Kompetensi Utama

Layanan


LAPAN Bahas Kebijakan dan Regulasi Menguasai Antariksa
Penulis : Vito Adhityahadi • Media : netralnews.com • 29 Oct 2017 • Dibaca : 12244 x ,

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ( LAPAN) saat ini adalah penguasaan teknologi roket dan mewujudkan bandar antariksa.

Rencananya, Indonesia dapat meluncurkan satelit sendiri dengan Roket Pengorbit Satelit (RPS) secara mandiri. Adapun LAPAN sedang mengkaji dua lokasi sebagai bandar antariksa, yaitu Biak dan Morotai. Untuk itu, LAPAN menyelenggarakan seminar nasional bertemakan “Kebijakan dan Regulasi Kegiatan Penerbangan dan Antariksa Menuju Kemandirian Nasional” beberapa waktu lalu.

Mengutip laman resmi LAPAN, Minggu (29/10/2017) dalam gelaran acara tersebut Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menyampaikan, LAPAN mempunyai lima tema kegiatan yang diwujudkan dalam perencanaan jangka panjang, adalah sains, penginderaan jauh, penguasaan teknologi, peluncuran, dan komersialisasi.

Hal tersebut akan diwujudkan sesuai dengan amanat Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan yang mengatur tugas dan fungsi LAPAN. Kemudian dalam Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksan Tahun 2016—2040.

Sebagai pembicara kunci, hadir Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, Pakar Penerbangan, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, Guru Besar FH Universitas Atma Jaya Jakarta, Prof. Dr. I.B.R. Supancana, Wakil Dekan – Riset dan Inovasi FEB UNDIP, Firmansyah, serta Chusnul Mar’iyah (FISIP UI) yang dikenal sebagai sosok aktivis pejuang hak perempuan.

Menurut Thomas, amanat tersebut diwadahi LAPAN dalam struktur organisasi agar bisa dilaksanakan dengan baik. Untuk itu LAPAN punya mimpi besar yang akan diwujudkan, yaitu bandar antariksa, observatorium nasional (obnas), Bank Data Penginderaan Jauh Nasional (BDPJN) dan Sistem Pemantau Bumi Nasional (SPBN), serta pengembangan teknologi.

LAPAN bekerja sama dengan ITB dan pihak pemerintah daerah terkait akan membangun obnas di Kupang, NTT. Di lokasi tersebut akan berdiri fasilitas riset sains antariksa terbesar di Asia Tenggara, dengan fasilitas teleskop berdiameter 3,8 meter.

“Untuk mewujudkan bandar antariksa secara mandiri, target tahun ini sudah ditetapkan lokasi, sehingga tahun depan dilakukan visibilitas studi,” ungkap Thomas.

Chappy Hakim mengungkapkan berbagai permasalahan yang terjadi di dunia penerbangan. “Jika kita membahas tentang permasalahan di dunia penerbangan, maka juga akan terkait dengan udara dan antariksa,” jelasnya.

Ia berpendapat, untuk dapat mencapai penyelesaian yang komplit dan komprehensif, diperlukan kerja sama yang baik secara nasional dengan melakukan koordinasi lintas sektor dan institusi.

Supancana menyampaikan, Indonesia harus maju dalam menguasai antariksa. “Untuk melakukan peluncuran wahana antariksa, program-programnya sangat perspektif bagi Indonesia yang maju dan mandiri,” ujarnya.

Maka, kebijakan harus dikembangkan dalam bentuk regulasi. Satu hal lagi, komersialisasi sudah menjadi suatu kegiatan. Maka di dalam menyusun regulasi, hal tersebut juga menjadi salah satu pertimbangan.


Sumber : http://www.netralnews.com/news/sains/read/110798/lapan.bahas.kebijakan.dan.regulasi.mengu








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL