Kompetensi Utama

Layanan


Aero Summit 2018 : Sinergi Kluster Industri Dirgantara Mewujudkan Ekosistem Industri 4.0
Penulis : Iman • Media : airmagz.com • 23 Sep 2018 • Dibaca : 5165 x ,

Jakarta – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bersama dengan asosiasi profesi, pemangku kepentingan industri, serta badan riset dan lembaga pendidikan terkait menyelenggarakan Aero Summit 2018.

Event Aero Summit 2018 diselenggarakan pada tanggal 25-26 September 2018 pukul 08.00 – 21.00 WIB di Hotel Kartika Chandra Jl. Jendral Gatot Subroto Kav.18-20, Jakarta.

Aero Summit 2018 akan dibuka secara lintas kementerian dan lembaga, diikuti oleh lembaga ristek pemerintah, praktisi industri dirgantara, pengusaha, peneliti, inovator dan akademisi. Acara ini juga didukung oleh korporasi dunia, yakni AIRBUS Industries.Dengan mengirimkan delegasi yang komprehensif terkait pengembangan industri dirgantara.

Aero Summit 2018 terbagi menjadi beberapa kegiatan yakni Seminar Internasional (ISAST), diskusi panel dengan keynotespekaer para Menteri Kabinet terkait, Forum Group Discusion dan Workshop demi terwujudnya transformasi dan penguatan kluster industri dirgantara menuju era Industri 4.0.

Terwujudnya jembatan udara yang tangguh dan kemajuan teknologi antariksa nasional merupakan impian para pendiri bangsa Indonesia. Pembangunan infrastruktur transportasi udara yang progresif sudah dan tengah dilakukan oleh pemerintah. Mesti disertai dengan pengembangan kluster industri dirgantara dalam negeri. Selain itu riset dan pengembangan teknologi penerbangan perlu dikokohkan dengan berbagai program quick wins terkait kluster dirgantara seperti program nasional rancang bangun pesawat N219, R80, N219 Amphibi, N245 dan pesawat tempur KFX/IFX.

Tahun ini merupakan momentum yang sangat penting untuk mengimplementasikan “Making Indonesia 4.0” oleh seluruh kluster industri Indonesia. Industri dirgantara melakukan langkah aksi segera ( quick wins ) untuk menyongsong era Industri 4.0. Dengan cara antara lain melakukan sinergi dan konsolidasi agar mendapatkan insentif RD&D dan CAPEX untuk investasi teknologi. Paralel dengan itu dilakukan investor roadshow yang menyasar manufaktur global terkemuka sebagai partner strategic.

Era Industri 4.0 membutuhkan SDM bangsa yang berkompeten dalam jumlah yang besar. Untuk itu kluster industri dirgantara berkolaborasi menyiapkan tenaga kerja industri berkompeten. Mengadakan program massive action lewat pendidikan vokasi untuk up skilling dan re-skilling bagi seluruh sektor terkait. Program massive kedepan berupa memperbanyak workshop dan pelatihan bidang keilmuan yang menjadi pilar Industri 4.0.

Sesuai dengan kerangka kerja Making Indonesia 4.0 yang telah diluncurkan Presiden Joko Widodo. Yakni pentingnya pusat inovasi, maka LAPAN bersama PT Dirgantara Indonesia (PT DI) , PT Regio Aviasi Indutri (RAI) , sertab erbagai kluster industri dirgantara yang tekah eksis di Tanah Air, bersama mendorong terwujudnya segera beberapa kawasan khusus industri dirgantara di Tanah Air.

Merekomendasikan kepada pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk memberikan perhatian yang lebih besar dan konkrit terkait dengan pengembangan kluster industri dirgantara lewat kebijakan yang lebih progresif dan insentif yang lebih konkrit.

Salah satu cara untuk mempercepat transformasi kluster industri dirgantara mewujudkan ekosistem Industri 4,0 yang didukung riset dan pengembangan penerbangan dan antariksa adalah menyelenggarakan event Aero Summit.

Keniscayaan bagi Indonesia untuk melakukan penguatan peran asosiasi usaha yang bergerak dibidang aerospace industry antara lain Indonesia Aeronautical Engineering Center (IAEC), Indonesia Aircraft Component Manufacturer Association (INACOM), Indonesia Aircraft Maintenance Service Association (IAMSA), PT DI, PT RAI, GMF AeroAsia. Semuanya bersinergi dengan lembaga riset yakni LAPAN, BPPT, dan Perguruan Tinggi merumuskan visi besar dan peta jalan terbaru bagi industri terkait. Semuanya demi tujuan besar membentuk ekosistem yang ideal untuk mengembangkan produk, volume usaha serta merebut potensi pasar lokal dan global yang selama ini belum berhasil diraih.

Aero Summit disertai penyelenggaraan International Seminar on Aerospace Science and Technology (ISAST) ke-6 bertema “Aeronautics and Space Technology Research and Industrial Development. Penyelenggaraan ISAST yang sudah berlangsung sejak 2013 sebagai ajang pertukaran informasi mutakhir dan untuk mencari peluang kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi baik di dalam maupun luar negeri, serta industri strategis yang ada di Indonesia dan dunia.

Penyelenggaraan ISAST untuk meneguhkan program kegiatan pengembangan teknologi penerbangan dan keantariksaan nasional yang berlandaskan UU No 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Peraturan Presiden RI No. 45 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Keantariksaan Tahun 2016 – 2040 juga sudah disahkan.

Dengan terbitnya PP tersebut diharapkan dalam 25 tahun ke depan LAPAN dapat meluncurkan satelit penginderaan jauh dengan Roket Peluncur Satelit (RPS) buatan bangsa sendiri.

Tema summit adalah “Streamlining the synergy in aserospace industry”. Ini dilandasi dengan filosofi Panta Rei, dalam arti semua pemangku kepentingan dari skala usaha yang kecil hingga besar, terus mengalir laminer mengatasi hambatan dan menyesuaikan dengan era zaman. Khususnya menghadapi era Industri 4.0.

Jembatan udara merupakan faktor yang sangat penting dalam perekonomian bangsa-bangsa dunia. Menurut proyeksi yang dilansir oleh International Air Transport Association ada lima negara yang menjadi pasar penerbangan terbesar di dunia, yaitu Tiongkok , Amerika Serikat, India, Indonesia dan Turki.

Pasar penerbangan berkembang pesat karena didorong tingginya pertumbuhan kelas menengah. Tren menunjukkan bahwa pada 2036 Indonesia bakal menjadi pasar penerbangan terbesar keempat dunia dengan total penumpang pesawat mencapai 355 juta orang. Pasar penerbangan di Tiongkok menempati peringkat pertama dan mengalahkan Amerika Serikat.

Jumlah penumpang pesawat di Tiongkok pada 2036 mencapai 1,5 miliar orang. Sedangkan AS berada di posisi kedua dengan jumlah mencapai 1,1 miliar orang. Sementara India berada di posisi ketiga dengan total penumpang pesawat mencapai 478 juta orang. Di posisi kelima adalah Turki yang bakal mencapai 196 juta orang.

Melihat tren dan peta kepadatan RPK (Revenue Passenger Kilometers) Traffic di dunia, bangsa Indonesia harus menyiapkan diri untuk meraih peluang dan harus lebih kompetitif dalam mengembangkan kluster industri dirgantara. Dalam tren dan peta tersebut terlihat jelas Indonesia berada di zona Asia Pasific yang sangat strategis, dimana region ini RPK traffic-nya terpadat di dunia mencapai 36 %, di atas Eropa 20 %, Amerika Utara 17 % maupun Middle East 13 %.

Dengan indikator diatas maka Airbus Industries memprediksi pada tahun 2033 Indonesia akan masuk dalam sepuluh besar dunia sebagai negara yang memesan armada pesawat terbanyak di dunia.

Atas dasar prediksi dan proyeksi yang sangat kredibel oleh konsultan dan korporasi global terhadap Indonesia terkait dengan dunia penerbangan, maka tidak ada kata yang lebih penting bagi pemerintah dan pelaku industrri dirgantara untuk segera bergerak cepat menangkap peluang yang sudah hadir di depan mata.

Saatnya memperbaiki visi besar dan strategi nasional, sehingga seluruh stake holder akan memiliki pandangan yang sama dan meniti jalannya roadmap dengan semangat sinergi yang kuat.

Setelah transfer teknologi pada era B. J. Habibie dalam periode 40 sampai dengan 20 tahun yang lalu, saat ini Indonesia perlu meneguhkan tiga strategi yang mesti dijalankan untuk mencapai kemandirian teknologi yang dicita-citakan, yaitu :

Pertama, Strategi dengan melakukan rekayasa dan rancang bangun secara mandiri. Contohnya adalah proyek nasional N219, R80 dan N245.

Kedua, strategi dengan melakukan rekayasa dan rancang bangun, modal bersama dengan mitra, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Contohnya adalah proyek kemitraan KFX/IFX yang dilakukan oleh PT DI dengan KAI Ltd,Korea Selatan; proyek kemitraan dengan CASA melalui NC212 dan CN235, dan lain-lain.

Ketiga, yaitu Strategi mengundang mitra dari negara yang menguasai teknologi tinggi untuk berinvestasi dan memindahkan kompetensi teknologi tingginya di Indonesia. Strategi nomor tiga ini ikut terlibat dalam pengembangan teknologi tinggi dunia, dalam strategic partnership. Menjadikan Indonesia bagian dari supply chain industri teknologi tinggi dunia. Sehingga menjadikan SDM Indonesia tidak hanya ter-upgrade dengan know-how terkini dalam innovasi serta pekerjaan-pekerjaan engineering teknologi tinggi dunia, tapi juga bisa mendorong terjadi ekosistem kluster industri dirgantara di dalam negeri yang memiliki pondasi yang kuat.

Strategi yang ketiga didukung peran diaspora Indonesia yang memiliki kompetensi tinggi dan ahli teknologi kedirgantaraan dan antariksa yang kini tersebar luas dibelahan dunia. Diaspora ahli bidang kedirgantaraan dan antariksa menjadi brain hub untuk menjembatani kepentingan pemerintah dan pelaku pembangunan di Indonesia dengan pihak produsen pesawat terbang terkemuka dunia.

Indonesia merupakan satu dari sedikit negara yang memilik SDM terbaik di industri kedirgantaraan. Lebih dari itu, para ahli di bidang dirgantara tidak cuma berkarir di dalam negeri melainkan juga terlibat langsung dalam berbagai proses pengerjaan pembuatan pesawat terbang baik di Airbus maupun Boeing. Ini adalah kekuatan nyata SDM Indonesia di industri dirgantara sekaligus menjadi key sucess factor yang utama. (IMN)





















Sumber : https://www.airmagz.com/31657/aero-summit-2018-sinergi-kluster-industri-dirgantara-mewujudkan-ekosistem-industri-4-0.html








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL