Kompetensi Utama

Layanan


Jago Manuver di Kawasan Terpencil, Butuh Rp 300 M
Penulis : Juni Armanto • Media : indopos.co.id • 21 Dec 2018 • Dibaca : 1105 x ,

INDOPOS.CO .ID - Dibutuhkan 10 bulan untuk pesawat N219 Amfibi mendapat sertifikat penerbangan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Pesawat pabrikan PT Dirgantara Indonesia (DI) itu butuh waktu 300 jam dan lolos sejumlah rangkaian uji coba untuk selanjutnya dilakukan uji coba terbang pada 2020 mendatang.

Masih banyak yang harus dikerjakan agar Pesawat N219 Amfibi bisa terbang bebas di angkasa. Menurut Lapan, tahun depan pihaknya masih akan melakukan banyak pengembangan.

"Begitu selesai pengembangan float dan peningkatan basic pesawat, maka pada 2022 mulai flight test (uji coba terbang, Red),” kata Kepala Pusat Teknologi Penerbangan Lapan Gunawan Setyo Prabowo dalam Sosialisasi Hasil Feasibility Study Pengembangan N219 Amfibi di Kantor Pusat Teknologi Penerbangan Lapan di Rumpin, Bogor, Jawa Barat, Kamis (20/12).

Diprediksi, pada Agustus 2019 sertifikasi baru rampung. Nah, setelah itu baru proses pengembangan dilakukan. Dua tahun pertama, akan dilakukan pengembangan float yang berguna untuk mengganti roda agar pesawat dapat mengapung di atas permukaan air.

Project Manager Pesawat N219 Amfibi Budi Sampurno menyebutkan, juga akan dilakukan penguatan struktur dasar kapal terbang itu. Karena penambahan sistem float membuat pesawat perlu modifikasi. Tapi ia mengemukakan tidak ada perubahan besar pada struktur pesawat. Karena, jika sampai terjadi perubahan besar maka perlu ada sertifikasi penerbangan ulang, dan itu akan membutuhkan waktu lagi. Budi mengatakan pesawat jenis amfibi ini merupakan modifikasi dari N219, namun bisa landing atau mendarat dan take off atau lepas landas di permukaan air.

Sembari pengembangan float, secara paralel dilakukan peningkatan pada struktur dasar burung besi itu. Kemudian dilakukan konfigurasi antara struktur dasar dan sistem float untuk menciptakan pesawat amfibi. Ia menerangkan pengembangan pesawat N219 amfibi secara total membutuhkan waktu selama empat tahun.

Diperkirakan dibutuhkan dana sekitar Rp 250 sampai 300 miliar dalam pengembangan satu unit pesawat amfibi. Dia mengatakan biaya itu mencakup Rp 200 miliar untuk biaya pengembangan pesawat N219 Amfibi oleh Lapan. Sekitar Rp 50 sampai 100 miliar untuk memberikan daya dukung terhadap implementasi penerbangan pesawat. Ini termasuk simulasi penerbangan dan pelatihan terhadap pilot yang khusus menerbangkan pesawat amfibi yang bisa mendarat di daratan dan perairan.

Budi juga menuturkan kebanyakan pilot yang menerbangkan pesawat amfibi di Indonesia adalah dari orang asing. Oleh karena itu, Indonesia harus memiliki putra dan putri daerah yang mampu mengendalikan dan menerbangkan pesawat amfibi. ”Sebelum melakukan terbang perdana dia harus familiarisasi dengan mesin dan pesawatnya, ” ujarnya.

Untuk pertama kalinya Indonesia akan membuat sendiri pesawat amfibi, sehingga banyak fasilitas pendukung yang diperlukan termasuk penyesuaian dan pembangunan pelabuhan untuk pendaratan di perairan.

Pesawat yang didesain khusus untuk kebutuhan masyarakat Indonesia itu diyakini mampu mendarat di landasan pendek dan mudah dioperasikan di daerah terpencil. Selain itu, N219 juga diklaim memiliki kabin terluas di kelasnya dan serba guna untuk berbagai macam kebutuhan seperti mengangkut barang, evakuasi medis, hingga membawa penumpang. Teknologi Multihop Capability Fuel Tank, juga membuat pesawat itu tidak perlu mengisi ulang bahan bakar untuk melanjutkan penerbangan ke rute berikutnya.

Dari segi kekuatan, tak perlu dipertanyakan. Purwarupa pertama Pesawat N219 memiliki kecepatan maksimum mencapai 210 knot dan minimum 59 knot. Sehingga dengan kecepatan rendah pun pesawat masih bisa terkontrol. ”Ini sangat penting terutama saat memasuki wilayah yang bertebing, pegunungan,” ujar pria yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Program N219 PT DI.

Karena kemampuannya bermanuver di daerah terpencil, membuat peluang bisnis terbuka lebar, terutama pada sektor pariwisata. Sani Sanjaya perwakilan dari Business Development PT DI menerangkan, keunggulannya itu dapat menjadi salah satu transportasi wisatawan yang ingin mengunjungi daerah-daerah di Indonesia yang terpencil dan jauh terpisahkan oleh perairan.

Sani mengatakan wisatawan juga akan dapat menggunakan pesawat amfibi untuk menikmati pemandangan dari atas. ”Keuntungan Pesawat N219 Amfibi bisa mendarat dan lepas landas di atas permukaan air,” tuturnya.

Dia mengatakan banyak potensi pariwisata di daerah yang bisa menjadi daya tarik bagi turis. Namun karena aksesibilitas yang sulit sehingga potensi itu belum dapat dikembangkan secara optimal. ”Untuk itu, pesawat amfibi hadir sebagai solusi transportasi yang jauh lebih nyaman, cepat dan mudah untuk mengantarkan wisatawan terutama ke daerah pesisir dan pantai yang masih sulit transportasi airnya,” jelasnya.

Pemerintah juga akan sangat terbantu dalam misi-misi penyelamatan yang dilakukan Badan SAR Nasional dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Selain itu, pesawat amfibi itu juga dapat digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia dan Badan Keamanan Laut Republik Indonesia untuk tujuan pengawasan.

Pesawat amfibi juga dapat menjadi solusi transportasi yang lebih efektif dibandingkan angkutan air lain seperti perahu di sejumlah wilayah di Indonesia termasuk Kepulauan Riau dengan wilayahnya yang mencakup 96 persen perairan dan empat persen daratan.

Selain itu, Sani menuturkan pesawat amfibi juga dapat digunakan untuk memberikan pelayanan kesehatan darurat bagi tempat-tempat yang sulit dijangkau pelayanan kesehatan lewat jalur darat. ”Tenaga medis dapat dikirimkan untuk pengobatan warga di suatu daerah sehingga jangkauan pelayanan kesehatan bisa lebih luas untuk kepentingan masyarakat,” tandasnya. (ant)








Sumber : https://www.indopos.co.id/read/2018/12/21/159622/jago-manuver-di-kawasan-terpencil-butuh-rp-300-m








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL