Kompetensi Utama

Layanan


Lebih Dekat Matahari, Mengapa Suhu di Atas Gunung Lebih Dingin?
Penulis : Jofie Yordan • Media : Kumparan.com • 02 Feb 2018 • Dibaca : 3942 x ,

Apakah kamu pernah bertanya-tanya mengapa suhu di puncak gunung lebih rendah daripada di kaki gunung? Mengapa suhu di gunung lebih dingin daripada di pantai?
 
Padahal kan gunung lebih dekat dengan Matahari, dan pantai lebih jauh dari Matahari. Bukankah semakin dekat dengan Matahari, suhu suatu tempat akan semakin tinggi alias panas?

Jika kamu pernah bertanya-tanya soal hal ini, kamu tidak seorang diri. Pertanyaan serupa seperti ini pasti juga pernah muncul di kepala sebagian orang yang sedang bepergian dengan pesawat.
 
Di dalam pesawat, sejumlah orang yang melihat layar yang menampilkan suhu udara di mana pesawat sedang berada pasti pernah bertanya-tanya, kenapa semakin tinggi pesawat berada suhu udara di sekitarnya justru semakin rendah? Bukankah semakin terbang tinggi pesawat ini semakin dekat dengan Matahari?

Mengenai fenomena ini, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, memiliki jawabannya. Pria lulusan S1 Astronomi ITB serta S2 dan S3 Astronomi Kyoto University itu mengatakan penyebabnya adalah sama dengan penyebab mengapa permukaan Bumi tetap hangat meskipun saat malam hari. 

Thomas mengatakan, saat siang hari Matahari memanasi permukaan Bumi. Permukaan Bumi yang menjadi panas ini kemudian memantulkan atau memancarkan kembali gelombang inframerah, atau yang disebut juga sebagai gelombang panas, dari Matahari.
Gelombang panas ini itu akan dilepas begitu saja ke antariksa kalau di atmosfer Bumi tidak ada zat-zat perangkap panas seperti karbon dioksida dan uap air.

“Tapi karena adanya karbon dioksida dan uap air, maka panas itu ditahan. Panas itu ditangkap oleh karbon dioksida dan uap air,” papar Thomas ketika ditemui kumparanSAINS beberapa waktu lalu.
Peristiwa inilah yang disebut sebagai efek rumah kaca.

Thomas mengatakan, dengan semakin banyaknya karbon dioksida yang dilepaskan oleh industri, kendaraan bermotor, dan aktivitas rumah tangga, semakin makin lama Bumi ini semakin panas.

Efek rumah kaca ini terjadi di lapisan troposfer, lapisan atmosfer yang paling dekat dengan permukaan Bumi, tempat sehari-hari kita beraktivitas.

Setiap kenaikan ketinggian pancaran gelombang inframerah atau gelombang panas dari permukaan Bumi ini semakin berkurang sehingga suhu udara pun semakin rendah alias semakin dingin. “Dan kandungan karbon dioksidanya pun semakin berkurang,” imbuh Thomas.

Menurut Teori Braak, setiap kenaikan 100 meter, suhu udara akan berkurang 0,61 derajat Celsius. Thomas menjelaskan, penurunan suhu ini akan terus berlanjut hingga mencapai ketinggian sekitar 17 kilometer.

Setelah mencapai ketinggian 17 kilometer, ada mekanisme lain terkait perubahan suhu udara. “Mekanisme penyerapan ultraviolet oleh ozon,” ujar Thomas.

Thomas menuturkan, “Nanti makin ke atas setelah 17 kilometer, itu suhunya makin lama makin tinggi lagi.”
Penyebabnya, pada ketinggian setelah sekitar 17 kilometer di atmosfer Bumi, ada mekanisme penyerapan radiasi ultraviolet oleh lapisan ozon. 

Setelah lapisan ozon ini, akan ada pula mekanisme-mekanisme perubahan suhu yang berbeda lainnya pada lapisan-lapisan lain di atmosfer Bumi ini

Sumber : https://kumparan.com/@kumparansains/lapan-ajak-masyarakat-indonesia-saksikan-gerhana-bulan-langka#ts6fEhJisprgdwFh.99









Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL