasional. Seluruh paparan akan dijadikan masukan dan saran bagi LAPAN dalam menentukan kebijakan pengembangan teknologi penerbangan dan antariksa secara nasional. 


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL