Kompetensi Utama

Layanan


Indonesia Akan Miliki Observatorium Terbesar Se-Asia Tenggara, Bagaimana Kondisinya?
Penulis : Nurdiani Latifah • Media : seword.com • 08 Jul 2018 • Dibaca : 2909 x ,

Indonesia harus berbangga diri dengan diri saat ini. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mulai membangun fasilitas observatorium terbesar di Asia Tenggara yang berlokasi di pegunungan Timau, Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dimulainya pembangunan fasilitas observatorium di pegunungan Timau menjadi babak baru keantariksaan Indonesia.

Bahkan Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohamad Nasir akan mencanangkan lokasi di Timau sebagai situs Observatorium Nasional. Serta akan menjadikan Taman Nasional Langit Gelap sekaligus meresmikan nama Observatorium Timau. Observatorium Nasional di pegunungan Timau merupakan kerjasama LAPAN dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang serta Pemerintah Kabupaten Kupang.

Fasilitas pengamatan antariksa di pegunungan Timau dilengkapi dengan teleskop optik berdiameter 3,8 meter yang merupakan salah satu fasilitas moderen keantarariksan di wilayah Indonesia Timur. Diharapkan keberadaan situs observatorium Nasional Timau dan kawasan Taman Nasional Langit Gelap akan mendorong kemajuan sains dan teknologi keantariksaan Indonesia.

Fasilitas yang dibangun itu untuk meningkatkan partisipasi Indonesia Timur dalam bidang keantariksaan sekaligus membuka peluang pariwisata tematik. Kawasan pegunungan Timau menjadi lokasi yang tepat bagi LAPAN sebagai lokasi pembangunan Observatorium Nasional. Di mana observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat yang sudah dipadati pemukiman penduduk.

Alasan untuk Kawasan Gunung Timau dinilai memiliki lokasi strategis untuk kegiatan penelitian dan pengamatan antariksa. Hal lainnya, wilayah tersebut berpotensi tinggi bagi kegiatan pariwisata, terutama wisata alam. Kondisi cakrawalanya masih sangat cerah dan kering, sehingga cocok memantau berbagai benda langit.

Lokasinya pun dekat dengan khatulistiwa yaitu lintang kurang dari 10 derajat. Serta jauh dari permukiman penduduk. Dan terpenting, di sini pengamatan antariksa bisa dilakukan ke dua arah sekaligus yaitu utara dan selatan. Observatorium di Australia cuma bisa mengamati bintang di sisi selatan cakrawala. Lalu di Jepang dan Amerika, hanya bisa amati bintang di sisi utara cakrawala.

Untuk observatorium di Gunung Timau ini, bisa mengamati bintang di sisi utara dan selatan cakrawala. Terlebih lagi di observatorium ini juga akan ditempatkan satu teleskop berdiameter 3,8 meter yang sangat canggih, sekaligus terpanjang di Asia Tenggara. Teleskop yang dibuat selama tiga tahun ini mampu melihat kondisi luar angkasa secara jelas.

Harapan launnya, Indonesia khususnya Kupang akan menjadi sorotan dunia. Sebagai penunjang, LAPAN juga sedang membangun pusat sains di kawasan Tilong, Kecamatan Kupang Tengah, NTT. Fasilitas ini akan digunakan untuk kegiatan perdagangan dan penelitian. Khususnya sebagai sarana edukasi masyarakat setempat, yang juga berdampak positif dalam pengembangan Kawasan Timur Indonesia.

Jadi yang dibangun di Kabupaten Kupang ini tidak sebatas astronomi saja tetapi. Melainkan, aspek sektor pendidikan dan teknologi. Di mana dilakukan untuk kegunaan edukasi dan pelatihan bagi masyarakat daerah tersebut. Sementara pada bidang pariwisata, potensi utama yang akan dikembangkan adalah wisata alam dan pendukungnya adalah wisata budaya.

Untuk wisata alam, panorama pegunungan Timau yang indah merupakan daya tarik utama. Topografinya yang bergelombang dan terjal dengan bentang kawasan hutan. Ketinggiannya sekitar 200 meter di atas permukaan laut. Keadaan ini membuat kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi seperti hutan Eucalyptus urophylla dan hutan semi awet hijau.

Kita bisa membayangkan betapa indahnya kawasan tersebut. Hal lainnya, kawasan ini juga mencakup hutan dataran rendah terbaik dan terluas di Pulau Timor bagian barat. Para wisatawan akan menemui hutan savana yang ditumbuhi Eucalyptus alba, Casuarina junghuhniana, dan regenerasi hutan semi-luruh daun.

Lebih jauh, kawasan tersebut akan bersinergi dengan kawasan wisata baru. Terutama wilayah sekitar observatorium akan dikembangkan sebagai kawasan pariwisata khusus Taman Nasional Langit Gelap (National Dark Sky Park).

Tujuannya agar masyarakat dapat berpartisipasi untuk menjaga wilayah tersebut bebas dari polusi cahaya. Di sana pun akan dibuat kebun besar Taman Eden. Di mana seluruh buah-buahan akan tersedia di kebun, sehingga menjadi peluang untuk menyejahterakan masyarakat. Tak ketinggalan, potensi lainnya seperti tari-tarian, musik, tenun kain, dan hunian rumah adat akan dikembangkan menjadi wisata budaya.







Sumber : https://seword.com/umum/indonesia-akan-miliki-observatorium-terbesar-asia-tenggara-bagaimana-kondisinya-SJI5GIAzX








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL