Kompetensi Utama

Layanan


LAPAN dan BMKG Bantah Suhu Dingin di Pulau Jawa Akibat Fenomena Aphelion
Penulis : Redaksi • Media : mediatataruang.com • 07 Jul 2018 • Dibaca : 1880 x ,

Media Tata Ruang– Dalam beberapa hari terakhir ramai perbincangan di media sosial tentang cuaca dingin yang dirasakan di Tanah Air. Bahkan di Kota Bandung, Jawa Barat, suhunya mencapai 18 derajat celsius. Benarkah kabar tersebut atau hanya omongan tanpa dasar semata? Kemudian sebuah broadcast message menyebut hal ini disebabkan oleh fenomena aphelion.

Berita tersebut kemudian dibantah oleh pihak Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kendati demikian, penurunan suhu yang sekarang terjadi tidak ada kaitannya sama sekali dengan fenomena aphelion tersebut.

Hal ini ditegaskan oleh Kepala Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional ( LAPAN) Thomas Djamaluddin. Ia menjelaskan, suhu udara dipengaruhi oleh distribusi panas di bumi akibat perubahan tahunan posisi matahari. “Angin dari Australia yang sedang musim dingin bertiup ke Indonesia. Itu sebabnya, beberapa kota di pulau Jawa mengalami udara yang dingin,” imbuhnya.

Namun hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, apa sebenarnya titik aphelion itu? Marufin Sudibyo, seorang astronom amatir, menjelaskan bahwa aphelion atau aphelium adalah titik terjauh (apoapsis) Bumi terhadap Matahari (helion). “Gabungkan apoapsis dengan helion, maka ketemulah aphelion. Aphelion adalah konsekuensi langsung dari bentuk orbit Bumi yang lonjong (ellips). Dalam bentuk ellips ini terdapat dua titik pusat (fokus) dan salah satunya ditempati oleh Matahari kita,” kata Marufin.

Marufin juga menjelaskan, ada konsekuensi dari bentuk orbit bumi tersebut. “Konsekuensi dari bentuk orbit yang ellips maka ada titik yang terdekat terhadap Matahari (disebut perihelion) dan ada titik yang terjauh, ya si aphelion itu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Marufin menegaskan bahwa setiap tahunnya Bumi akan berada di titik terjauh dan terdekatnya dengan Matahari. “Bumi menempati perihelion pada setiap awal Januari, tepatnya sekitar 14 hari setelah Matahari berada di titik balik selatan (solstice Desember). Sebaliknya Bumi juga menempati aphelion setiap awal Juli, yakni sekitar 14 hari pasca Matahari berada di titik balik utara (solstice Juni),” katanya.

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Rukman Nugraha, peneliti muda BMKG. “Betul bahwa hari Jumat, 6 Juli 2018 pukul 23:47 WIB, Bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari, yang dikenal sebagai titik aphelion. Pada saat tersebut, jarak Bumi-Matahari adalah 152,1 juta km,” kata Rukman.

Menurut Rukman, berkebalikan dengan aphelion, titik terdekat Bumi dan Matahari (perihelion) telah terjadi pada 3 Januari 2018 pukul 12:34 WIB. Menurutnya, saat itu jarak Bumi-Matahari adalah 147,1 juta km. Semua jarak tersebut diukur pusat Matahari ke pusat Bumi atau dikenal dengan istilah centre-to-centre.

“Berubahnya posisi Bumi relatif terhadap Matahari tersebut karena bentuk orbit Bumi yang bukanlah berupa lingkaran, tetapi berupa ellips, dengan nilai eksentrisitasnya sebesar 0,0167. Sebagai catatan, jika nilai eksentrisitasnya orbit suatu benda adalah 0, maka bentuk orbitnya adalah lingkaran,” jelas Rukman.

Hal yang sama pun diungkapkan oleh Mulyono R. Prabowo, Deputi Bidang Meteorologi BMKG menambahkan, tidak hanya pulau Jawa saja yang mengalami penurunan suhu. Hal yang sama juga dirasakan di Bali, NTB, dan NTT.

Sementara, Prakirawan BMKG Klas 1 Bandung, Iid Mujtahidin, di Bandung, Jumat (6/7) mengatakan, dari pantauan alat pengukur suhu udara, tercatat dalam bulan Juli suhu minimum hingga mencapai 16,4 derajat celcius pada Jumat (16/7), dengan kondisi kelembapan yang relatif rendah berada pada nilai 38 persen.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung memprediksi suhu dingin yang terjadi di sebagian wilayah Jawa Barat akan berlangsung hingga September 2018. “Selama periode musim kemarau Juni-September suhu udara relatif lebih dingin bila dibandingkan periode musim hujan,” ujar Iid Mujtahidin, di Bandung.

Fenomena suhu dingin ini, kata dia, disebabkan sejumlah faktor. Salah satunya di wilayah Benua Australia sedang terjadi musim dingin terutama puncaknya terjadi di antara bulan Juli, Agustus, September.(*)





Sumber : http://mediatataruang.com/lapan-dan-bmkg-bantah-suhu-dingin-di-pulau-jawa-akibat-fenomena-aphelion/








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL