Kompetensi Utama

Layanan


Biasa Terjadi 2 Kali Dalam Setahun, Ini Penjelasan Tentang Fenomena Hari Tanpa Bayangan dari Pusat Sains Antariksa LAPAN
Penulis : Reynette Fausto • Media : femina.co.id • 21 Mar 2018 • Dibaca : 9637 x ,

Siang ini Rabu, (21/3), tepat pukul 11:50 WIB, Indonesia mengalami fenomena alam berupa hilangnya bayangan akibat posisi matahari mencapai titik puncak/kulminasi dan berada di garis khatulistiwa. Selain hari ini, Indonesia akan kehilangan bayangan pada tanggal 23 September mendatang.

Peristiwa ini terjadi karena bumi beredar mengitari matahari pada jarak 150 juta kilometer dengan periode sekitar 365 hari. Garis edar bumi berbentuk agak lonjong sehingga bumi kadang bergerak lebih cepat dan kadang bergerak lebih lambat. Bidang edar bumi disebut sebagai bidang ekliptika. Bidang ini miring sebesar 23,4 derajat terhadap bidang equator bumi. Karenanya, matahari tampak berada di atas belahan bumi utara selama sekitar setengah tahun dan berada di atas belahan bumi selatan setengah tahun sisanya.

Peristiwa ini biasa terjadi dua kali dalam setahun. Dan tidak seluruh wilayah di Indonesia yang terdampak. Berdasarkan informasi Lembaga Penerabangan dan Antariksa (LAPAN) di akun Facebook resmi LAPANRI, disebutkan bahwa hanya wilayah yang dilintasi matahari tepat di garis khatulistiwa saja, seperti kota Bonjol (Sumatera Barat), Bontang (Kalimantan Timur), Riau, Parigi Moutong (Sulawesi Tengah), Kepulauan Kayoa (Halmahera Selatan), Amberi (Sulawesi Tenggara), hingga Gebe (Halmahera Tengah) akan mengalami peristiwa ini di hari ini.

Sedangkan di dunia, negara lain yang berada di lintas khatulistiwa di antaranya Maladewa, Brazil, Kolombia, Ekuador, dan beberapa negara di benua Afrika.

Perubahan posisi tampak matahari menyebabkan perubahan musim di bumi, misalnya empat musim di daerah subtropis dan juga musim kering-basah di wilayah Indonesia.

Selain itu hal lain yang terdampak adalah sinyal. Pengguna transportasi online akan mengalami kesulitan menentukan titik posisi lewat sinyal GPS yang terganggu akibat peristiwa ini. Selama 5-10 menit terjadi hilang sinyal. Begitu pula dengan perangkat yang terhubung lewat satelit, seperti siaran televisi kabel dari parabola.

Menurut pemaparan Rhorom Priyatikanto dari Pusat Sains Antariksa LAPAN dalam hasil presentasinya di lapan.go.id, kondisi ini dikenal dengan sebutan sun outage, atau posisi tertentu matahari yang memengaruhi komunikasi satelit yang terhubung ke bumi. Meski demikian, komunikasi selular tidak akan terdampak karena sinyalnya terhubung lewat menara BTS (Base Transceiver Station.

Saat titik kulminasi itu, panas matahari juga terasa lebih terik membakar sekitar 9%.

Bagi yang penasaran ingin mengujinya, coba perhatikan benda tegak yang sangat lurus seperti tiang. Tepat tengah hari di saat matahari melintas di garis ekuator, maka tidak terlihat bayangan sama sekali di sekitar benda tegak tersebut selama beberapa menit. Ketika hari beranjak lewat tengah hari, maka bayangan akan kembali tampak. Meski demikian, untuk benda yang tidak lurus seperti misalnya pohon rindang fenomena ini tidak terlihat, bayangan akan tetap terlihat.






Sumber : https://www.femina.co.id/Trending-Topic/biasa-terjadi-2-kali-dalam-setahun-ini-penjelasan-tentang-fenomena-hari-tanpa-bayangan-dari-pusat-sains-antariksa-lapan








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL