Kompetensi Utama

Layanan


ISAST dan Aerosummit Percepat Pertumbuhan Industri Pesawat Terbang Nasional
Penulis Berita : Humas/Zk • Fotografer : Humas/Sgd • 26 Sep 2018 • Dibaca : 6351 x ,

Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin membuka secara resmi penyelenggaraan kegiatan ISAST VI dan Aerosummit I

Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamluddin secara resmi membuka penyelenggaraan bersama kegiatan Aerosummit 2018 dan International Seminar on Aerospace Science and Technology (ISAST) ke-6 di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Selasa (25/09). Forum seminar bersama ini akan berlangsung tanggal 25-26 September.

Kepala LAPAN menyampaikan, gagasan menyatukan kegiatan penelitian dan perekayasaan dengan melibatkan asosiasi profesi dan pemangku kepentingan industri penerbangan, sudah direncanakan sejak pertemuan ISAS ke-5 di Medan. Ia berharap, pertemuan ini dapat membangun sinergi positif dengan berbagai pihak, terutama Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, dan industri penerbangan.

Di bidang aerodinamika, LAPAN tidak saja melakukan penelitian dan pengembangan teknologi penerbangan (litbang), tetapi juga satelit dan roket peluncur satelit (RPS). Lebih lanjut, ia menjelaskan, momentum ini sangat penting, merujuk pada program pengembangan teknologi penerbangan dan keantariksaan nasional. Di mana, program tersebut telah dituangkan dalam Undang-Undang No 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan dan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan Tahun 2016-2040. “Kegiatan ini sekaligus mengintegrasikan kegiatan litbang dengan Industri agar dapat menguatkan industri penerbangan nasional,” imbuhnya.

Dari aspek regulasi sudah banyak kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mendukung kegiatan penerbangan. Hal tersebut dijelaskan pihak Kementerian Perindustrian, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden RI Nomor 38 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). Di dalam peraturan ini, ditetapkan industri alat transportasi merupakan salah satu dari enam industri andalan dengan fokus pengembangan industri transportasi udara. Arahnya yaitu pesawat propeler, komponen pesawat, serta jasa perbaikan dan perawatan penerbangan. \

Pada tahun 2015, Kementerian Perindustrian telah mengukuhkan Asosiasi Industri Pesawat terbang, seperti INACOM (Indonesia Aircraft and Component Manufucturer Association) dan IAMSA ( Indonesia Aircraft Maintenance Services Association). Di samping itu, Kementerian Perindustrian mendorong implementasi industri 4.0 secara progresif. Harapannya agar tercipta efisiensi, produktivitas, dan berdaya saing tinggi dalam memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor. Sehingga, Indonesia ditargetkan dapat mencapai peringkat 10 besar ekonomi global pada tahun 2030.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan, “Pertumbuhan industri penerbangan maupun penguna jasa penerbangan terus meningkat.” Tahun 2017, jumlah penumpang yang menggunakan jasa transportasi udara mencapai 128 juta jiwa. Data tersebut menunjukan dinamisasi indusri penerbangan di Indonesia. Pertumbuhan yang besar tersebut akan berdampak positif pada pemanfaatan pesawat N219 maupun industri pendukung lainnya. Guna mempercepat proses administrasi dan perizinan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah mengeluarkan kebijakan aplikasi Online Certification Service.

Kepala Pusat Teknologi Penerbangan, Gunawan Setyo Prabowo, selaku Ketua IAEC mengatakan, ISAST VI dan Aerosummit merupakan momentum sangat baik guna membangun sinergi, dan memperkuat kerja sama untuk memajukan industri penerbangan nasional. Kegiatan ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk belajar dari pengalaman India, China, dan Singapura, dalam membangun ekosistem industri penerbangan dengan melibatkan berbagai komponen industri kecil.

LAPAN terus berupaya membantu menciptakan entitas-entitas, dalam hal ini UKM yang mandiri di bidang aeronautika. Maka, Gunawan berharap agar pemerintah mempertahankan pemanfaatan landasan penerbangan untuk jalur pendek, agar tetap terpelihara.

Industri pesawat terbang Indonesia sudah tidak diragukan kemampuannya dan banyak diakui dunia. Tetapi di tengah pesatnya pertumbuhan industri penerbangan dunia, Indonesia tidak mampu bersaing meskipun dengan vietnam yang mulai berkiprah di bidang teknologi penerbangan. Hal tersebut dijelaskan Pelaksana Harian IAEC, Dadang Furqon Erawan. Maka, ia berharap, ke depan, dapat diciptakan hilirisasi mulai dari hulu. Sehingga kegiatan litbang didorong sampai ke industri penerbangan.

Di dalam kegiatan ini dipaparkan 43 makalah dari berbagai kalangan profesi dan disiplin keilmuan baik dalam dan luar negeri. Kegiatan tersebut juga disemarakkan dengan ditampilkannya 18 stan pameran yang diisi para pelaku bisnis dan industri penerbangan baik lokal maupun internasional.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL