Kompetensi Utama

Layanan


Pemantauan Stasiun Ruang Angkasa Cina yang Diprediksi Akan Jatuh
Penulis Berita : Pusat Sains Antariksa LAPAN • Fotografer : CAS/Pussainsa • 12 Mar 2018 • Dibaca : 2875 x ,

Ilustrasi Stasiun Ruang Angkasa Cina, Tiangong-1 (sumber: CAS)

LAPAN memiliki hasil litbang sebuah sistem untuk memantau bendah jatuh antariksa secara real-time . Laman situs orbit.sains.lapan.go.id ini mampu memuat berbagai macam informasi daftar benda beserta identitas, karakteristik, dan tanggal prediksi jatuhnya. Lintasan masing-masing benda secara global maupun lokal Indonesia bisa dilihat pada situs ini. Selain itu, parameter orbit benda juga diinformasikan.  LAPAN juga telah berhasil mengembangkan aplikasi Track-It berbasis Android. Hal ini akan mempermudah akses bagi pengguna informasi terkait layanan informasi potensi benda jatuh antariksa buatan di wilayah Indonesia melalui ponsel pintar berbasis Android. Layanan ini dapat diunduh gratis pada laman : http://orbit.sains.lapan.go.id/index.php/apps

Pada tanggal 4 Mei 2017, Cina menyampaikan kepada Komite PBB untuk penggunaan aktivitas antariksa secara damai (United Nations Committee on the Peaceful Uses of Outer Space – UNCOPUOS) mengenai Laboratorium antariksa mereka bernama Tiangong-1 yang akan mengalami re-entry (masuk kembali ke atmosfer Bumi). Tiangong-1 dilaporkan oleh otoritas antariksa Cina telah mengalami kerusakan dan tidak dapat dikontrol lagi sejak 16 Maret 2016. Tiangong-1 yang juga merupakan stasiun luar angkasa pertama milik Cina, dalam masa operasionalnya telah memberikan kontribusi penelitian antariksa bagi Cina sejak pertama kali diluncurkan pada 30 September 2011 dari Jiuquan Satellite Launch Center, Cina. Tiangong-1. Deskripsi dari satelit Tiangong-1 dapat dilihat pada tabel berikut:

Type : Payload
Kode Internasional : 2011-053A
No. Katalog NORAD : 37820
Waktu Peluncuran : 2011 September 30 @ 03:16:03.507 UTC
Tempat Peluncuran : Jiuquan Satellite Launch Center, China
Misi : Tiangong-1, Stasiun Luar Angkasa Pertama Cina
Massa : 8500 kg saat diluncurkan
Panjang : 10.5 m
Diameter : 3.4 m
Panel Surya : 2 panels (7 m x 3 m)


Tiangong-1 memiliki inklinasi orbit 43derajat sehingga seluruh daerah di Bumi mulai dari 43derajat LU hingga 43derajat LS memiliki peluang untuk kejatuhan satelit ini seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Satelit dikatakan mengalami re-entry jika telah melewati ketinggian dibawah 120 km. Dari ukuran dan massa Tiangong-1, diperkirakan akan ada bagian dari satelit tersebut yang akan tersisa hingga ke permukaan Bumi saat satelit tersebut terbakar memasuki lapisan atmosfer. Bagian yang kemungkinan besar tersisa adalah tangki bahan bakar sehingga sangat berbahaya jika disentuh langsung. Tangki bahan bakar tersebut kemungkinan masih mengandung Hidrazine yang merupakan bahan beracun dan bersifat korosif.


Gambar 2. Peta lintasan orbit Tiangong-1 (37820) selama 1 hari saat beredar mengelilingi Bumi yang ditunjukkan oleh garis berwarna putih.

Tiangong-1 dalam masa operasionalnya telah mengalami setidaknya 14 kali penyesuaian ketinggian dengan menaikkan kembali ketinggian menggunakan mesin roketnya. Penyesuaian ketinggian terakhir dilakukan pada 16 Desember 2015. Gambar 3 menunjukkan profil ketinggian Tiangong-1 sejak diluncurkan hingga tanggal 9 Maret 2018 menggunakan data elemen orbit Tiangong-1 milik NORAD Amerika Serikat (www.space-track.org). Peristiwa akan jatuhnya Tiangong-1 ini sangat penting untuk dilakukan monitoring mengingat ukurannya yang cukup besar. Selain itu, faktor terpenting lainnya adalah satelit ini sudah tidak dapat dikontrol lagi dan letak Indonesia yang memanjang di ekuator akan memberikan peluang sangat besar untuk kejatuhan satelit tersebut.

 Profil ketinggian satelit Tiangong-1 (37820) menggunakan data elemen orbit tanggal 9 Maret 2018. Titik-titik merah merupakan prediksi perubahan ketinggian terhadap waktu hingga re-entry di ketinggian 100 km


Berdasarkan data elemen orbit per tanggal 9 Maret 2018, diperkirakan bahwa Tiangong-1 akan mengalami re-entry sekitar tanggal 10 April 2018 ± 1 bulan. Prediksi ini akan masih dapat berubah berdasarkan aktivitas matahari dan geomagnet yang akan mempengaruhi kondisi kerapatan atmosfer yang dilalui satelit tersebut. Mengingat aktivitas matahari dan geomagnet sangat rendah, diperkirakan proses re-entry tersebut akan terjadi lebih lama daripada waktu yang telah diperkirakan sebelumnya. Untuk mengetahui aktivitas matahari dan geomagnet dapat dilihat pada tautan Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS). Proses re-entry Tiangong-1 ini nantinya akan dapat diikuti dari situs resmi Pemantauan Realtime Benda Jatuh Antariksa Buatan milik LAPAN di alamat http://orbit.sains.lapan.go.id serta twitter @OrbsatLAPAN .



Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2018 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL