Kompetensi Utama

Layanan


LAPAN Selenggarakan Diskusi untuk Percepat Implementasi Rencana Induk Keantariksaan
Penulis Berita : Humas/And • Fotografer : Humas/And • 27 Sep 2018 • Dibaca : 7237 x ,

Kepala LAPAN memimpin diskusi forum yang membahas implementasi rencana induk keantariksaan di Park Hotel, Jakarta

Kamis (27/09), LAPAN mengadakan diskusi forum dengan beberapa kementerian dan lembaga untuk menampung masukan dalam mengimplementasikan rencana induk (renduk) penyelenggaraan keantariksaan. Kegiatan yang berlangsung di Park Hotel, Jakarta ini dihadiri sekurangnya 10 kementerian/lembaga. Mereka adalah perwakilan dari Kemenkopolhukam, Kemenko PMK, Kemenko Kemaritiman, Kemenko Perekonomian, Kemenristekdikti, Kemendagri, Kemhan, Kemen BUMN, Kominfo, Wantanas, Bappenas, PTDI, Kemen Perindustrian, LIPI, dan BPPT.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2017 tentang rencana induk penyelenggaraan keantariksaan tahun 2016-2040. Maka, melalui diskusi kali ini, LAPAN bisa memperoleh masukan dari mitra strategis guna percepatan pencapaian target dalam renduk tersebut.

Dalam paparannya, Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menyampaikan bahwa renduk tersebut merupakan peraturan pemerintah yang dibuat dalam skala nasional, bukan saja dalam batasan skub LAPAN saja. Sehingga, menurutnya, LAPAN perlu sinergitas dari kementerian dan lembaga terkait dalam mendorong pencapaian visi dan misinya.

Pada garis besarnya, renduk tersebut memuat tentang visi dan misi, kebijakan, strategi, dan peta rencana strategis jangka pendek (201-2020), menengah (2016-2030), dan panjang (2016-2040). Ia mempertegas, bahwa masukan dalam rencana strategis jangka menengah tersebut nantinya akan dijadikan pedoman dalam menyusun Rencana Strategis LAPAN.

Berbagai masukan dan dukungan disampaikan oleh seluruh perwakilan instansi yang hadir. Kemendagri contohnya, memberikan usulan agar implementasi renduk tersebut dijabarkan dalam RPJMD yang menjadi pedoman kerja para kepala daerah. Sehingga, implementasi kegiatannya dapat dibantu oleh pemerintah daerah di Indonesia.

Sementara, masukan lainnya agar LAPAN yang memiliki iptek berteknologi tinggi harus mampu mencari interface antara pengembangan teknologi tinggi dengan kebutuhan masyarakat. Di antaranya program wilayah kelautan, perkebunan, dan pertanian.

Forum ini menjadi peluang besar dalam mengkonsolidasikan antara kepentingan pemerintah dengan pengguna. Di mana, teknologi kini berkembang secara cepat. Sebagaimana dijelaskan Heru Nugroho dari Kementerian Perindustrian, “Maka perlu sinergi antar kementerian dan lembaga untuk membuat roadmap yang jelas sehingga ada capaian dalam setiap tahapan.”

Menurutnya, bagaimana pemerintah ini bisa menciptakan regulasi yang bisa membawahi pengguna. Sehingga, hal ini bisa mendorong peran perindustrian dalam membangun riset dan pengembangannya tidak lagi bergantung pada komponen impor. “Sikap yang harus diambil adalah bagaimana para stakeholder bisa mendukung LAPAN, di mana LAPAN sebagai inisiator,” imbuhnya.

Maka, Kepala LAPAN berharap, agar pengembangan teknologi, kebijakan, serta kegiatan yang terhubung lainnya di bidang keantariksaan yang dimiliki LAPAN bisa dikontribusikan untuk kementerian dan lembaga. “Terkait dengan kolaborasi dan program-program yang beririsan, nanti akan dikoordinasikan kembali,” jelasnya. Ia mengajak agar seluruh kementerian/lembaga tidak berpikir secara egosentral sehingga tidak akan terjadi tumpang tindih program dan kegiatan.

Terkait implementasi renduk, Sekretaris Utama LAPAN, Prof. Dr. Erna Sri Adiningsih memaparkan capaian program hingga pertengahan 2018 yang sudah diimplementasikan. Informasi tersebut akan ditindaklanjuti dalam pertemuan forum diskusi kembali dengan pembahasan yang lebih terperinci. “Melalui pertemuan ini, kami akan menginventarisir seluruh kemampuan nasional yang saat ini sudah dicapai, untuk mendukung perencanaan yang sudah disusun,” ujarnya.

Dalam paparannya, Erna menjelaskan capaian program besar LAPAN antara lain riset di bidang roket, satelit, penerbangan, dan penginderaan jauh. Ia juga menjelaskan bagaimana riset di bidang roket yang butuh percepatan program. “Kita akan terus menggunakan teknologi satelit, maka perlu suatu konstelasi untuk kepentingan berbagai kebutuhan masyarakat,” imbuhnya.

Berbicara mengenai lokasi peluncuran, sejauh ini masih dalam proses pengkajian LAPAN terhadap dua lokasi, yaitu Morotai dan Biak. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Lokasi tersebut sebagai langkah konkrit untuk mewujudkan kegiatan peluncuran di indonesia dengan kemampuan dalam negeri.

Dalam hal komersialisasi produk litbang, diarahkan ke dalam teknologi penerbangan antariksa dan sistem informasi, serta akuisisi data keantariksaan. Sementara ia menjelaskan, yang sudah dilaksanakan saat ini adalah aspek terkait teknologi penerbangan dan antariksa untuk penginderaan jauh. Maka, ia berharap, hasil rumusan pertemuan ini dapat dijadikan pegangan dalam merumuskan kendala yang dihadapi LAPAN saat ini, untuk berkolaborasi bersama dalam penguasaan teknologi antariksa.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL