Kompetensi Utama

Layanan


Pesawat N219 angkat semangat dan ekosistem penerbangan nasional
Penulis : Ivan JDD • Media : beritagar.id • 10 Nov 2017 • Dibaca : 3515 x ,

Tiga bulan setelah uji coba terbang perdana, pesawat N219 akan mengudara secara resmi untuk kedua kali. Mengutip siaran pers LAPAN, Kamis (9/11/2017), penerbangan kedua N219 juga untuk merayakan Hari Pahlawan hari ini (10/11).

Kebetulan pesawat ini adalah karya anak bangsa. Uji terbang bakal dilakukan di Landasan Udara Angkatan Udara (AU) Halim Perdanakusuma, Jakarta. Secara keseluruhan, pesawat ini sudah tujuh kali melakukan uji terbang --rutenya Bandung-Jakarta.

Pesawat tersebut diterbangkan oleh Kapten Esther Gayatri Saleh --Chief Test Pilot PT DI sebagai Pilot In Command (PIC), Kapten Adi Budi Atmoko sebagai First Officer (FO), beserta Ir. Yustinus Kus Wardana dan Adriwiyanto Onward Kaunang sebagai Flight Test Engineer(FTE).

Sebelum uji terbang, di Halim pula, Presiden Joko "Jokowi" Widodo akan menyematkan nama kepada pesawat nasional N219 ini. "Hari Jumat jam 09.00 pagi. Pemberian nama oleh Presiden RI dilakukan di Halim," kata Direktur Produksi PT DI, Arie Wibowo, dalam Merdeka.

N219 akan berada di Lanud Halim hingga Sabtu (11/10) atau sebelum diterbangkan kembali ke Bandung. Menurut Chief Engineering N219, Palmana Banandhi, pesawat harus terbang tidak lebih dari jam 09.30 WIB lantaran cuaca cepat sekali berubah.

N219 merupakan pesawat terbang turboprop (baling-baling) bermesin ganda dan berkapasitas 19 penumpang. Pesawat ini merupakan hasil program pengembangan pesawat transport nasional yang dibangun Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

Program pengembangan N219 merupakan langkah nyata kembali kembali peran LAPAN dalam dunia penerbangan. Maklum, hampir 40 tahun lamanya, setelah menyelesaikan program XT-400 (pesawat I LAPAN), LAPAN tidak terdengar dalam dunia penerbangan.

Program ini sekaligus sebagai bukti pelaksanaan UU Nomor 1 Tahun 2009 dan Perpres 28 tahun 2008 terkait pengembangan produk penerbangan perintis yang mengamanahkan LAPAN sebagai pembinanya.

N219 mempunyai enam aspek penting dalam rangka pengembangan industri penerbangan nasional. Keenam aspek tersebut adalah:

Pesawat yang dibangun atas kebutuhan riil terkait dengan penerbangan perintis (design by demand)
Wahana bagi pengembangan generasi baru engineers penerbangan
Pesawat dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi
Pesawat yang dibangun 100 persen oleh engineers dalam negeri/tanpa bantuan asistensi dan teknisi asing
Program pesawat ini mampu mendorong tumbuhnya UKM dirgantara yang menyuplai kebutuhan produksi (misalnya INACOM) maupun dari sisi engineering (IAEC)
Pesawat yang relatif unggul di kelasnya.
Pengembangan N219 dimulai awal 2006 hingga 2008. Programnya secara besar-besaran digaungkan sejak 2014 hingga saat ini.

Program ini menghidupkan lagi semangat insan penerbangan nasional, serta menggairahkan kembali simpul dan ekosistem penerbangan nasional yang pernah ada.

Mereka antara lain Pustekbang-LAPAN, BPPT, DKUPPU, LAGG, LUK, Balitbang Dephub, UKM Dirgantara yang tergabung dalam Indonesia Aircraft Component Manufacture (INACOM), UKM Dirgantara yang tergabung dalam Indonesia Aeronautical Engineering Center, dan ITB.

Dalam praktiknya, pesawat ini diharapkan menjadi penyambung tol laut yang berorientasi pada pengangkutan logistik dan penumpang di daerah pedalaman. Maksudnya untuk mengurangi biaya yang mengakibatkan harga komoditas tinggi di daerah pedalaman.

Pesawat ini akan menjadi tulang punggung penerbangan perintis, khususnya di daerah pegunungan di Indonesia. Manfaatnya sekaligus menjadi feeder (pengumpan) bagi penerbangan lokal dan regional sehingga sistem rute nasional menjadi lebih efektif.

N219 menjadi simbol kebangkitan kedua bagi dunia industri dan pengembangan pesawat terbang nasional setelah N250 pada 1997. Pesawat terbaru akan diproduksi massal oleh PT DI setelah mendapatkan sertifikasi pada 2018.

Setelah itu, PT DI punya peluang untuk membuat varian lain seperti N219 Amphibi, N245, dan N270 sesuai peta jalan (road map) pengembangan penerbangan nasional yang tersirat pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Soal bocoran rencana nama untuk N219 dari Jokowi, Arie enggan memberitahunya kepada awak media. Meski sudah tahu, Arie tak mau mendahului orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Sebelumnya, Indonesia pernah memiliki pesawat dengan nama-nama unik. Pada 1962, Indonesia pernah membuat pesawat bernama Gelatik. Kemudian pada 1983, purwarupa pesawat CN-235 dinamai langsung oleh Soeharto --Presiden RI kala itu.

Tak berhenti di situ, orang Indonesia kembali melahirkan pesawat baru yang kala itu dipelopori oleh tokoh riset dan teknologi BJ Habibie, N250 dan diberi nama Gatot Kaca.

Menjadi menarik untuk menduga nama apa yang akan disematkan Jokowi ke N219. Apakah nama burung atau pewayangan?

Nama baru

Jokowi akhirnya menjatuhkan pilihan pada nama Nurtanio untuk pesawat N219. Artinya Jokowi tidak memilih nama dari burung atau dunia wayang.

Namun ini bukan sembarang nama karena Jokowi memilihnya sebagai penghargaan kepada Laksamana Muda (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo. Nurtanio juga pernah menjadi nama bandara di Bandung dan menjadi nama lama PT DI.

Maklum, selain aktif sebagai perwira TNI AU, Nurtanio juga merupakan salah seorang perintis industri pesawat terbang di Indonesia. Beliau membuat pesawat pertama Indonesia berjenis anti-gerilya, Sikumbang, pada 1954.

Nurtanio wafat pada 21 Maret 1966 saat berumur 42 tahun. Nurtanio gugur dalam penerbangan uji coba pesawat Arev (Api Revolusi) yang dibuatnya dari bahan rongsokan pesawat Super Aero buatan Cekoslowakia.

"Laksamana Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo adalah pahlawan bangsa yang berjuang tanpa pamrih. Seluruh hidupnya didarmabaktikan untuk kedirgantaraan Indonesia," pungkas Jokowi.



Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/pesawat-n219-angkat-semangat-dan-ekosistem-penerbangan-nasional








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL