Kompetensi Utama

Layanan


BPS Klaim Produksi Beras 2018 Capai 32,42 Juta Ton
Penulis : Redaksi • Media : fin.co.id • 23 Oct 2018 • Dibaca : 3408 x ,

FIN.CO.ID, JAKARTA – Untuk meningkatkan kualitas tata kelola komoditas beras, sebagai komoditas pertanian dengan tingkat konsumsi terbesar, Pemerintah melakukan upaya penyempurnaan metode perhitungan produksi beras nasional. Tujuannya agar dapat menghasilkan statistik beras yang lebih akurat.

Upaya penyempurnaan ini dilakukan untuk memperbaiki kesalahan perhitungan produksi beras yang walaupun sudah diduga sejak lama, upaya kongkrit untuk memperbaiki metodologi perhitungan produksi beras baru dilakukan pada tahun 2016. Hal itu diungkapkan dalam rapat lintas Kementerian dan Lembaga di kantor Wakil Presiden. Rapat ini merupakan kelanjutan dari beberapa rapat sebelumnya yang membahas mengenai penyempurnaan metodologi perhitungan produksi beras.

Pada rapat tersebut, terungkap upaya penyempurnaan metode perhitungan produksi beras dilakukan secara komprehensif untuk seluruh tahapan. Pertama, perhitungan luas lahan baku sawah nasional dilakukan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) yang dibantu oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Kedua, perhitungan luas panen dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Ketiga, perhitungan produktivitas per hektar dilakukan oleh BPS. Keempat, perhitungan konversi gabah kering menjadi beras oleh BPS.

Dari hasil penyempurnaan perhitungan produksi beras yang dibahas dalam rapat tersebut, dilaporkan oleh BPS kepada Wapres Jusuf Kalla bahwa sampai dengan bulan September 2018, data luas panen adalah sebesar 9,5 Juta Ha. Dengan memperhitungkan potensi sampai Desember 2018, maka luas panen tahun 2018 diperkirakan mencapai 10,9 Juta Ha.

“Berdasarkan perhitungan luas panen tersebut diperkirakan produksi Gabah Kering Giling (GKG) sebanyak 49,65 Juta Ton sampai bulan September 2018. Berdasarkan perhitungan potensi produksi sampai Desember 2018, maka diperkirakan total produksi GKG tahun 2018 sebesar 56,54 Juta ton gabah kering atau setara dengan 32,42 Juta ton beras,” kata Kepala Suhariyanto di hadapan Jusuf Kalla.

Pada rapat tersebut juga terungkap bahwa konsumsi beras baik secara langsung di tingkat rumah tangga maupun konsumsi tidak langsung yang telah dimutakhirkan menurut BPS untuk tahun 2017 adalah 111,58 Kg/Kapita/Tahun atau 29,57 Juta Ton/Tahun. Dengan demikian, bila diasumsikan konsumsi beras yang telah disesuaikan untuk tahun 2018 sama dengan tahun 2017, maka selama tahun 2018 terjadi surplus beras sebesar 2,85 Juta Ton.

Secara garis besar, tahapan dalam perhitungan produksi beras dimulai dari Perhitungan Luas Lahan Baku Sawah Nasional, Perhitugan Luas Panen dengan Kerangka Sampel Area (KSA), Perhitungan Tingkat Produktivitas Lahan Per Hektar, serta Perhitungan angka konversi dari Gabah Kering Panen (GKP) ke Gabah Kering Giling (GKG) dan angka konversi dari GKG ke beras. Keseluruhan tahapan ini dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan berbagai Kementerian dan Lembaga terkait.

Sementara, dalam tahapan untuk Menetapkan Luas Lahan Baku Sawah Nasional, perhitungannya telah disempurnakan melalui verifikasi dua tahap, yakni verifikasi melalui citra satelit sangat tinggi. Citra satelit resolusi sangat tinggi yang diperoleh dari LAPAN yang kemudian diolah oleh BIG mengunakan metode Cylindrical Equal Area (CEA) untuk dilakukan pemilahan dan deliniasi antara lahan baku sawah dan bukan sawah.

Metode ini menghasilkan angka luas sawah yang aktual sesuai dengan kondisi sesungguhnya. Selanjutnya verifikasi tahap kedua dilakukan melalui validasi ulang di lapangan oleh Kementerian ATR/BPN. Sampai saat ini, verifikasi dua tahap ini telah dilakukan di 16 Provinsi sentra produksi padi, yang merupakan 87 persen dari seluruh luas lahan baku sawah di Indonesia. Untuk Provinsi lainnya, verifikasi dua tahap diharapkan selesai pada akhir tahun ini.

Dalam tahapan selanjutanya, BPS menggunakan Luas Lahan Baku Sawah Nasional yang ditetapkan dalam tahap pertama untuk melakukan perhitungan luas panen padi. Perhitungan luas panen yang sebelumnya dilakukan melalui metode Eye Estimate yang merupakan laporan yang bersifat subjektif disempurnakan melalui perhitungan berdasarkan pengamatan yang objektif (Objective Measurement) menggunakan metodologi Kerangka Sampel Area (KSA) yang dikembangkan bersama BPPT dan telah mendapat pengakuan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

“Metode ini melibatkan pengamatan visual dengan menggunakan HP berbasis android, sehingga dapat diamati kondisi lahan apakah berada dalam kondisi fase persiapan lahan, fase vegetatif, fase generatif, fase panen, lahan puso, lahan sawah bukan padi, atau lahan bukan sawah,” tambahnya.

Selanjutnya, dalam tahapan untuk perhitungan tingkat produktivitas per hektar, BPS juga melakukan penyempurnaan metodologi dalam menghitung produktivitas per hektar, dari metode ubinan berbasis rumah tangga menjadi metode ubinan berbasis KSA untuk mengurangi risiko lewat panen sehingga perhitungan menjadi lebih akurat.

“Metode ini juga telah mengakomodir penanam padi jajar legowo serta telah menggunakan aplikasi berbasis android dengan metode pengolahan berbasis web dan software untuk meminimalkan tingkat kesalahan data, sehingga dapat dihasilkan data yang akurat sesuai kondisi lapangan,” ungkap Suhariyanto

Sementara itu, Tahapan penetapan angka konversi dari Gabah Kering Panen (GKP) ke Gabah Kering Giling (GKG) dan angka konversi dari GKG ke beras, penyempurnaan dengan melakukan survei di dua periode yang berbeda dengan basis provinsi sehingga akan didapatkan angka konversi untuk masing-masing provinsi. Sebelumnya konversi dilakukan hanya berdasarkan satu musim tanam dan secara nasional. Penyempurnaan ini bertujuan untuk mendapatkan angka konversi yang lebih akurat.

Dalam rapat yang sama yang dipimpin Wakil Presiden juga mendapat penjelasan mengenai pentingnya akurasi statistik beras sangat penting dalam pengambilan kebijakan pangan, karena jumlah produksi beras sangat terkait dengan harga beras di masyarakat.

“Statistik beras yang akurat dapat mengetahui kondisi surplus atau defisit produksi beras agar Pemerintah dapat segera melakukan tindakan yang diperlukan untuk stabilisasi harga beras seperti melakukan operasi pasar atau upaya-upaya lain seperti impor beras,” tutupnya.

(HRM/FIN)





















Sumber : https://fin.co.id/2018/10/23/bps-klaim-produksi-beras-2018-capai-3242-juta-ton/








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL