Kompetensi Utama

Layanan


4 Fakta Dentuman Misterius Hebohkan Warga, dari Roket LAPAN hingga Erupsi Gunung Anak Krakatau
Penulis : Edt. Didik Trio • Media : tribunnews.com • 26 Dec 2018 • Dibaca : 1267 x ,

BANJARMASINPOST.CO.ID - Warga di wilayah Bandung, Cianjur, Karawang, Purwakarta, dan Sukabumi heboh. Menyusul terdengarnya suara dentuman misterius, Selasa (25/12) siang. Bahkan suara dentuman misterius itu juga terdengar jelas di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel). Suara dentuman misterius itu mengundang tanya warganet.

Warganet meminta Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), untuk menjelaskan misteri suara dentuman keras tersebut. Salah satunya adalah netizen berinisial Buldan Mubarok. Ia meminta informasi kepada BMKG terkait suara dentuman misterius itu yang sampai menghebohkan warga Cianjur.

“Mohon penjelasannya dari pihak BMKG bahwa di Cidaun, Cianjur selatan Kab. Cianjur warga digegerkan dengan suara dentuman keras dari semalam sampai saat ini, dan warga belum mendapat penjelasan dari mana asal suara tersebut...!!

1. LAPAN Coba Roket

Dilansir dari Tribunjabar.com, diperkirakan suara dentuman misterius itu berasal dari peluncuran roket yang diujicoba oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Kegiatan peluncuran roket dilakukan LAPAN di wilayah Pameungpeuk, Garut. Wilayah tersebut memang sudah biasa dijadikan lokasi peluncuran roket oleh LAPAN.

Dandim 0611 Garut, Letkol Asyraf Azis membenarkan jika LAPAN melakukan uji terbang roket. LAPAN pun telah mengirim surat ke Kodim Garut untuk memberitahukan uji terbang tersebut.

“Kami terima surat tertanggal 19 Desember 2018 dari LAPAN. Isinya pemberitahuan kegiatan uji terbang roket RX-1220 dan RX-450,” kata Asyraf.

Menurut Asyraf, kegiatan uji terbang roket itu dilakukan sebanyak dua kali. Dalam surat pemberitahuan, uji terbang roket RX-1220 dilakukan pada Minggu (23/12) pukul 05.00 WIB sampai 13.00 WIB. Sedangkan uji terbang roket RX-450 akan dilakukan pada Kamis (27/12) pukul 06.00 WIB sampai 10.00 WIB.

Saat ditanya terkait suara dentuman misterius yang didengar warga, Asyraf tak bisa memastikan. “Yang jelas kalau dari surat itu, kegiatan dilaksanakan hari Minggu. Kemudian nanti Kamis ada lagi,” ucapnya.

2. Bukan Gunung Anak Krakatau

Kasubbid Mitigasi Bencana Gunung Api Wilayah Barat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kristianto memastikan suara dentuman misterius yang terdengar di wilayah Cianjur dan Sukabumi itu bukan berasal dari Gunung Anak Krakatau.

“Kami tidak yakin itu berasal dari Gunung Anak Krakatau. Sejak semalam, dari pos pemantauan Gunung Anak Krakatau yang berjarak 42 kilometer saja suara gemuruh dari erupsi Gunung Anak Krakatau masih terdengar. Tapi itu pun tidak terdengar keras,” kata Kristianto, Selasa (25/12).

Kristianto menjelaskan, dentuman terkeras yang bahkan bisa menggetarkan kaca-kaca di pos pemantauan Gunung Anak Krakatau di Carita, Jawa Barat pernah terjadi pada September dan Oktober 2018.

“Yang lumayan agak keras dan sampai menggetarkan kaca itu saat September dan Oktober (2018),” ujarnya.

Kristianto mengakui timnya tidak bisa turun langsung ke Gunung Anak Krakatau karena gelombang laut yang tinggi. Sampai saat ini pun tidak ada nelayan atau perahu yang berani melaut karena gelombang tinggi dan angin yang cukup kencang. “Kalau gelombang tinggi saat ini menghambat kami untuk memantau langsung ke sana,” ujarnya.

Selain itu, hujan deras juga timbul tenggelam di sana. “Kadang hujan mendadak deras kadang berhenti. Tapi lumayan mendung,” ujarnya.

3. Gunung Anak Krakatau Alami Erupsi

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG Sri Hidayati mengatakan, berdasarkan analisis sementara, Gunung Anak Krakatau sebelum tsunami mengalami erupsi dan berfluktuasi secara terus menerus sejak Juni 2018. Namun erupsi itu mengalami peningkatan intensitas yang signifikan.

“Tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 kemungkinan besar dipicu oleh longsoran atau jatuhnya sebagian tubuh dan material Gunung Anak Krakatau (flank collapse), khususnya di sektor selatan dan barat daya. Masih diperlukan data tambahan dan analisis lebih lanjut untuk mengetahui apakah ada faktor lain yang berperan,” jelasnya.

4. Cuaca Ekstrem

Upaya pencarian korban terus dilakukan. Pencarian korban dilakukan baik di darat ataupun laut. Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Muhammad Syaugi, mengatakan pencarian sempat terhambat cuaca ekstrem seperti ombak yang tinggi di laut dan bibir pantai.

“Yang jelas itu cuaca, ombak cukup tinggi di laut itu ombak cukup tinggi dan hujan deras. Seperti tadi, saya hanya bisa sampai Tanjung Lesung, ke Selatan lagi tidak bisa karena cuacanya buruk,” kata Syaugi.

Dalam evakuasi korban, Syaugi menjelaskan jajarannya kali ini akan memfokuskan pencarian korban di kawasan Labuan, Kabupaten Pandeglang.

“Tadi kami sudah dari Anyer, Carita sampai Tanjung Lesung. Nah, sekarang fokusnya di sini (Labuan), untuk memastikan dan menyakinkan tim SAR gabungan ini khususnya Basarnas melakukan evakuasi cepat dan benar,” kata Syaugi. (tribun network/kompas.com/tim)









Sumber : http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/12/26/4-fakta-dentuman-misterius-hebohkan-warga-dari-roket-lapan-hingga-erupsi-gunung-anak-krakatau?page=3.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL