Kompetensi Utama

Layanan


Presiden Jokowi Sematkan Nurtanio pada Pesawat Karya LAPAN-PTDI
10 Nov 2017 • Dibaca : 454 x ,

Nurtanio, menjadi pilihan nama yang disematkan Presiden RI Joko Widodo untuk pesawat transport nasional N219, karya LAPAN-PTDI. Nama tersebut diberikan secara resmi saat tinjauan di Lanud Halim Perdanakusuma pada Jumat, 10 November 2017.

Nurtanio diambil dari nama perintis industri pesawat terbang Indonesia, Laksamana Muda (Anumera) Nurtanio Pringgoadisuryo. Ia adalah sosok pembuat pesawat pertama all metal dan fighter Indonesia bernama Sikumbang. Menyusul kemudian karyanya Kunang-kunang (mesin VW) dan Belalang, serta Gelatik sampai dengan mempersiapkan produksi F-27.

Nurtanio bermesin 2 dan berpenumpang 19, sebagai hasil dari program pengembangan pesawat yang dibangun LAPAN bekerja sama dengan PTDI. Jenis N219 merupakan ikon baru dalam pengembangan mandiri pesawat terbang nasional. Sebab, pesawat ini menjadi tanda kebangkitan kembali industri dirgantara nasional pasca N250.

Programnya merupakan pengejawantahan kembali peran LAPAN dalam dunia penerbangan. Sebab, hampir 40 tahun lamanya, setelah program XT-400 (pesawat I LAPAN), LAPAN tidak terdengar dalam dunia penerbangan. Program ini sekaligus sebagai bukti pelaksanaan UU Nomor 1 Tahun 2009 dan Perpres 28 tahun 2008 terkait pengembangan produk penerbangan perintis yang mengamanahkan LAPAN sebagai pembinanya.

N219 mempunyai enam aspek penting dalam rangka pengembangan industri penerbangan nasional. Aspek tersebut adalah (1) pesawat yang dibangun atas kebutuhan riil terkait dengan penerbangan perintis (design by demand), (2) wahana bagi pengembangan generasi baru engineer penerbangan, (3) pesawat dengan TKDN yang tinggi, (4) pesawat yang dibangun 100% oleh engineer dalam negeri/tanpa bantuan asistensi dan teknisi asing, (5) program pesawat ini mampu mendorong tumbuhnya UKM dirgantara yang menyuplai kebutuhan produksi (misalnya INACOM) maupun dari sisi engineering (IAEC), (6) pesawat yang relatif unggul di kelasnya.

Pengembangannya dimulai awal 2006 hingga 2008 dengan program yang secara besar-besaran digaungkan sejak 2014 hingga saat ini.

Program ini mampu menghidupkan kembali semangat insan penerbangan nasional, serta menggairahkan kembali simpul-simpul dan ekosistem penerbangan nasional yang pernah ada. Mereka antara lain Pustekbang-LAPAN, BPPT, DKUPPU, LAGG, LUK, Balitbang Dephub, UKM Dirgantara yang tergabung dalam Indonesia Aircraft Component Manufacture (INACOM), UKM Dirgantara yang tergabung dalam Indonesia Aeronautical Engineering Center, ITB, dan komponen lainnya.

Dalam aplikasinya, pesawat ini diharapkan menjadi penyambung tol laut yang berorientasi pada pengangkutan logistik dan penumpang bagi daerah pedalaman. Hal tersebut untuk mengurangi biaya yang mengakibatkan harga komoditas yang tinggi di daerah pedalaman.

Nurtanio akan menjadi tulang punggung penerbangan perintis, khususnya di daerah pegunungan di Indonesia. Manfaatnya sekaligus menjadi feeder (pengisi) bagi penerbangan lokal dan regional, sehingga sistem rute menjadi lebih efektif secara nasional.

Pesawat transport ini menjadi simbol kebangkitan kedua bagi dunia industri dan pengembangan pesawat terbang nasional. Pesawat ini akan diproduksi massal oleh PTDI setelah mendapatkan Sertifikasi pada tahun 2018. Selanjutnya, akan berpeluang bagi program berikutnya, seperti N219 Amphibi dan variannya, N245, serta N270, sebagaimana road map pengembangan penerbangan nasional yang tersirat di RPJMN.

Semoga Nurtanio membawa kemajuan bangsa, menginspirasi generasi muda, berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi rakyat Indonesia khususnya daerah pedalaman, serta mempersatukan nusantara.


Jakarta, 10 November 2017








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL