Kompetensi Utama

Layanan


BMKG dan LAPAN Pastikan Aphelion Bukan Penyebab Suhu Dingin, Begini Penjelasannya
Penulis : Kompas.com/ed. Irma Budiarti • Media : Tribunnews.com • 07 Jul 2018 • Dibaca : 1584 x ,

TRIBUN-BALI.COM - Beberapa hari belakangan di beberapa wilayah Indonesia mengalami suhu yang lebih dingin.

Sebuah broadcast message menyebut hal ini disebabkan oleh fenomena aphelion.

Berita tersebut kemudian dibantah oleh pihak Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Namun hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, apa sebenarnya titik aphelion itu?

Titik Terjauh

Dihubungi Kompas.com pada Jumat (06/07/2018), Marufin Sudibyo, seorang astronom amatir, menjelaskan bahwa aphelion atau aphelium adalah titik terjauh (apoapsis) Bumi terhadap Matahari (helion).

"Gabungkan apoapsis dengan helion, maka ketemulah aphelion. Aphelion adalah konsekuensi langsung dari bentuk orbit Bumi yang lonjong (ellips)," kata Marufin.

"Dalam bentuk ellips ini terdapat dua titik pusat (fokus) dan salah satunya ditempati oleh Matahari kita," sambungnya.

Marufin juga menjelaskan, ada konsekuensi dari bentuk orbit bumi tersebut.

"Konsekuensi dari bentuk orbit yang ellips maka ada titik yang terdekat terhadap Matahari (disebut perihelion) dan ada titik yang terjauh, ya si aphelion itu," jelasnya.

Lebih lanjut, Marufin menegaskan bahwa setiap tahunnya Bumi akan berada di titik terjauh dan terdekatnya dengan Matahari.

"Bumi menempati perihelion pada setiap awal Januari, tepatnya sekitar 14 hari setelah Matahari berada di titik balik selatan (solstice Desember)," katanya.

"Sebaliknya Bumi juga menempati aphelion setiap awal Juli, yakni sekitar 14 hari pasca Matahari berada di titik balik utara (solstice Juni)," sambung Marufin.

Jarak Bumi dan Matahari

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Rukman Nugraha, peneliti muda BMKG.

"Betul bahwa hari ini, Jumat, 6 Juli 2018 pukul 23:47 WIB (kemarin, red), Bumi akan berada di titik terjauhnya dari Matahari, yang dikenal sebagai titik aphelion," kata Rukman melalui pesan singkat.

"Pada saat tersebut, jarak Bumi-Matahari adalah 152,1 juta km," imbuhnya.

Menurut Rukman, berkebalikan dengan aphelion, titik terdekat Bumi dan Matahari (perihelion) telah terjadi pada 3 Januari 2018 pukul 12:34 WIB.

Menurutnya, saat itu jarak Bumi-Matahari adalah 147,1 juta km.

Semua jarak tersebut diukur pusat Matahari ke pusat Bumi atau dikenal dengan istilah centre-to-centre.

"Berubahnya posisi Bumi relatif terhadap Matahari tersebut karena bentuk orbit Bumi yang bukanlah berupa lingkaran, tetapi berupa ellips, dengan nilai eksentrisitasnya sebesar 0,0167," Rukman menjelaskan.

"Sebagai catatan, jika nilai eksentrisitasnya orbit suatu benda adalah 0, maka bentuk orbitnya adalah lingkaran," tambahnya.

Suhu Dingin

Sebagai informasi, suhu udara di beberapa wilayah Indonesia belakangan mengalami penurunan drastis.

Tersiar kabar, hal ini disebabkan fenomena Aphelion.

Kendati demikian, penurunan suhu yang sekarang terjadi tidak ada kaitannya sama sekali dengan fenomena aphelion tersebut.

Hal itu ditegaskan oleh Kepala Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional ( LAPAN) Thomas Djamaluddin.

Ia menjelaskan, suhu udara dipengaruhi oleh distribusi panas di bumi akibat perubahan tahunan posisi matahari.

"Angin dari Australia yang sedang musim dingin bertiup ke Indonesia. Itu sebabnya, beberapa kota di pulau Jawa mengalami udara yang dingin," imbuhnya.

Hal yang sama pun diungkapkan oleh Mulyono R. Prabowo, Deputi Bidang Meteorologi BMKG melalui keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (6/7/2018).

Mulyono menambahkan, tidak hanya pulau Jawa saja yang mengalami penurunan suhu.

Hal yang sama juga dirasakan di Bali, NTB, dan NTT.(*)






Sumber : http://bali.tribunnews.com/2018/07/07/bmkg-dan-lapan-pastikan-aphelion-bukan-penyebab-suhu-dingin-begini-penjelasannya?page=3.









Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL