Kompetensi Utama

Layanan


Tak Sempat Lihat Gerhana Bulan Total? Jangan Sedih, Berikut Jadwal Selanjutnya Mulai 2019
Penulis : Edi Sumardi • Media : makassar.tribunnews.com • 30 Jul 2018 • Dibaca : 2101 x ,

TRIBUN-TIMUR.COM - Gerhana Bulan total, pada Sabtu (28/7/2018) lalu merupakan gerhana Bulan terakhir yang dapat diamati pada tahun ini.

Gerhana Bulan tersebut akan menjadi gerhana Bulan dengan durasi gerhana Bulan total terlama dalam abad ke-21, yaitu selama 1 jam 43 menit.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mencatat masih akan ada gerhana Bulan selanjutnya yang dapat teramati di Indonesia dalam waktu 5 tahun ke depan.

Berikut daftar Gerhana Bulan selanjutnya yang dapat teramati di Indonesia dalam waktu 5 tahun ke depan, seperti penjelasan Lapan dalam laman resminya di Instagram @lapan_ri:

1. Gerhana Bulan sebagian, 17 Juli 2019,

2. Gerhana Bulan penumbra, 11 Januari 2020,

3. Gerhana Bulan penumbra, 6 Juni 2020,

4. Gerhana Bulan penumbra, 30 November 2020,

5. Gerhana Bulan total, 26 Mei 2021,

6. Gerhana Bulan penumbra, 19 November 2021,

7. Gerhana Bulan total, 8 November 2022,

8. Gerhana Bulan penumbra, 5 hingga 6 Mei 2023,

9. Gerhana Bulan sebagian, 29 Oktober 2023.

6 Mitos

Saat gerhana Bulan total terjadi, beredar pula mitos:

1. Kebaikan akan berlipat ganda

Umat di Tibet percaya segala kebaikan yang dilakukan saat gerhana Bulan terjadi akan berlipat ganda.

Begitu juga jika melakukan keburukan.

Mitos yang berkaitan dengan karma ini berlaku pada tindakan buruk yang dilakukan.

2. Waktu berdamai

Orang Batammaliba di Togo dan Benin memiliki mitos seputar gerhana bulan.

Mitos di sana berkata, "Matahari dan Bulan sedang bertengkar kala gerhana, sehingga orang-orang meminta kedua benda langit itu untuk berhenti."

Sampai hari ini, mitos tersebut tetap berlaku.

Gerhana bulan adalah waktu yang tepat untuk berkumpu bersama dan berdamai atas permusuhan yang pernah terjadi.

3. Adanya perubahan

Banyak suku pribumi Amerika mengatakan gerhana bulan adalah tanda akan adanya perubahan yang terjadi di Bumi, menurut Farmer's Almanac.

Hal ini berdasarkan pada kepercayaan mereka.

Sebab, bulan dipercaya sebagai pihak yang mengendalikan dan mengatur planet kita.

4. Dimakan naga

Kata 'gerhana' dalam bahasa Tiongkok adalah shi, yang juga berarti 'makan'.
Orang Tiongkok percaya bahwa menghilangnya bulan disebabkan karena ada naga yang memakannya.

Sehingga orang Tiongkok akan menembakkan meriam ke arah bulan untuk menakuti naga.

5. Pertanda datangnya penyakit

Zaman dahulu, orang Eskimo menganggap hiangnya bulan sebagai tanda bahwa bulan sedang mengidap penyakit serius.

Jadi, sipapun yang terkena sinar bulan 'berpenyakit' akan mengalami nasib sama.

Untuk mengatasi kekhawatiran ini, orang Eskimo akan menutupi apapun termasuk tubuh mereka sendiri dari sinar gerhana Bulan.

6. Bulan diracuni

Orang Jepang memiliki takhayul bahwa bulan yang berwarna kemerahan saat gerhana sedang terkena racun.

Orang Jepang khawatir, racun yang ada di bulan itu akan jatuh ke bumi saat gerhana terjadi.

Sehingga orang-orang akan menutupi sumur agar airnya tak tercampur racun dari bulan.(*)


Sumber: http://makassar.tribunnews.com/2018/07/30/tak-sempat-lihat-gerhana-bulan-total-jangan-sedih-berikut-jadwal-selanjutnya-mulai-2019?page=4








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL